Guru dan Kemajuan Bangsa

Oleh :
Fileksius Gulo
Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; sekarang menjabat sebagai Kepala Divisi Litbang UKPM natas Universitas Sanata Dharma. 

Indonesia kembali dikejutkan dengan tragedi kemanusiaan dalam dunia pendidikan. Sebagaimana dikabarkan bahwa ada murid yang memukuli gurunya hingga berujung pada kematian. Adapun jenazah Ahmad Budi Cahyono,guru SMAN 1 Torjun (SMATor), Kabupaten Sampang yang meninggal usai dipukul siswa, akhirnya dikebumikan, Jumat (2/2/2018). Diberitakan ribuan pelayat ikut mengantar dari rumah duka ke pemakaman umum Desa Jrengik, Kecamatan Jrengik, Sampang.Hadir dalam pemakaman itu Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Saiful Rachman serta guru dan siswa-siswanya.
Seperti diketahui. insiden penganiayaan itu terjadi saat Budi yang menjadi guru tidak tetap (guru honorer) di sekolah itu mengajar melukis untuk kelas IX dengan cara berkelompok di teras depan kelas.Ketika pelajaran berlangsung dan siswa konsentrasi melukis, seorang siswa berinisial MH malah asyik mengganggu teman-teman dan kelompok lain.Melihat tindakan pelaku, korban menegur dan meminta kembali ke tempatnya mengerjakan tugas yang diberikan.Tapi pelaku tetap mengganggu, sehingga korban memperingatkan.
Jika pelaku masih tetap mengganggu temannya, maka wajah pelaku akan diolesi cat lukis.Karena masih tetap mengganggu, lalu korban mendekati pelaku dan memoleskan kuas ke wajahnya.Entah tidak terima dengan sanksi dari korban atau dirasuki rasa marah, kemudian pelaku berdiri mencekik leher korban dan memukul leher belakang korban, sehingga korban jatuh tersungkur ke lantai.Terlepas dari benar tidaknya guru meninggal karena indikasi dipukul dan dicekik oleh sang murid, tapi tindakansang murid itu sama sekali tidak dibenarkan. Tentunya tragedi itu menjadi momentum bersama untuk merefleksikan kembali marwah guru dalam kemajuan bangsa.
Harus diakui bahwa tidak ada satu pun di dunia ini, baik negara berkembangan maupun negara maju yang tidak mengakui bahwa kunci dari pembangunan berkelanjutan (suistainable development) adalah dengan pendidikan yangberkualitas. Pendidikan yang berkualitas itu akan dicapai dengan adanya guru profesional. Namun profesi guru di dunia mengalami pasang surut terutama di abad 21 ini yang didominasi paham materialisme dan hedonisme yang bukan hanya saja terjadi di negara berkembang melainkan meringkuknegara-negara maju.
Tidak ada suatu masyarakat yang ingin maju dewasa ini yang tidak menempatakan pendidikan sebgai prioritas utama. Hanya melalui pendidiikan atau pengembangan sumber daya manusianya yang dapat menggerakkan perubahan di dalam suatu masyarakat menuju pada arah kemajuan. Dewasa ini, baik negara-negara berkembangan maupn negara maju menempatkan masalah pendidikan sebagai kunci utama di dalam pembangunan dan pembangunan yang berkelanjutan.
Guru Kunci Pembangunan
Pembangunan dan pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui pembangunan sumber daya manusia yang tidak lain adalah melalui proses pendidikan, tidak ada satu pun masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembnagan yang tidak mengenal proses pendidikan. Tentunya proses tersebut ada yang lambat; ada yang mengalami hambatan dan ada pula yang berjalan begitu cepatnya.
Dalam proses pendidikan dalam arti yang luas baik yang bersifat formal maupun informal kuncinya terletak pada tokoh guru atau pendidik. Tokoh pendidik itu dapat berupa para guru di dalam sistem pendidikan formal (sekolah), keluarga, dan tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi panutan bagi generasi muda dan masyarakat. Tokoh guru ditengah masyarakat sudah lama dikenal di dalam sejarah Nusantara. Sayang sekali catatan sejarah yang tertulis mengenai tokoh guru di dalam kehidupan masyarakat Nusantara masih sangat minim terutama pada masyarakat yangbelummengenal aksara/tulisan. Namun dalam tulisan-tulisan sejarah yang telah ditemukan, tokoh guru dalam masyarakat Indonesia memegang perananan yang sangat penting. Ketokohan guru berada pada kedudukan yang sangat tinggi, bahkan melebihi status sosial raja/pemerintahan bahkan orang tua.
Menurut pedagog, H.A.R Tilaar (2016) menilai bahwa di Asia khususnya terlebih di Indonesia mengalami penurunan status guru. Penurunan status guru di Asia antara lain disebabkan oleh semakinkuatnya pandangan materialisme dalam profesi keguruan. Penghargaan sosial dalam bentuk materi dari profesi guru sedang menurun dan oleh sebab itu telah menjadi suatu kenyataan bahwa profesi guru bukanlah pilihan pertama dari generasi muda. Apabila pada masa-masa yang lalu profesi guru merupakan pilihan dari “the cream of the crops” dari generasi muda, maka di Indonesia pada akhir-akhir ini profesi guru merupakan pilihan kesekian sesudah profesi dokter, manajemen, bisnis dan sebagainya.
Bangsa Indonesia tentunya ingin menjadi bangsa yang maju dan memegang peranan dalam transformasi kekuatan global di abad ke-21 ini. Apabila kita tetap menginginankan bangsa kita maju dan mengakui bahwa kemajuan tersebut dikendalikan oleh guru, maka keinginan itu hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu hanya dapat dicapai sebagaimana besar oleh adanya guru Indonesia yangprofesional yang ditempati oleh para profesional yang prima sebagaimana di negara-negara maju lainnya seperti Singapura, Finlandia, maupunnegara-negara Skandinavia lainnya. Potret pendidikan pada masa lampau (baca: guru masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit) kiranya dapat menjadi motivasi bagi kita untuk membangun profesi guru dengan semboyan “guru ratu wong atua karo” yang akan merupakan jaminan bagi bangsa Indonesia menuju kemajuan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang adil dan makmur.
Menyoal Kesejahteraan Guru
Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tapi masalahkesejahteraan guru masih menjadi problematika klasik. Ribuan bahkan mencapai kisaran satu jutaan guru masih memperjuangkan hidup di bawah kata sejahtera. Padahal payung hukum soal jaminan negara terhadap kesejahteraan guru cukup jelas sebagaimana tertera pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam hal ini, jelas bahwa negara abai terhadap kesejahteraan guru. Dengan dimikian, bagaimana mungkin suatu negara maju beradabjikalau tidak ada jaminan terhadap “mesin” kemajuan itu sendiri? Jaminan yang dimaksud tidak harus mengangkat guru honorer menjadi PNS, melainkan negara harus menjamin kesejahteraan guru sebagaimana realitas zaman sampai sang guru menutup mata. Artinya perlu memikirkan ulang jaminan kesejahteraan seumur hidup.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, cukup jelas menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Disadari atau tidak profesi guru masih menjadi sesuatu yang dinomorsekiankan. Pada satu sisi masyarakat menganggap guru bagaikan malaikat yang siap menolong untuk merubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak rasa menjadi rasa dan dari tidak bisa menjadi bisa. Masalah guru dan dunia pendidikan merupakan masalah yang tidak pernah ada habisnya menjadi wacana tahunan terutama menyangkut keprofesiannya itu. Masalah yang ditemukan dalam pemberian imbalan terhadap guru adalah masih kurangnya imbalan berupa tunjangan baik tunjangan fungsional guru maupun dalam bentuk pemberian insentif lainnya serta masih kurangnya pemerataan dalam pendidikan dan pelatihan guru dalam upaya untuk peningkatkan profesionalisme guru.
Guru sebagai barometer kemajuan mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.Dengan adanya jaminan negara terhadap kesejahteraan guru maka akan timbul dalam diri seseorang (guru) untuk berlomba-lomba untuk menjamin pula kemajuan generasi berikutnya dalam segala aspek kehidupan. Itulah inti dari hubungan kausalitas antara guru dan jaminan kesejahteraannya yaknibermuara pada perwujudan manusia Indonesia yang “Pancasilais”.Membentuk karakter generasi muda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sampai terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia.

———- *** ———–

Rate this article!
Guru dan Kemajuan Bangsa,5 / 5 ( 1votes )
Tags: