Menguji Keahlian Calon Seniman Lulusan SMK

Pertunjukan seni teater siswa SMKN 12 Surabaya sebagai ujian untuk syarat kelulusan siswa kelas XII.

Belum Miliki Skema Sertifikasi Profesi

Surabaya, Bhirawa
Pertunjukan teater bertema Boncel menutup hari pertama pementasan siswa SMKN 12 Surabaya di Taman Budaya Cak Durasim, Selasa (13/2) malam. Sebanyak 20 siswa terlibat sebagai pemeran dalam pertunjukan berdurasi sekitar 30 menit tersebut.
Pementasan cerita rakyat dari Jawa Barat itu sesungguhnya bukanlah pertunjukan untuk menghibur. Para pemain sedang menghadapi ujian sebagai tugas akhir sebelum dinyatakan lulus oleh sekolah. Singkat cerita mengenai Boncel adalah tentang seorang anak dari keluarga tidak mampu. Suatu hari kelak, dia pergi meninggalkan desa, rumah dan kedua orangtuanya. Boncel pun tumbuh menjadi seorang kaya yang terhormat dan berpangkat. Menjadi seorang demang di sebuah wilayah.
“Cerita akhirnya, si Boncel itu bertemu dengan orangtuanya tapi tidak diakuinya. Boncel kalab dan mengusir keduaorangtuanya,” tutur Eko Prasetyo pemeran Boncel ditemui usai turun panggung. Setelah kalab, lanjut Eko, Boncel sadar yang dilakukannya salah. Namun sayang, sang orangtua telah tiada.
Eko menuturkan, tampil di pentas bukanlah pertama kalinya dia lakukan. Selama tiga tahun bersekolah, dia sudah beberapakali tampil dalam pertunjukkan seni teater. Kendati demikian, ujian ini tetap bukanlah momen sembarangan. Sebab, sebagai pemain dia juga harus menyiapkan seluruh tata artistik maupun pemeranan. “Waktu persiapan sekitar satu bulan ini. Kita tidak hanya menampilkan teater tradisi, tapi juga mengemasnya menjadi lebih modern,” tutur Eko.
Vincentcius Natan Raliyanta yang berperan sebagai bapak Boncel tampil totalitas malam itu. Dia mengungkapkan, ujian ini menjadi pertaruhan baginya agar bisa tetap terjun di dunia kesenian. Vincent mengaku, dalam dunia pertunjukkan banyak keahlian dan banyak tenaga yang harus terlibat.
“Semisal tata artistik, itu sudah meliputi pemilihan latar panggung, alat peraga, kostum, tata rias, tata busana, dan pencahayaan. Selain itu, kita juga harus memahami pemeranan. Seorang aktor harus masuk ke dalam cerita, bukan sebaliknya,” tutur Vincent.
Dalam ujian tersebut, pertunjukkan mereka disaksikan langsung oleh dewan juri dari praktisi seni. Tidak hanya itu, keluarga, teman, alumni, guru dan kepala sekolah juga seksama menyaksikannya. “Penampilan kami juga banyak didukung adik-adik kelas. Mereka yang membantu menyiapkan properti dan musik latarnya,” tandasnya.
Kepala SMKN 12 Bhiwara Sakti Pracihara menuturkan, Uji Kompetensi Keahlian (UKK) merupakan kewajiban bagi para siswa SMK yang duduk di bangku kelas XII. UKK sendiri dapat dilakukan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak-1 (LSP-P1) yang dimiliki sekolah. Namun, khusus untuk sejumlah jurusan pada seni pertunjukan ini belum memiliki skema yang dapat diujikan. Karena itu, sekolah menggelar ujian secara mandiri dengan melibatkan praktisi seni dari berbagai unsur.
“Kita juga kedatangan peserta UKK dari salah satu SMK di Blitar. Sekolah tersebut baru pertama ini meluluskan siswa, jadi ujiannya menggabung dengan SMKN 12,” tutur Praci.
Dalam UKK seni pertunjukkan itu yang diujikan antara lain, seni teater, seni musik klasik, seni pedalangan, seni karawitan dan seni tari. Masing-masing belum memiliki skema yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Praci mengaku, UKK bagi jurusan seni cukup menguras tenaga dan biaya. Sebab, para peserta ujian membutuhkan tempat yang representatif selama mereka menjalankan ujian. Seperti panggung, pencahayaan dan peredam suara. “Kita di sekolah punya gedung teater. Tapi pencahayaannya kurang bagus dan tidak ada peredam suara. Jadi kalau kena pengeras suara bisa memantul,” terang dia.
Lokasi yang representative, kata dia, akan menunjang totalitas siswa selama menampilkan pementasan.
“Mereka tidak mau kalau pentas kemudian banyak gangguan teknis di teaternya. Makanya kita memilih tempat ini (Cak Durasim),” pungkasnya. [tam]

Tags: