Isu Gempa Ibukota

Prakiraan bencana gempa besar di ibukota negara (Jakarta), dinyatakan bukan untuk informasi publik. Melainkan sekadar buku teori ilmiah ke-gempa-an yang disusun ahli gempa sebagai pengetahuan terbatas kalangan pemerintah. Buku potensi gempa tergolong strategis sebagai pertimbangan menyusun kebijakan tataruang dan wilayah. Namun ironis, buku gempa di-viral-kan secara tidak tepat. Bahkan menjadi “konsumsi” politik, dan kegaduhan sosial.
Tiada ahli (gempa tektonik) yang bisa meramal waktu datangnya gempa. Namun peta potensi gempa perlu disusun sebagai upaya mitigasi (kesiagaan dampak). Karena itu pemerintah (melalui Pusat Studi Gempa Nasional-PUSGEN), menerbitkan buku bertajuk “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia.”Buku yang diterbitkan pada tahun 2017, merupakan hasil telaah pakar gempa dari berbagai perguruan tinggi.
Buku peta potensi gempa digagas oleh BMKG (Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika) bersama kementerian dan lembaga negara terkait. Termasuk Basarnas, dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Peta potensi, akan disosialisasikan oleh BPBD di masing-masing daerah. Selain sebagai mitigasi bencana, juga sebagai pedoman penataan pembangunan infrastruktur di daerah. Antaralain ketinggian bangunan pada daerah terdekat potensi gempa.
Jakarta, bukan termasuk daerah yang berada pada pusat rangkaian sabuk gempa tektonik. Namun berada pada jarak cukup dekat dengan pusat gempa, yang berada di selat Sunda. Bisa terdampak gempa besar (mega-thrust) berkekuatan 8,7 SR (Skala Richter). Hampir setara dengan gempa yang menimbulkan tsunami Aceh, tahun 2004. Pusat gempa di selat Sunda, tergolong “purba” dan pernah menggoyang kawasan Ujung Kulon pulau Jawa.
Isu viral gempa di Ibukota, berasal dari pernyataan Kepala BMKG dalam sarasehan. Diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA), ditampilkan makalahbertajuk “Gempabumi Megathrust Magnitudo 8,7. Siapkah Jakarta?”Sumber gempa besar berpusat di Selat Sunda,lokasi pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia.Pusat gempa di barat Lebak (Banten), sekitar 300 kilometerbarat Jakarta.
Namun prakiraan gempa yang dipapar, sebenarnya bukan hal baru.Pada bulan Mei 2011, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) telah melansir potensi gempa di selat Sunda, melalui ahli gempa Dani Hilman. Informasi yang sama juga pernah dipaparkan kalangan istana ke-presidenan. Pada tahun 2011, Staf Khusus Presiden (SBY) Bidang Sosial dan Bencana, Andi Arief, bercerita tentang gempa 8,7 SR bisa mengguncang Jakarta.
Magnitudomega-thrust (8,7 SR), niscaya diperoleh berdasar estimasi (prakiraan). Yakni perhitungan kalkulasi geometri.Dihitung pula kedalaman dan penunjaman. Konon arah tumbukan dua sabuk lempenggempa berjalan sejauh 60-70 milimeter per-tahun. Namun tetap tidak mudah memperkirakan waktu persis tumbukan (terjadinya gempa). Karena perjalanan (pendekatan) kedua sabuk lempeng gempa bisa berbelok.
Sehingga saat datangnya bencana gempa tektonik, diyakini sebagai takdir. Bagai “kiamat kecil.”Selain sebagai mitigasi bencana, pra-kiraan bencana alam besar gempa bumi juga menarik perhatian kalangan sineas (per-film-an). Misalnya film berjudul “San Andreas.”Sangat laris sejak dirilis pada bulan Mei 2015 di Amerika Serikat (AS).
“San Andreas,” merupakan sabuk lempeng gempa tektonik dahsyat.Simulasi komputer ke-gempa-an menaksir kekuatan magnitude gempa, maksimal 8,3 SR. Namun dalam film di-dramatisir sampai 9,6 SR. Dampak gempa dahsyat sampai menggempur ikon perfilman dunia, di markas Hollywood, roboh. Jembatan “Golden Gate” juga ambruk dilahap tsunami, termasuk kendaraan (dan penumpang) yang sedang melintas.
Mitigasi bencana, seyogianya tidak sembarang dipapar, karena bisa memicu kecemasan masyarakat luas. Toh sejak lama, cerita gempa menjadi warning, bahwa manusia tidk akan mampu melawan murka alam.

——— 000 ———

Rate this article!
Isu Gempa Ibukota,5 / 5 ( 1votes )
Tags: