450 Personel Bajra Yudha Madiun Diberangkat ke Perbatasan RI-PNG

Komandan Yonif Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun, Mayor Infanteri Eko Antoni Chandra Listyanto,saat memeriksa barisanTNI Danyon 501 yang akan dikirim pamtas RI-PNG diakui sangat mendesak bersifat taktis harus dilaksanakan dengan matang. [sudarno/bhirawa]

Madiun, Bhirawa
Sebanyak 450 personel Batalyon Infanteri Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun Kamis (8/2) dan Jumat (9/2) dini hari diberangkatkan untuk menjalankan tugas pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (pamtas RI-PNG). Mereka akan memastikan bahwa batas-batas negara RI dalam kondisi aman.
Ritual mencium tunggul batalyon menandai pelepasan pasukan dalam pemberangkatan Tim Pamtas yang akan bertugas selama sembilan bulan menggantikan Batalyon Kostrad 432 Ujung Pandang yang sudah bertugas sebelumnya. Mereka akan terbagi dalam 16 pos di antaranya di Kampung Bewan, Desa Petiwi dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Papua.
Menurut. Pembekalan terhadap para prajurit sejak Oktober intensif dilakukan. Persiapan mental prajurit dan latihan-latihan. Komandan Yonif Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun, Mayor Infanteri Eko Antoni Chandra Listyanto, pengiriman pamtas RI-PNG diakui sangat mendesak bersifat taktis harus dilaksanakan dengan matang.
“Di sana (perbatasan RI-PNG), terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari KKSB (Kelompok Kriminal/Separatis Bersenjata) sampai penyelundupan barang,”kata Mayor (Inf) Eko Antoni yang akan memimpin sendiri pasukannya di Papua.
Dikatakannya, sejumlah kerawanan telah teridentifikasi di perbatasan tersebut. Kelompok bersenjata yang akan memisahkan diri dari NKRI adalah tantangan terbesar sehingga pelatihan teknis dan taktis dilaksanakan sangat intensif. Kemudian ancaman kriminal bersenjata juga menjadi ancaman tersendiri. Baik untuk aksi penyelundupan maupun aksi kejahatan lainnya.
“Penyuluhan hukum dan pembekalan soal cukai juga kita berikan kepada para prajurit. Nantinya bersama kepolisian, anggota akan berpatroli dari satu titik ke titik di perbatasan-perbatasan tersebut,”terang Mayor (inf) Eko Antoni.
Ditegaskan oleh Mayor (inf) Eko Antoni, anggotanya harus mengamankan diri sendiri dan satuannya selama bertugas di perbatasan. Prajurit juga diminta mematuhi standar aturan tugas bila menemui hal-hal yang tidak wajar dan perlu tindakan tertentu.
Selain perlengkapan pribadi, para tentara ini juga dibekali dengan sejumlah teknologi. Salah satunya pembangkit listrik tenaga air dan teknologi pertanian. “Di sana sungainya banyak dan besar kan sehingga kita akan berupaya pos bisa terang, desa juga terang. Kita juga akan menularkan teknologi dan tehnik bertani di sana,”paparnya.
Dalam kegiatan ini, satu lagi ancaman yang juga harus menjadi perhatian para personel pasukan yang berada di Papua ini. “Mereka juga harus bisa mengantispasi berbagai kondisi di tengah warga setempat. Terutama untuk hal-hal yang bisa memicu perang suku di sana. Ini yang juga jadi tugas kami di sana,”kata Danyon 501.
Malaria juga menjadi momok tersendiri untuk operasi di daerah hutan seperti di lokasi tugas saat ini. Namun hal ini telah diantisipasi dengan baik sehingga diharapkan tidak menjangkiti anggotanya. “Kami juga mohon doa seluruh warga Kota Madiun, agar kami bisa bertugas dengan baik. Berangkat lengkap 450 orang, pulang lengkap 450 orang,”tegas Mayor (inf) Eko Antoni. [dar]

Tags: