Menyoal Zakat Profesi

Oleh :
Bisri Mustofa, S.Ag
Penulis adalah Guru PAI SDN Tanggulangin 2 Tegalampel dan Sekretaris KKG PAI Kabupaten Bondowoso

Akhir-akhir ini, muncul sebuah istilah yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat yakni mengenai zakat profesi.Bahkan pemerintah berencana mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk menarik zakat profesi sebesar 2,5 % bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang muslim. Kitapun bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan zakat profesi?.Sebab istilah tersebut tidak dikenal pada zaman ulama 4 mazhab, namun baru muncul pada tahun 1980an. Lantas bagaimana pandanganIslam tentang zakat profesi?
Zakat Dalam Islam
Islam sebagai agama yang paripurna tentulah mengatur segenap aspek kehidupan manusia. Dalam kitab sucinya (al Qur`an) dan juga hadits-hadits Nabi Muhammad SAW termaktub panduan hidup manusia, baik hubungan antara manusia dengan Tuhannya (ibadah), hubungan manusia dengan manusia lainnya (muamalah) ataupun hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Dalam Islam kita mengenal ada dua macam ibadah yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah yang murni hanya berhubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya semisal wudu, solat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Sedangkan ibadah ghoiru mahdhoh adalah ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Tuhannya, juga merupakan hubungan antara hamba dengan makhluk lainnya seperti shodaqoh, infaq, qurban, tolong menolong dan lain sebagainya.
Dalam kitab-kitab mu`tabaroh dijelaskan secara gamblang bahwa zakat terbagi menjadi dua yaitu zakat jiwa (fitrah) dan zakat harta (maal). Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap muslim yang mempunyai kelebihan harta (bisa berupa bahan pokok atau uang) pada malam idul fitri dan keesokan harinya. Zakat fitrah ini dikeluarkan hanya satu kali setahun yakni pada bulan Ramadhan. Sedangkan zakat maal adalah zakat yang dikenakan pada harta tertentu yang telah mencapai satu nishab (ukuran batas minimun wajib zakat) dan dimiliki selama 1 tahun (haul). Adapun harta yang wajib dikeluarkan zakatnya antara lain : pertanian, perdagangan, buah-buahan, binatang ternak, emas dan perak, hasil tambang dan harta temuan. Namun pada tahun 1980an, muncul istilah zakat profesi (penghasilan) sebagai salah satu obyek wajib zakat yang dipopulerkan oleh Syekh Yusuf al Qardlowi.
MENGENAL ZAKAT PROFESI
Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-maal al-mustafaad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contoh profesi yang ada di masyarakatkita antara lain pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen dan sejenisnya.
Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang hukum zakat profesi. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nisab dan sudah sampai setahun (haul).Namun para ulama mutaakhirin seperti Syekh Abdurrahman Hasan, Syekh Muhammad Abu Zahro, Syekh Muhammad Al-Ghazali, Syekh Abdul Wahhab Khalaf, Syekh Yusuf Al Qardlowimenegaskan bahwa zakat penghasilan (profesi) itu hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan firman Allah Swtdalam surah at Taubah ayat 103 : “… Ambillah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah 9:103) dan surah al Baqarah ayat 267 : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…”. Adapun hujjah yang berupa hadits,mereka dasarkan pada sebuah hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Keluarkanlah olehmu sekalian zakat dari harta kamu sekalian”.
Di Indonesia sendiri, yang mendukung adanya zakat profesi antara lain DR. KH Didin Hafidhuddin, M.Sc, Majelis Tarjih Muhammadiyah melalui Keputusan Munas Tarjih XXV tahun 2000 serta fatwa MUI nomor 3 tahun 2003.
ZAKAT PROFESI : SEBUAH PILIHAN
Menurut Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaefuddin bahwa zakat profesi yang coba digulirkan oleh pemerintah bersifat opsional. Artinya bagi ASN muslim yang bersedia, maka tiap bulannya akan dikenakan potongan zakat, sedangkan bagi yang berkeberatan, maka tidak akan ada potongan zakat.
Namun secara pribadi, penulis mengajak untuk mengkomparasikan penghasilan seorang ASN dengan petani. Seorang petani akan dikenakan zakat dari hasil pertaniannya ketika panen gabahnya mencapai nishab yaitu 1,6 ton (lihat Fath al Qadr karangan KH Ma’shum Ali Jombang).Ukuran nishab pertanian yang dikonversikan ke dalam ukuran berat di Indonesia (Kg) memunculkan beberapa perbedaan jumlah yang wajib dizakati. Seandainya saat panen harga gabah Rp 4.000/kg, berarti petani yang menjual gabahnya seharga Rp 6.400.000,00 maka ia diwajibkan mengeluarkan zakat pertaniannya. Itupun diperoleh setelah menunggu selama 3 bulan.Berarti perbulannya seorang petani memperoleh hasil sekitar Rp 2.150.000,00.
Sementara itu, saat ini gaji ASN tiap bulannya berkisar antara Rp 2.500.000,00 ke atas/bulan. Selama 3 bulan,seorang ASN akan mendapatkan gaji senilai Rp 7.500.000,00. Itu artinya gaji ASN selama 3 bulan, lebih banyak dari hasil panen petani yang dikenai zakat pertanian. (Mari kita renungkan bersama).
Terlepas dari pengelolaan zakat yang saat ini masih menyisakan beberapa permasalahan, wacana digulirkannya zakat profesi harus kita dukung bersama. Karena tujuannya jelas yaitu untuk membantu meringankan beban para mustahik dan menumbuhkan kepedulian kita pada kaum papa.
Akhirnya, penulis kutipkan pernyataan seorang penulis terkenal dari Mesir, Muhammad Ghazali dalam bukunya Al-Islam waAudla’una al-Iqtishadiyyah: “Sangat tidak logis kalau tidak mewajibkan zakat kepada kalangan profesional seperti dokter dan semisalnya yang penghasilannya sebulan bisa melebihi penghasilan petani setahun”.
Secara pribadi, penulis mendukung adanya zakat profesi. Bagaimana dengan anda???.
Wallaahu a`lam bishshowaab.

Rate this article!
Menyoal Zakat Profesi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: