Ekspresi Kasih Sayang, Jauhkan Pelajar dari Narkoba

Peringati Valentine’s Day : Arie soeripan Ketua DDP Granat Jatim (tengah), bersama duta Anti narkoba Jatim melakukan sosialisasi dan Kampanye Bahaya Penyalahgunaan Narkotika di depan pelajar SMAN 2 Surabaya.

Peringatan Valentine’s Day ala DPD GRANAT Jatim

Surabaya, Bhirawa
Perayaan valentine’s day atau hari kasih sayang dieskpresikan berbeda oleh aktivis Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Jatim. Mereka mengartikan hari kasih sayang dengan memberikan sosialisasi bahaya narkoba ke kalangan pelajar di SMA Negeri 2 Surabaya. Ketua DPD GRANAT Jatim, Arie Soeripan mengatakan jika pihaknya ingin mensosialisasikan penyalahgunaan Narkotika dan Bahaya Narkoba sebagai bentuk kasih sayang mereka terhadap generasi muda ‘Zaman Milenal’.
“Kami ingin mewujudkan generasi muda yang bebas dari penyalahgunaan narkotika dan narkoba,” katanya.
Lanjut Arie, terlebih lagi ia menilai bahwa anak-anak saat ini tergolong generasi milenial; yang mudah melakukan hal-hal negatif.
Dalam penyuluhan ini, sasaran GRANAT adalah pelajar SMA/SMU di Jatim. Ia menilai bahwa pelajar SMA/SMU lebih rentan terhadap pengaruh negatif. Selain itu, mereka juga menganggap bahwa masa pertumbuhan siswa SMU/SMA sangat labil dalam menerima serangan atau gejolak dari lingkungan pertemanan maupun lingkungan sekitar.
“Untuk kelancaran penyuluhan ini, kami bekerjaama dengan SMAN 2 Surabaya, dan kami berterimaksih pada Ibu Tatik Kustini karena memberikan kesempatan kepada kami untuk mengedukasi pelajar disini,” ucapnya pada sesi wawancara pada Bhirawa, kemarin (14/2).
Sementara itu, kepala sekolah SMAN 2 Surabaya Tatik Kustini mengungkapkan, jika pihaknya sangat terbantu dengan edukasi dan motivasi yang diberikan oleh organisasi GRANAT. Ia sependapat dengan Arie Soeripan bahwa, semakin banyak masyarakat, tokoh, maupun organisasi melarang penggunaan narkoba, maka semakin penasaran mereka dengan barang haram tersebut.
“Itu PR terberat kita sebagai tenaga pendidik, tokoh masyarakat maupun organisasi anti narkoba” tuturnya.

Rehabilitasi, Solusi Terbaik bagi Pecandu
Konsultan Psikiatri Rumah Sakit Mitra Keluarga, KRAT Th A Hendro Riyanto H, dr, SpKJ, MM mengungkapkan bahwa saat ini solusi terbaik untuk penyembuhan pencandu narkotika adalah Rehabilitasi. Ia menilai bahwa hukuman penjara untuk pecandu narkotika bukanlah solusi yang terbaik untuk membuatnya jera dan sembuh.
Ia menjelaskan, bahwa proses rehabilitasi ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkan keadaannya seperti semula. Hal tersebut mencakup pada pada pelatihan, pemberian kegiatan serta dilakukan isolasi dari lingkungan luar, untuk menghindari dan menjauhkan dari kelompok jaringan narkotikanya. Selain itu, terapi untuk mengubah pola pikir pengguna narkotika dan juga mendampingi pasien untuk mengurangi konsumsi narkotika juga di lakukan dalam tahapa rehabilitasi.
“Rehabilitasi ada banyak jenisnya, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek ini akan menimbulkan sakit yang luar biasa jika memutuskan rehab,” Jelas dokter yang bertugas di RSJ Menur ini.
dr. Hendro menuturkan bahwa Narkotika sendiri menyerang bagian lobus otak yang mengakibatkan Lobus dan cairan dopamine akan terganggu maka muncullah perilaku seperti orang gila. Selain itu, terganggunya Lobus dan cairan dopamine juga berefek pada gangguan psikis seperti agresifitas, halusinasi, gangguan perilaku dan sebagainya. “Namun tentu saja, hal tersebut tergantung pada zat yang dikonsumsi pecandu, seperti shabu, ganja dan lain-lain,” sahutnya.
Di akuinya pengobatan untuk gangguan di otak tidaklah mudah. Ia memaparkan jika belum adanya penemuan obat-obatan yang mampu memperbaiki kinerja otak seperti sebelumnya belum ditemukan oleh pihak medis. Oleh sebab itu, untuk mengurangi gelaja tersebut, agar tidak agresif dan muncul halusinasi, pemberian kegiatan positif diperlukan untuk melepaskan pasien dari ‘pecandu narkotika’.
“Pecandu narkotika di bawah umur (17 tahun kebawah) jauh lebih penyembuhannya dibanding orang dewasa. Tentunya pola pikir keduanya dan masa perkembangan anak yang mendukung perbedaan tersebut” terang dokter yang juga anggota aktif DPD GRANAT Jatim ini.
Khoirunnisa Azzahra salah satu peserta penyuluhan mengungkapkan bahwa acara ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan teman-temannya. Terlebih lagi, menurut penuturannya ia mendapatkan ilmu dan informasi baru mengenai narkotika dan pencegahannya.
Siswa kelas 11-3 IPA ini berpendapat bahwa masyarakat tidak perlu menge ‘judge’ atau menganggap negative mantan pencandu narkotika. Karena hal tersebut tentunya, dinilainya menimbulkan masalah baru pada psikis pecandu karena ia tidak diterima dan tidak nyaman dengan lingkungannya. Sehingga, kata ‘kembali’ pada barang haram tersebut bisa saja terjadi bagi mantan pencandu narkotika.
“Saya sampaikan kepada teman-teman bahwa narkoba bukan lah pilihan, melainkan sebuah larangan untuk tidak mencoba barang haram tersebut,” imbuhnya. [ina]

Tags: