Puisi, Jalan Cinta dan Pengorbanan

Judul : Cinta, Luka, dan Bahagia
Penulis : Kahlil Gibran
Penerbit : Baca
Cetakan : 2016
Tebal : 144 Halaman
ISBN : 978-602-74654-6-6
Peresensi : Ahmad Wiyono
Pegiat Literasi, Tinggal di Pamekasan Madura

Puisi selalu hadir dengan keistimewaannya sendiri, siapa pun pengarangnya, puisi pasti mengandung makna yang tak mudah digali apalagi diinterpretasi. Itulah keunikan karya sastra bernama pusi, sulit dipahami, tapi selalu menusuk hati.
Seperti karya Kahlil Kibran ini, ada sejuta spekuluasi yang hadir saat kita mmbaca dan berusaha menerka pesan di dalamya. Pertama kali kita melihat judul buku ini, mungkin yang terlntas adalah seputar romantisme, kegelisahan bahkan kepedihan sang pecinta. Baiklah, itu tidak sepenuhnya salah, meskipun tidak seratus persen benar. Karena dalam buku ini penulis tak hanya bicara tentang tiga hal itu.
Dalam dunia sastra, kita sering mendengar istilah pesan terdalam dari sebuah karya, sehingga, tak jarang satu karya sastra bisa memiliki banyak pesan dan masuk pada banyak kondisi masing-masing orang. pusi Kahlil Gibran yang dimuat utuh dalam buku ini pun pasti mempunyai pesan terdalam terebut. Inilah keistimewaan karya, dan Kahlil Gibran berhasil menyajikan karya yang kedalaman maknanya sungguh tak terhingga.
Hampir pada setiap pusi Gibran yang diurai dalam buku ini, kita akan menmukan bahasa cinta, meski pun dengan diksi yang beragam. Ini menunjukkan bahwa Gibran begitu mengagumi hakikat cinta itu sendiri. Secara sadar, pembaca akan dibawa pada satu fase tentang kedudukan cinta, ini yang bisa disebut sebagai totalitas cinta. Gibran memnggambarkan totalitas itu dalam setiap pusi yang hadir dalam buku terbitan Baca ini.
Sekilas kita bisa memahami bahwa puisi-pusisi Gibran dalam buku ini tergolong pusisi moderen, dimana hampir dari setiap penggunaan katanya tidak terikat oleh diftong. Namun demikian, satu hal yang luar biasa dari setiap ucapan Gibran adalah lahirnya kenikmatan auditif yang sangat tinggi. Tak hanya orang yang menegrti sastra yang bisa merasakan kenikmatan susunan kata Gibran, namun orang awam pun akan tahun bahwa puisi Gibran memang sangat nikmat.
Cadar yang menyaput matamu, harus disingkap oleh tangan yang menenunnya (Hal 80)
Keistimewaan lain karya-karya penyair Lebanon ini adalah nasihat moral yang kerap kita temui dalam setiap rangkaian sajaknya. Gibran rupanya tak hanya ingin mengabarkan tentang keindahn cinta, namun juga menyadarkan para manusia bahwa cinta itu adalah bagian dari sisi perjuangan, sehingga akan ada konsekuensi dari setiap perjuangan cinta, jika tidak sukses berarti sebaliknya. Dan itulah roh dari setiap perjuangan cinta yang bisa kita tangkap dalam setiap sajak-sajak Gibran.
Cinta tidak datang dari pertemanan yang panjang atau perjodohan yang dipaksakan, tapi buah dari keterikatan spiritual (Hal 74)
Totalitas cinta yang diajarkan Gibran ternyata juga memliki pesan berbeda, yaitu pesan kemerdekaan, terutama kemerdekaan diri, bahwa Gibran hendak menyadarkan hati setiap insan tentang cinta berikut makna cinta yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang dimaksud adalah terbebasnya belenggu perasaan manusia akibat cinta itu sendiri, maka menurut Gibran, cinta itu tak berhak membuat manusia tak berdaya, karena cinta bebas datang dan pergi kapan saja. Jika kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Jika dia kembali, dia akan selalu menjadi milikmu. Jka tidak, dia bukan jodohmu (Hal 9)

——- *** ——–

Rate this article!
Tags: