Memberantas Buta Literasi

Oleh :
Priyandono
Guru di SMAN 1 Gresik.

Orang boleh pandai setinggi langit. Namun selama ia tidak menulis,
ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian
( Pramudya Ananta Toer )

Membangun budaya literasi menjadi sebuah keniscayaan. Mereka yang sudah terbiasa membaca dan menulis sebenarnya mereka telah melakukan tindakan yang sungguh luar biasa. Tanpa disadari tindakannya itu telah memberikan andil besar terhadap keberlangsungan peradaban bangsanya. Membiasakan membaca dan menulis berarti memupuk dan merawat sebuah peradaban.
Wajah negeri ini ke depan tergambar dalam kualitas literasi anak-anak saat ini. Dengan menguasai budaya literasi, maka kita tak perlu khawatir meski mereka berada dalam kepungan budaya global maupun peradaban modern. Kebiasaan membaca dan menulis bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil seperti keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Selain itu, pemerintah dan media massa juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kebiasaan baca tulis
Keunggulan sebuah negara sekarang ini tidak lagi diukur dari melimpah ruahnya kekayaan alam yang dimiliki. Melainkan diukur dari sumber daya manusianya. Membangun sebuah peradaban bangsa tidak bisa lagi mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. Sejarah mencatat, masyarakat mengawali membangun negerinya dengan peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya.
Namun realitas obyektif menunjukkan bahwa di kalangan masyarakat, termasuk siswa, membaca belum menjadi sebuah tradisi. Budaya oral yang merupakan warisan leluhur menjadi lebih menonjol daripada budaya baca, Kalau bicara satu hari pun kuat. Demikian juga nonton, mengunjungi dinding facebook, twitter, serta media social lainnya doyan banget. Berjam-jam di depan pesawat televisi juga betah, berlama lama membolak balik gawai juga tidak bosan, Namun, kalau membaca, nanti dulu. Jangankan membaca, pegang buku saja enggan.
Budaya literasi yang di dalamnya terkandung aktivitas membaca dan menulis menjadi hal sangat penting. Membaca dan menulis ibarat sekeping mata uang logam. Kedua sisinya sama sama pentingnya. Lewat membaca otak akan terus bergerak dinamis dan terus mengasah kecerdasan kita. Dan dengan menulis, apa yang ada di dalam benak kita dapat kita ketahui orang lain serta berpotensi menjadi inspirasi bagi yang membacanya.
Akan tetapi, kita memiliki banyak persoalan terkait dengan literasi. Masalah literasi yang mendera negeri ini seolah tak berujung. Kita memiliki pengalaman buruk terkait dengan literasi. Para pendahulu mewariskan tradisi buruk kepada kita. Dalam hal literasi, para leluhur kita terbiasa menyebarluaskan sebuah cerita, berbalas pantun atau apa saja tidak pernaah dilakukan dengan menulis, tapi dengan bertutur kata. Tanpa disadari kebiasaan ini menurun sampai sekarang. Generasi sekarang yang disebut sebut sebagai generasi digital pun tidak bisa lepas dari hegemoni budaya oral atau lisan tersebut.
Para guru dan orang tua jangan pernah bosan mengingatkan putra-putrinya untuk selalu membaca meskipun hanya satu lembar sehari. Waktunya bisa kapan saja, termasuk menjelang tidur. Sebab, setelah membaca, mata akan lelah dan mereka akan tidur dengan sendirinya, Biarkan anak-anak tidur didampingi buku.
Begitu besarnya manfaat membaca, Jordan E. Ayan seperti dikutip Hernowo (2015:50) menyatakan membaca materi yang tidak berkaitan dengan tantangan kreatif sekalipun, mampu memberikan inspirasi atau ide khusus untuk membantu pekerjaan. Hanya dibutuhkan sepotong kisah, artikel, atau laporan untuk “digelorakan” dalam kesadaran jiwa terdalam dan Anda akan menghasilkan pengalaman aha ! Anda sendiri.
Selanjutnya, agar aktivitas membaca yang kita lakukan dapat menghasilkan daya kreatif, seyogianya kita ikuti tips yang diberikan oleh Jordan. Pertama, berjanjialah untuk membaca secara kreatif setiap hari. Kedua, membaca secara “ngemil” (sedikit demi sedikit). Ketiga, bacalah sesuatu dari beragam sumber bacaan. Keempat, terapkan apa yang Anda baca dalam kehidupan sehari hari.
Membaca merupakan aktivitas biasa, namun hasilnya luar biasa. Untuk membentuk kebiasaan membaca (habit reading) perlu dilakukan terobosan yang inovatif. Misalnya mengampanyekan gerakan membaca satu hari satu lembar. Gerakan ini harus terus digelorakan, tidak hanya dilakukan secara internal di sekolah tapi juga dilaksanakan di ruang publik melalui media cetak koran. Apabila satu hari membaca satu lembar, tanpa terasa sebulan sudah 30 lembar (sama dengan 60 halaman). Kalau sudah jadi kebiasaan, ini bisa mengalami peningkatan, sebab kelanjutan bacaan bisa membuat pembacanya penasaran.
Membaca dan menulis harus dijadikan tradisi keilmuan. Sesibuk apapun, sebaiknya kita harus membiasakan menulis. Ada strategi untuk tetap bisa menulis di tengah kesibukan. Much. Khoiri seperti dikutip dalam https://www.unesa.ac.id menyebutkan ada dua hal penting agar tetap produktif menulis dalam kesibukan, yaitu niat dan kesempatan. ” Punya kesempatan tapi tidak punya niat ya tidak akan menghasilkan tulisan. Begitu juga punya niat tapi tidak punya kesempatan, ya tidak akan optimal,” papar penulis buku best seller Rahasia Top Menulis.

————— *** —————-

Rate this article!
Memberantas Buta Literasi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: