Berharap Penonton Liga Indonesia Seheboh Piala Presiden

Pedagang lumpia ikut menikmati panen besar saat penyelenggaraan babak penyisihan Piala Presiden 2018 yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya beberapa waktu lalu.

Denyut Ekonomi Kerakyatan di Ajang Piala Presiden

Surabaya, Bhirawa

Kembalinya Persebaya ke kasta tertinggi Liga Sepakbola Nasional melahirkan sambutan yang gegap gempita. Terbukti, setiap Persebaya melakoni laga di fase penyisihan Piala Presiden yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, bonekmania atau green force –sebutan untuk supporter Persebaya– selalu menghijaukan stadion. Gegap gempita penonton setiap Persebaya tanding menjadi berkah bagi pelaku ekonomi kecil seperti pedagang kaki lima, asongan maupun warung kopi (warkop).

Suasana di kawasan Stadion Gelora Sepuluh November Tambaksari, Surabaya Minggu (3/2) siang memang terlihat sepi. Di kawasan stadion yang dulu menjadi menjadi home base Persebaya sebelum berpindah ke stadion Gelora Bung Tomo (GBT), belasan lapak pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan merchandise dan segala jenis pernak pernik dan atribut Persebaya terlihat lengang. Nyaris tidak banyak aktivitas yang dilakukan para pedagang tersebut. Bahkan beberapa pedagang tertidur lelap di sela-sela barang dagangannya.
“Sekarang sepi mas. Tapi satu dua masih ada yang beli kok,” tutur Andi salah seorang pedagang saat ditemui Bhirawa Minggu (4/2) kemarin.
Menurut Andi, kondisi yang dialami itu jauh berbeda dibandingkan saat-saat penyelenggaraan Piala Presiden beberapa minggu sebelumnya.
“Saat ada Piala Presiden sehari bisa laku 50 kaos mas. Bahkan kalau pas Persebaya bermain bisa lebih dari 100 kaos terjual,” jelas Andi lagi.
Lesunya penjual atribut supporter tersebut menurut Andi selain babak penyisihan Piala Presiden di Surabaya yang sudah berakhir, juga ditambah dengan langkah Persebaya yang terhenti di ajang Piala Presiden 2018, pasca kekalahannya (3-4) melawan PSMS Medan di babak perempat final, Sabtu (2/2) yang lalu.
Menurut Andi, andai saja Persebaya menang, maka dipastikan akan terus bertambah para bonek yang tret-tretan (berangkat ramai-ramai) ke Solo untuk melihat langsung laga Persebaya.
“Sebenarnya saya berharap Persebaya menang, agar dagangan saya laku,” kata Andi sambil senyum. Namun demikian Andi tidak terlalu khawatir karena sebentar lagi Liga Sepakbola akan digelar.
“Saya optimis saat Liga mulai digelar nanti para pembeli akan ramai lagi. Semoga seramai saat Piala Presiden kemarin,” kata Andi penuh harap.
Kerinduan akan kemeriahan pertandingan sepakbola khususnya saat Persebaya berlaga bukan hanya dirasakan para PKL yang menjual atribut supporter Persebaya, tetapi para pedagang asongan pun juga merasakan hal yang sama.
Rizal salah seorang penjual lumpia mengaku penyelenggaraan Piala Presiden benar-benar menjadi pesta bagi dia dan teman-teman yang biasa jualan lumpia.
“Kalau tidak ada kompetisi saya hanya jualan keliling yang hasilnya tidak mennetu. Tetapi kalau Persebaya main rasanya hasil sehari sama dengan jualan seminggu,” tuturnya gembira. Rizal yang mengaku masih siswa SMA swasta di Surabaya ini mengaku jualan lumpia hanya untuk membantu orangtuanya.
“Pokoknya kalau Persebaya main. Sekolah gak konsentrasi lagi ingin segera jualan,” kata Rizal sambil tertawa. Menurut Rizal, melihat animo penonton yang demikian tinggi, dirinya optimis pada saat Liga Indonesia nanti dimulai khususnya saaat Persebaya main di kandang pasti akan jadi berkah bagi dirinya dan sesama pedagang asongan.
“Alhamdulillah tahun ini Persebyaa main di Liga 1. Dan penonton pasti akan ramai dan itu menjadi berkah bagi kami para penjual lumpia” tutur Rizal lagi.
Menurut Rizal meski Persebaya pindah ke Stadion GBT sejak dua tahun lalu, keberadaan ‘Lumpia Tambaksari’ tetap bisa dinikmati oleh para Bonek.
Dikonfirmasi terpisah, Sonny Baksono, kordinator penjual lumpia di tribun VIP Stadion GBT menjelaskan selama perhelatan Piala Presiden 2018, manajemen Persebaya mengelola penjualan lumpia dengan cara baru. Salah satunya, dengan menyediakan lapak khusus ‘Lumpia Tambaksari’ di lorong Tribun VIP Stadion GBT.
“Makanan lumpia sudah identik dengan penonton Persebaya. Untuk itu, menajemen Persebaya berusaha mengelolanya. Khusus di VIP, kami pilihkan lumpia paling enak,” ujar Sonny.
Menurut Sonny, gagasan untuk menampilkan ‘Lumpia Tambaksari’ ini memang muncul dari Presiden Persebaya, Azrul Ananda. Harapannya, adalah untuk mengobati kerinduan penonton VIP terhadap lumpia seperti ketika di Tambaksari bisa terobati
Kepedulian manajemen Persebaya juga ditunjukkan dengan merangkul merangkul semua pedagang lumpia di tribun ekonomi secara resmi.
Total ada sekitar 390 pedagang asongan yang terorganisasi dengan rompi khusus. Penjual lumpia panen besar pada pertandingan terakhir babak penyisihan Piala Presiden yakni saat Persebaya vs Madura United, (28/1). Ketika itu, jumlah penonton yang hadir sebanyak 50 ribu orang, atau terbanyak sebanyak turnamen pramusim edisi ketiga itu
“Bagaimana pun, sepak bola sekarang sudah menjadi industri. Pedagang kami organisasi dengan rapi agar mereka tetap bisa berjualan dan mendapatkan penghasilan. Termasuk para pedagang lumpia ini,” tutur Sonny lagi.
Dikonfirmasi terkait hal tersebut anggota organizing comittee Piala Presiden 2018, Risha Adi Wijaya, mengaku ikut gembira atas dampak positif penyelenggaraan Piala Presdien terhadap para pelaku ekonomi kecil di Surabaya.
Turnamen yang sudah bergulir sejak 16 Januari 2018 menurut Risha tersebut selain mengutamakan kualitas pertandingan, sektor ekonomi kerakyatan juga menjadi perhatian Piala Presiden. Hal tersebut tertuang di dalam salah satu dari enam visi dan misi Piala Presiden 2018.
“Visi keenam itu ada ekonomi kerakyatan, bagaimana pedagang di sekitar stadion bisa ikut merasakan hasil dari perhelatan Piala Presiden,” ujar Risha lagi

Sepakbola Hidupkan Ekonomi Kreatif
Perhatian manajemen Persebaya terhadap potensi perekonomian yang bisa tumbuh dari eksistensi klub bola bukan hanya ditunjukkan dengan menggandeng para pedagang asongan, tetapi secara khusus juga ditunjukkan dengan mengembangkan penjualan merchandise resmi lewat Persebaya store-nya.
Pengamat ekonomi kreatif Imung Mulyanto menilai ada perubahan yang signifikan saat Persebaya dipegang oleh Azrul Ananda. Ditangan anak muda inilah, jelas Imung, Persebaya mulai dikelola secara professional dan mulai mengembangkan potensi bisnis yang bisa digarap. Salah satunya adalah pengembangan Persebaya Store.
“Kalau Persebaya ingin menjadi klub yang profesional. Maka bukan hanya secara tim dan operasional yang digarap tetapi juga aspek komersialnya. Klub-klub besar di dunia selalu serius mengelola merchandise dengan baik,” ujar Imung lagi.
Menurut Imung, dengan pengelolaan yang baik akan membuat klub bisa dekat dengan fans dan lebih bisa mengerti kebutuhan para penggemar.
“Dan lebih penting lagi untuk bisa membuat finasial tim lebih sustainable maka harus mampu mengelola merchandise atau sisi komersial secara profesional,” tutur pengamat ekonomi yang penggemar mancing ini. Selain itu jelas Imung, besarnya animo terhadap klub Persebaya juga akan mendorong tumbuhnya pelaku-pelaku industry kreatif yang akan menawarkan berbagai pernak-pernik yang bercerikan Persebaya.
“Lihat saja sekarang ini muncul distro-distro yang menjual produk kreatif yang berkaitan dengan Persebaya,” jelas Imung. Oleh karena itu momentum kali ini jelas Imung, kalau diikuti dengan penataan klub secara profesional disertai dengan branding baru yang lebih positif terhadap perilaku supporter bola, bukan tidak mungkin akan membuat masyarakat kian mencintai bola.
“Ketika publik semakin cinta dengan sepakbola, maka itu berrati peluang ekonomi baru akan muncul,” tegas Imung lagi. [Wahyu Kuncoro SN]

Tags: