Pancasila Menjadi Perekat di Saat Masyarakat Terbelah

H Sungkono di tengah warga Bogempinggir.

Sidoarjo, Bhirawa
Menjelang tahun politik 2018, menjadi ujian bagi rakyat Indonesia bagaimana memelihara keutuhan dan persatuan. Bersukur bangsa Indonesia dikarunia Pancasila yang menjadi perekat untuk menyatukan kita semua.
Itulah hal penting yang disampaikan anggota MPR RI, H Sungkono, di depan warga desa Bogempinggir, kec Balongbendo yang ikut sosialisasi 4 pilar berbangsa dan bernegara, Selasa (5/12) malam. Jangan terpecah belah hanya karena perbedaan pandangan dan pendapat. “Perbedaan harus dianggap sebagai rahmat untuk memperbaiki kelemahan kita, supaya ke depan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Indonesia harus berkaca pada Eropah Timur, di mana Uni Sovyet yang negara besar dan super power menjadi tercerai berai. Banyak provinsi memerdekakan diri. Sehingga nama Uni Sovyet terhapus dari peta dunia. Nasib yang sama akan dialami Indonesia kalau tidak hati-hati dalam mengelola perbedaan. “Jangan sampai Indonesia akan sama seperti itu, makanya setiap perbedaan jangan dibuat tajam. Biasa saja menghadapi perbedaan, yang penting semuanya bersatu demi NKRI,” pintanya.
Pancasila harus dipandang sebagai perekat yang selama ini terbukti mampu menyatukan seluruh bangsa Indonesia dari sabang sampai Merauke. banyak negara yang iri melihat keutuhan Indonesia.
Namun di lain pihak, ia menyesalkan sebagian orang kaya raya di Indonesia yang tidak bisa membendung nafsu serakahnya untuk menguasai ekonomi. Ada satu pengusaha besar yang memiliki hingga 2 juta hektar lahan.
Sementara petani desa untuk dapat memiliki sawah ½ hektar saja susahnya bukan main.
Aset kekayaan dan sumber ekonomi Indonesia 82% dikuasai sekitar 300 orang kaya itu. Ia mempertanyakan nasionalis mereka untuk membangun Indonesia. Dengan kekayaan luar biasa, perlu dipertanyakan sampai sejauh mana kontribusi membantu masyarakat yang lemah.
Prinsip Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dimaknai bagaimana yang kuat membantu yang lemah, si kaya mengangkat si miskin, begitu pula Islam yang menjadi agama terbesar juga melindungi agama minoritas. Sehingga tumbuh kedamaian. Dalam kesempatan itu ia juga menyebutkan posisi hutang Indonesia sudah Rp 4.700 triliun. besarnya hutang sudah menjadi lampu merah, kalau hutang dibagi tanggung seluruh rakyat maka setiap bayi lahir procot sudah menanggung hutang Rp 40 juta.(hds)

Tags: