Dukung Gerakan Literasi dengan Menulis

Oleh :
Titik Kusminarwati,SPd
Guru IPA SMP N 6 Kota Mojokerto

Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku “Menggali Mutiara Terpendam” merupakan buku antologi dan “Mereka Adalah Sahabat” sebuah buku solo.
Menulis bukan masalah pandai atau tidak pandai, tapi lebih pada kemauan untuk memulai, mencoba menuangkan gagasan/ide dan mempublikasikan. Seseorang tidak akan tahu apakan dia bisa menulis atau tidak, kalau belum pernah mencoba menulis dan mempublikasikan.
Modal awal menulis adalah memiliki pengetahuan tentang ilmu kepenulisan, pengetahuan yang luas tentang berbagai hal. Membaca buku-buku referensi,koran, mengikuti info-info terkini baik di media cetak maupun di media elektonik, merupakan salah satu langkah yang mesthi di lakukan oleh seorang penulis, sehinggga banyak ide yang menarik yang bisa di tuangkan dalam bentuk tulisan.
Sebagai seorang guru yang sudah terbiasa membuat perangkat mengajar di awal tahun pembelajaran, bukan lah hal yang sulit untuk memulai menulis. Terlebih guru yang dalam keseharian dalam belajar mengajar pun berhubungan dengan dunia tata bahasa, yang keluasan pengetahuan akan sangat berpengaruh pada perbendaharaan kata ketika mengajar dan pada kualitas pembuatan laporan -laporan administrasi, seperti menyusun rencana program pengajaran, menulis journal harian, catatan-catatan kejadian untuk anak-anak yang bermasalah dan lain-lain, sangat membantu untuk memulai menulis.
Selain itu, dibutuhkan pula mengetahui ilmu tentang bahasa Ilmu tata bahasa yang sangat penting dan harus di kuasai sebagai modal sebagai penulisan tentang tata bahasa baku dan ejaan yang di sempurnakan yang sekarang menjadi ejaan bahasa Indonesia.
Berdasarkan keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no 0543a/U/1987. Langkah-langkah awal untuk memulai menulis.
Pertama : Berniat untuk memulai menulis. Niat memegang peranan penting dalam semua aktivitas keseharian kita. Tanpa ada niat biasanya kita akan malas untuk memulai sesuatu. Tanpa memulai dan menyelesaikan naskah, cita-cita menerbitkan karya hanyamerupakan angan belaka. Kedua, Membaca kembali tulisan yang sudah berhasil di susun. Penulis merupakan editor pertama dari karya yang di hasilkan yang tentunya berupa tulisan. Ada beberapa hal yang perlu di cermati dalam proses editing, sepele namun sangat penting. Misal apakah naskah sudah bebas dari salah ketikan, ejaan, tanda baca, salah tulis.dan sebagainya. Ketiga, Mengerti definisi tulisan yang di buat.Yang selanjutnya , kita harus tahu jenis tulisan kita. Masuk kategori fiksi , non fiksi, artikel non artikel. Sebagai contoh , definisi artikel Menurut Wikipedia , artikel adalah karangan factual secara lengkap dengan panjang tertentu yang di muat untuk di publikasikan melalui koran, majalah, bulletin dan sebagainya dengan tujuann menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan , mendidik, menghibur. Ketika kita menuliskan laporan perjalanan, maka tulisan kita termasuk non fiksi, non artikel.
Keempat, Mengenal Ciri -ciri tulisan Untuk beberapa jenis tulisan , misal artikel atau reportase, di upayakan berupa tulisan dengan gaya bahasa yang mudah di pahami, tidak bertele-tele tidak terlalu panjang, singkatnya tulisan kita mewakili fakta, analisa dan solusi, yang secara teoritis menjawab dari pertanyaan 5 W dan 1H. What, Why, Who, Where, When, dan How. Kelima; Mempublikasikan/menerbitkan.Sebagus apapun tulisan jika hanya di simpan tidak akan ada yang akan membaca,namun sejelak apapun sebuah tulisan/karya jika di terbitkan setidaknya sudah melalui proses editing dari penulisnya. Setelah tulisan di rasa cukup, mencoba untuk mengirim tulisan ke media, baik media berskala kota,propinsi maupun Nasional. Kita tidak akan pernah tahu kemampuan menulis kita , jika kita tidak mencoba untuk menerbitkan.Memang kadang ada perasaan minder, malu , atau masih merasa tulisan kita jelek. Itu perasaan yang wajar. Tapi begitu satu tulisan kita di muat , maka akan muncul kepercayaan diri , bahwa kita bisa menulis, menerbitkan karya. Kita punbisa menerbitkan tulisan kita ke public melalui blog pribadi. Kita membuat blog yang tidak berbayar alias gratis. Keenam, Mengikuti agenda kepenulisan.Tidak kalah pentingnya, sebisa mungkin kita mengikuti agenda-agenda tentang kepenulisan. Diklat, workshop, dan sejenisnya .Juga bergabung dengan grup atau komunitas yang interes pada bidang kepenulisan.Hal ini sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan menulis kita. Di agenda -agenda itu kita bisa sharing dengan para pakar atau nara sumber langsung. Kita juga bisa mendapatkan ilmu , wawasan, pengalaman baru tentang kepenulisan, Berbagi pengalaman dengan para penulis yang lain, yang semua itu akan semakin memacu, menambah semangat kita dalam menulis.
Ketujuh; Mengikuti even/lomba menulis.Kita juga bisa mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Kita rajin mencari info berbagai lomba. Kita terkadang tidak mengetahui secara pasti kualitas tulisan kita. Dengan mengikutkan tulisan kita dalam lomba, maka tulisan kita akan di nilai , di baca oleh juri yang kompeten. Jika tulisan kita lolos seleksi, maka itu suatu kebanggaan yang luar biasa , yang akan semakin memacu kita untuk menulis, semakin membuat kita percaya diri, bahwa kita mampu untuk menulis.
Kedelapan; Istiqamah untuk tulis dan menulis. Dan yang terakhir, tidak berhenti untuk menulis. Ibarat kita mengayuh sepeda angin, kayuhan pertama terasa berat, susah, tapi pada kayuhan kedua dan seterusnya akan terasa ringan, mudah. Menulispun juga begitu. Memulai menulis itu suatu hal yang susah, berat. Tapi kalau kita sudah terbiasa menulis akan terasa ringan. Kita tuangkan ide apapun yang ada di kepala kita , dalam bentuk tulisan.

———- *** ———-

Tags: