Memetik Pesan Tragedi Rock Melon

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Baru-baru ini, masyarakat digegerkan dengan penemuan bakteri berbahaya di dalam Buah Rock Melon asal Australia yang mengakibatkan setidaknya 4 warga Australia meninggal. Konon rock melon tercemar bakteri listeria monocytogenes dimana suatu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Listeriosis merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh bakteri listeria monocytogenes. Infeksi listeria juga dapat menyebabkan keguguran pada perempuan hamil. Menurut referensi bakteri listeria monocytogenes merupakan salah satu penyebab penyakit yang serius dengan tingkat kematian sekitar 20-30 persen. Tingkat kematian di antara bayi yang baru lahir yang terinfeksi L. monocytogenes adalah 25-50 persen.
Dengan tingkat patogenitas yang berbahaya maka pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus bersinergi untuk mengantisipasi potensi penyebaran penyakit mematikan tersebut. Memang kejadian tersebut masih jauh dari wilayah tanah namun melihat masifnya buah impor hampir di seluruh tanah air bahkan tersedia di sepanjang jalan maka jika tidak waspada maka tidak menutup kemungkinan akan menimpa masyarakat tanah air.Kondisi tersebut diperparah dengan sifat epidemis penyakit yang kian menyebar secara cepat melewati antar negara bahkan benua. Dewasa ini kejadian wabah atau kasus luar biasa suatu penyakit lintas negara sehingga kewaspadaan ekspor-impor pangan terutama buah haruslah diperketat.
Sumber penularan listeria monocytogenes dapat terjadi pada beberapa aspek mulai dari pemilihan makanan, pengolahan, hingga tingkat penyajian. Pada pemilihan makanan penularan biasanya terjadi pada produk seperti susu keju, es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah, jenis daging mentah, dan ikan mentah atau ikan asap. Pada saat pengolahan makanan, juga dapat terjadi penularan jika menggunakan alat masak yang telah terkontaminasi L. Monocytogenes.
Sedangkan aspek pencegahan agar terhindar dari infeksi bakteri Listeria antara lain : pertama, dengan membilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak. Bahkan jika hasil tersebut sudah dikupas, tetap harus dicuci terlebih dahulu. Kedua, menggosok produk hasil pertanian, seperti melon dan mentimun, dengan menggunakan sikat bersih sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain bersih atau kertas. Ketiga memisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, makanan matang, dan makanan siap-saji. Keempat, mencuci peralatan masak, berupa alat atau alas pemotong, yang telah digunakan untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum digunakan pada produk makanan lainnya; serta Lima mencuci tangan menggunakan sabun sebelum mengolah makanan, dan saat akan makan.
Kembali ke Buah Lokal
Pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil dalam kejadian ini adalah momentum untuk kembali menggerakan untuk mengkonsumsi buah lokal yang secara citra rasa, eksotisme (kekhasan), keamanan, kemudahan budidaya, harga yang terjangkau serta adaftif mendongkrak perekonomian masyarakat lokal. Saatnya buah lokal dijadikan idola konsumsi buah bagi masyarakat kekinian. Meskipun gerakan produksi dalam negeri gencar digalakan pemerintah namun realitanya jauh panggang dari api. Apalagi kini dihadapkan pada masyarakat yang cenderung serba pragmatis, instan dan hedonis sehingga acapkali kurang efektif di lapangan.
Di sisi lain, dibalik serbuan produk impor terutama buah-buahan yang memiliki tampilan menarik, terjangkau namun perlu dipertanyakan keamanannya. Fenomena produk tanaman transgenik misalnya, dimana upaya untuk mempercepat produksi dengan cara merekayasa genetika melalui modifikasi genetika. Rekayasa genetika untuk memperbaiki sifat-sifat yang diinginkan seperti meningkatkan resistensi terhadap pestisida, hama, kekeringan.Tanaman yang dihasilkan melalui teknik rekayasa genetika dapat diproduksi dalam waktu yang singkat, sehingga produktivitasnya menjadi lebih baik.
Kelemahan
Harus diakui, eksistensi buah lokal masih kalah dengan buah impor karena kurang tersedianya benih berkualitas dalam jumlah memadai, lemahnya kegairahan petani baru untuk produk buah-buahan, kurang memadainya infrastruktur logistik buah. Selain itu ditambah lagi dengan adanya perubahan perilaku konsumen yang semakin menyukai produk impor. Karena buah impor yang semakin mudah dan murah. Hal ini juga menunjukan kekurangberpihakan kebijakan fiskal terhadap buah lokal Indonesia. Selain itu faktor minimnya minat konsumen dan ketersediaan buah lokal terutama di pasar modern juga menjadi penyebab produk dalam negeri kalah bersaing. Buah impor khususnya dari China, Australia, Pakistan dinilai memiliki produk berkualitas, baik, dan harganya sangat terjangkau.
Ekspor buah nasional terdiri atas manggis, nanas, mangga dan rambutan yang umumnya sangat tergantung musim.Kaum petani kurang bisa mempertahankan kualitas buah secara seragam dan kontinu. Selain itu, Indonesia tidak memiliki perkebunan buah nasional, melainkan skala kecil yang dikelola petani, sehingga tidak bisa dihitung secara pasti dalam hektar seperti negara lain. Padahal konsumsi buah di dalam negeri termasuk tinggi, mencapai 18,5 juta ton per tahun. Kendala alamiah produksi akibat dua musim yang dimiliki Indonesia membuat buah tidak bisa secara reguler tak dapat dipasok setiap saat. Kondisi inilah yang menyebabkan kurang bersaingnya buah lokal, meski sebenarnya secara natural buah-buahan di Indonesia jelas sangat berbeda dan memiliki eksotisme dan kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara lain.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: