Gus Ipul Perjuangkan Petani Tembakau, Kebijakan Wong Cilik Dilanjutkan

H Saifullah Yusuf, Calon Gubernur Jatim bersama Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI), Joko Wahyudi menunjukkan penandatanganan komitmen terkait perhatian dan pengembangan usaha petani tembakau di Jawa Timur, Jumat (9/2).

Pasuruan, Bhirawa
Calon Gubernur Jatim, H Saifullah Yusuf terus memantapkan suaranya di Pilkada Jatim. Pria asli Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini memperkuat target pada suara potensial dari kalangan petani tembakau di Jawa Timur. Itu diketahui setelah Gus Ipul panggilan akrabnya menyerap aspirasi petani tembakau, pada acara sarasehan dengan Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI), di Cottage Saygon Waterpark, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jumat (9/2).
H Saifullah Yusuf menyatakan akan berjuang penuh untuk petani tembakau, supaya keberlangsungan usahanya bisa maju dan sejahtera. Nantinya, petani tembakau diarahkan ke pola pengembangan kemitraan dengan pabrik rokok. “Akan kami perjuangkan sekuat tenaga untuk kesejahteraan petani tembakau di Jawa Timur. Terutama terkait undang-undang kebijakan impor. Makanya, nanti ada yang di Jakarta hingga juga ada yang disini,” ujar Gus Ipul.
Menurut Cagub yang berpasangan dengan Puti Guntur, adapun konsep kemitraannya untuk keniscayaan petani tembakau. Karena, selain lebih terjamin pemasarannya, harga tembakau yang dihasilkan petani juga lebih stabil dan tinggi.
“Yang perlu diketahui yakni dunia pertembakauan ini melibatkan banyak orang. Ada 2,6 juta mulai hulu hingga hilir. Kami bersama Mbak Puti, wajib melanjutkan kebijakan-kebijakan yang berpihak dengan wong cilik, mulai dari petani sampai mereka yang bekerja di industri rokok,” terang Gus Ipul.
Saat ini, perolehan cukai rokok secara nasional tahun 2016, sebesar Rp 143 triliun. Dari besaran jumlah tersebut, Jawa Timur menyumbang 77,74 triliun atau setara 54,7 persen. “Tak hanya mendapat dukungan dari paguyuban petani tembakau, tadi kami juga melakukan penandatanganan komitmen terkait perhatian dan pengembangan usaha petani tembakau di Jawa Timur. Salah satu komitmennya adalah meningkatkan mutu dan produksi tembakau, menyusul produksi tembakau masih mencukupi 65 persen kebutuhan tembakau nasional,” tambah Gus Ipul.
Alami Penurunan
Sementara itu, Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI), Joko Wahyudi menyampaikan petani tembakau saat ini kondisi produksinya mengalami penurunan. Bahkan, banyaknya pengepul tembakau membuat mereka semakin terburuk. Yang lebih ironi, secara nasional terjadi penurunan produksi tembakau hingga mencapai 30 persen
“Penurunannya hingga mencapai di level produksi hingga 30 persen. Karena, banyaknya pengepul tembakau. Sehingga terjadi penurunan produksi hingga tekanan kepada konsumen. Hal itulah menjadi hal mendasar terpuruknya petani,” kata Joko Wahyudi.
Memang pabrikan lebih memilih memproduksi rokok jenis SKM, karena lebih efisien dan tidak terlalu menyerap tenaga kerja. Namun, persoalan mendasar yang dialami petani tembakau adalah praktek permainan spekulan. “Di lapangan saat ini terdapat empat pengepul, hingga tembakau dapat berada di dalam gudang pabrik rokok. Pengepul-pengepul itu ingin mendapatkan untung. Padahal yang menanam petani, seharusnya ini bisa dinikmati langsung petani. Praktik itulah yang kami dipastikan akan terus berlangsung dan menekan nasib petani tembakau,” tambahnya.
Untuk memutus rantai pengepul itu, pihaknya terus gencar mendorong konsep kemitraan ke pemerintah. Hal itu untuk menjadi sebuah kebijakan, sehingga bersifat mengikat. “Sistem kemitraan pasti akan menguntungkan. Tidak ada alasan bagi pengusaha untuk menolak pemerintah. Sistem kemitraan seperti ini sudah ada dan patut di contoh, seperti di kawasan di Pasuruan,” cetus Joko Wahyudi. [hil]

Tags: