25 Tahun APKLI, Komitmen Berjuang untuk PKL-Ekonomi Kerakyatan

Ali Mahsun (dua dari kiri) Ketua umum APKLI memberikan penjelasan kepada awak media di Mojokerto. [kariyadi/bhirawa.]

Kota Mojokerto, Bhirawa
Asoasiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) bakal memasuki usianya ke 25 tahun. Diusia seperempat abad ini, APKLI berkomitmen tetap berjuang untuk PKL dan pelaku ekonomi mikro atau kerakystan.
“Fokus kita tetap untuk realisasi Pepres 125/2012 dan mendesak pemerintah memberikan akses permodalan kepada PKL, UMKM dan ekonomi rakyat agar mereka bisa bertahan dan unggul menghadapi ritel modern dan perdagangan bebas era MEA dan Pasar Tunggal 2020,” ujar Ali Mahsun, Ketua Umum APKLI dalam media gathering dengan awak media Mojokerto di RM Dapur Mriah, Kota Mojokerto, Kamis (22/2).
Pria yang juga seorang dokter ini memaparkan, jika PKL memiliki hak konstiusional untuk mendapatkan lahan usaha dan rumah milik sendiri. Namun Ali menyayangkan jika pemerintah tidak serius memberikan akses terhadap 25 juta PKL yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kita di APKLI mempunyai agenda tunggal, yakni agenda besar revolusi PKL Indonesia,” lontarnya didampingi pengurus APKLI Jatim dan Kota Mojokerto.
Agenda besar yang terus ia gagas, yakni indeoenden dan lepas dari urusan politik praktis. Ini ditekannya, karena di tahun politik saat ini, katanya, banyak pihak yang mendekati APKLI untuk mendukung salah satu calon kepala daerah.
“APKLI tidak terlibat politik praktis tapi politik kebangsaan. Makanya, siapapun yang terpilih menjadi kepala daerah harus segera melaksanakan Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2012 tentang Koordinasi Penataan dan Pemberdayaan PKL,” tambahnya.
Menurut Ali, dengan selesainya perda penataan dan pemberdayaan PKL di seluruh daerah di Indonesia, maka setidaknya 70 persen persoalan PKL terselesaikan.
“Karena PKL akan memiliki kepastian hukum, seperti soal tempat dan waktu berdagang. PKL punya hak disemua tanah di bumi Nusantara ini. Dimana ada potensi ekonomi, disana ada hak konstitusional PKL,” tegasnya.
Selain soal membela pemberdayaan PKL, dan Ali juga menyampaikan agenda akbar APKLI di Harla ke-25 yang dipusatkan di Trowulan, Mojokerto.
“Agenda kolosal puncak harla APKLI ke-25 , seperempat abad perjuangan PKL Indonesia kami pusatkan di tlahtah Mojopahit, Trowulan, 24 -25 Pebruari 2018,” ujar pria kelahiran Mojokerto ini.
Menurutnya, lebih dari 25 ribu pengurus APKLI dan PKL seluruh Indonesia terlibat dalam agenda yang dipastikannya bakal spektakuler tersebut.
“Hari pertama, acara Doa Nusantara di Siti Inggil Raden Brawijaya 1 dan di hari kedua Kirab Obor Merah Putih PKL Menggugat untuk Indonesia Berdaulat, mulai dari Siti Inggil menuju Pendopo Agung tempat Sumpah Hamukti Palapa Mahapati Gajahmada,” pungkasnya. [kar]

Tags: