Ajak Warga Miliki Tas Siaga Bencana

Sarmi Tandibua

Sarmi Tandibua

Bencana biasa datang dengan tiba-tiba. Kepanikan sangat mungkin terjadi. Keinginan untuk segera menyelamatkan diri, acap melupakan apa yang perlu dibawa. Akibatnya, begitu sampai dilokasi pengungsian, baru sadar yang dibawa hanya membawa baju yang melekat di badan.
Situasi akan berbeda, kalau setiap warga terutama di wilayah yang sering dilanda bencana, sudah mempersiapkan diri menghadapi bencana.
“Kami mengajak setiap warga memiliki tas siaga bencana yang akan dibawa begitu bencana terjadi,” kata Ketua Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Pembelajaran Masyarakat (KKN PPM) Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Sarmi Tandibua saat bertemu Bhirawa di lokasi KKN yang berada Desa Bungurasih, Waru Sidoarjo.
Menurut Sarmi, tas siaga bencana itu berisi antara lain baju secukupnya, masker, peralatan P3K dan obat-obatan pribadi, peralatan mandi, selimut, senter, identitas (KK dan KTP) dan bahkan surat-surat surat berharga yang dimiliki.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan memiliki tas siaga bencana itu bukan saja akan mengurangi derita warga saat bencana terjadi, tetapi juga bisa mengurangi potensi warga menjadi korban.
“Banyak contoh, ketika warga sudah keluar rumah tiba-tiba balik lagi karena ingin nyelamatkan surat -surat berharga. Dan ternyata justru jadi korban,” jelas mahasiswa yang juga PNS di Subbag Tata Usaha Dinas Sosial Jawa Timur ini.
KKN PPM tematik Unitomo, yang kali ini mengambil tema tentang kesiapsiagaan menurut aktifis Pusat Studi Bencana dan Lingkungan (PSBL) Unitomo ini, lebih ditekankan pada upaya yang disebut sebagai kegiatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang meliputi, edukasi masyarakat dengan program nyata, biopori, gladi lapang, pendampingan rencana kontigensi berbasis komunitas, partisipasi dlm sekolah laut dan sungai, pendampingan program Desa Tangguh dan sosialisasi alat pemanen air hujan dan elektrolisanya.
Menurut mahasiswi berkerudung yang selalu tampil modis ini, tim KKN PPM Unitomo yang terdiri dari 76 mahasiswa dari lima fakultas (ekonomi, FIA, Pertanian, FIkom, FKIP) juga melakukan pendataan dasa wisma.
“Pendataan kami tentu dikaitkan dengan kebutuhan saat terjadi bencana nanti,” kata Sarmi. Pendataan itu misalnya menyangkut siapa saja anggota keluarganya. Harapannya tentu akan memudahkan relawan bencana dalam memberikan bantuan.
“Kalau keluarga itu lebih banyak bayi atau lansianya maka kami beri sticker/cat merah. Itu artinya rumah itu prioritas untuk diselamatkan,” kata Sarmi.
Melihat respon warga dan kemanfataan yang demikian besar besar, Sarmi yang juga aktif di Pusat Penelitian dan Pelatihan Indonesia Tangguh (puspita) ini berharap KKN tematik kebencanaan bisa dikembangkan ke daerah lain.
“Sehingga nanti akan muncul desa-desa yang tangguh bencana,” kata Sarmi dengan senyum manis mengembang. [why]

Rate this article!
Tags: