Tak Hanya Salat Khusuf, Tapi Juga Belajar Ilmu Astronomi

Fenomena gerhana bulan super blue blood moon menjadikan keistimewaan tersendiri dan memberikan pendidikan untuk para santri di pondok pesantren. [alimun hakim]

Saat Santri Menyambut Gerhana Bulan

Kabupaten Lamongan, Bhirawa
Sore itu, awan hitam menggelayut menyelimuti Kabupaten Lamongan. Tak lama, hujan pun deras membasahi bumi Jaka Tingkir. Tentunya, hujan yang cukup deras ini diharapkan para santri Pondok Pesantren Nurul Huda di Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan segera mereda. Sebab malamnya, mereka ingin belajar ilmu falak bertepatan dengan fenomena gerhana bulan super blue blood moon.
Ya, pada 31 Januari 2018, di Indonesia sedang terjadi fenomena gerhana bulan super blue blood moon. Fenomena langka ini ingin dimanfaatkan ratusan santri untuk belajar ilmu falak atau ilmu astronomi bersama Kementerian Agama (Kemenag) Lamongan dan Lajnah Falakiah Nahdlatul Ulama Lamongan.
Harapan santri yang ingin hujan segera reda mendapat rido dari Allah SWT. Hujan reda menjelang adzan maghrib tiba dan cuaca langit begitu cerah membuat para santri bergegas menggelar terpal di halaman pondok. Juga menyiapkan proyektor, layar LCD lebar dan peralatan teleskop ditata para santri di depan samping kanan sebelah mimbar dan tempatnya imam salat.
Jadwalnya, para santri beserta pengasuh Ponpes Nurul Huda bakal melaksanakan salat jama’ah maghrib, salat isya, salat gerhana bulan atau salata khusuf dan doa bersama, yang kemudian di tutup dengan ‘Sinau Bareng Astronomi’. Masyarakat mulai anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak memenuhi shof untuk segera melasanakan jamaah salat isya.
Tepat pukul 19.00 WIB gerhana bulan di langit yang cerah mulai terlihat. Sedikit demi sedikit bulan purnama menjadi gelap, hitam pekat menggerus dari bawah. KH Suudil Azka pengasuh Ponpes Nurul Huda usai memimpin salat maghrib berjamaah melanjutkanya dengan salat isya berjamaah di halaman ponpes yang sudah digelar lebar dengan alas terpal dan sajadah. Usai salat isya kemudian di lanjut dengan salat gerhana bulan dan di tutup dengan ceramah dan doa bersama dengan para santrinya.
Setelah doa bersama Kiai Suudil Azka menuturkan, pada intinya baik itu fenomena gerhana bulan total dan gerhana matahari adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. “Kita menngkap sebagai nilai rohaniah untuk mempertajam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Maka dari itu kita melaksanakan Sholat gerhana bulan berjamaah dan doa bersama untuk di berikan keselamatan di dunia dan di ahirat kelak nanti,” jelasnya.
Kiai Suudil Azka menjelaskan, apa yang dilakukan di pondonya adalah untuk menambah pengetahuan para santri. Selain itu untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan serta menambah wawasan dan ilmu di bidang Falak (astronomi).
Sementara itu, Ketua Lajnah Falakiyah NU Lamongan, Khoirul Anam hadir di tengah para santri dan bersiap diri dengan peralatanya untuk mengabadikan fenomena super blood moon. “Gerhana bulan total kita lihat sekitar pukul 19.40 WIB dan audah kita bisa mwlihat warnanya yang kemerah merahan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, pihaknya memang telah merencanakan untuk menggelar observasi pendidikan astronomi, dengan menggunakan alat bantu teleskop dan teodolite. Yang mana bisa mengamati pergerakan proses gerhana bulan dan jarak berapa ketinggianya.
“Siklus ini tidak bisa di tentukan waktunya kapan. Yang pasti bawa jika garis edar antara matahari, bumi dan bulan sama, maka terjadilah gerhana. Karena ini fenomena alam yang tidak setiap tahunya terjadi,” ungkapnya.
Menurut dia, gerhana bulan juga bakal terjadi pada 27 Juli 2018 nanti, Namun bedanya, pada Juli nanti gerhana bulan biasa tidak seistimewa pada 31 Januari yakni super blue blood moon. “Saya sangat mengapresiasi para santri yang mau belajar ilmu falak. Ini adalah upaya Kemenag dan Lajnah Falakiyah NU Lamongan untuk memberikan pendidikan bagi para santri,” pungkasnya. [Alimun Hakim]

Tags: