Bupati dan Kiai Ajak Petani Gunakan Pupuk Organik

Bupati dan Wabup saat ikut menabur pupuk organik dilahan sawah di Dusun Tanjung Pasir, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo. [sawawi/bhirawa].

Situbondo, Bhirawa

Guna untuk mengatasi kerusakan lahan sawah akibat penggunaan bahan limbah dan kimia pupuk cair, Bupati Dadang Wigiarto bersama Wabup Yoyok Mulyadi mengajak para petani untuk kembali menggunakan pupuk organik.
Ajakan orang pertama dan kedua di lingkungan Pemkab Situbondo itu disampaikan saat uji coba perdana penggunaan pupuk organik di lahan sawah milik Wabup Yoyok Mulyadi di Dusun Tanjung Pasir, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo kemarin.
Dalam uji coba penggunaan pupuk organik tersebut hadir juga KH Zaki Abdulah pengasuh pondok pesantren Mambaul Hikam, Desa Panji Kidul, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo. Selain itu, Pemkab Situbondo melalui Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan juga mendatangkan tenaga ahli tanaman Prof Indah. Dalam kegiatan tersebut Bupati bersama Wabup ikut serta menebar pupuk organik bersama Kadis Tanaman Pangan Holtiklutura dan Perkebunan Farid Kuntadi dan kalangan Gapoktan Situbondo.
Bupati Situbondo dihadapan para petani mengatakan penggunaan pupuk organik pada tanaman persawahan memiliki kelebihan jika dibadingkan dengan jenis pupuk lain. Terbukti, kata Bupati Dadang, setiap tanaman 1 hektar hanya memerlukan pupuk sebanyak 24 ton.
Namun jika mengacu pada Sandart Operasional Prosedur (SOP) penggunaan pupuk organik dilakukan secara bertahap yakni dengan cara penggunaan pupuk sebanyak 6 ton. “Apabila sudah mencapai 24 ton penggunaan pupuk organik tersebut, maka kerusakan unsur hara yang ada pada lahan pertanian itu akan kembali subur serta dapat menghasilkan panen atau produksi padi yang maksimal,” jelas Bupati Dadang.
Bupati Dadang meminta kepada para petani untuk memahami tatacara pemulihan lahan yang rusak dengan cara menggunakan pupuk organik yang baik dan tepat sasaran. Jika tidak, ujar Bupati Dadang, maka akan menjadi bumerang bagi para petani, terutama dari hasil tanaman yang digarapnya. “Jika memahami dengan benar maka petani akan merasakan dampak positifnya menggunakan pupuk organik tersebut,” ucap Bupati Dadang.
Bupati menandaskan, jika petani menggunakan pupuk organik dalam satu hektar hanya 5 ton maka hasilnya akan kurang maksimal. Ini, lanjut Bupati Dadang, didasarkan pada analisa pertanian yang benar, jika lahan tanah organiknya bernilai di bawah angka 4, maka tanah tersebut memenuhi syarat sebagai lahan produktif pertanian.
Padahal, katanya, unsur organik yang ada di Kabupaten Situbondo hanya tinggal 1- 2 organiknya. “Jika kondisi ini tidak diatasi secara maksimal, maka dikhawatirkan lahan subur yang ada di Kabupaten Situbondo akan habis,” jelas Bupati Dadang.
Oleh karena itu, papar Bupati Dadang, gerakan penyuburan tanah dengan menggunakan standarisasi pupuk organik harus segera dilakukan semua elemen pertanian. Agar program pro petani ini berjalan sukses, maka tidak hanya Pemkab yang serius mengajak penggunaan pupuk organik, tetapi semua petani juga harus giat mengembalikan kesuburan lahan tanah dengan cara menggunakan pupuk organik. “Kami minta petani menggunakan pupuk organik ini dengan SOP yang ada,” pungkas Bupati dua periode itu.
Sementara itu, KH. Zaki Abdulah, selaku insan penggerak petani dalam penggunaan pupuk organik mengakui keterlibatan tersebut karena untuk menjalankan wasiat almarhum Pahlawan Nasional Situbondo, KHR. As’ad Syamsul Arifin yang juga pengasuh pondok pesantren Salafiyah Saf’iyah Dusun Sukorejo, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.
Di mana dalam salah satu wasiatnya, urai KH Zaki Abdullah, KH. As’ad Syamsul Arifin berharap para santri atau para kiai untuk merealisasikan ekonomi kerakyatan. “Mengacu pada hal tersebut saya bersama KH. Jainuri, Lutfi Ashari dan para kiai lain sepakat untuk ikut menggerakan pertanian dengan memakai pupuk organik,” ungkap KH Zaki Abdullah.
Usulan Persediaan
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumenep mengusulkan kuota pupuk bersubsidi jenis urea pada tahun 2018 sebanyak 28.217 ton atau sama dengan kuota pupuk tahun 2017. Jumlah tersebut diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan para petani selama satu tahun.
Kabid Sarpras dan Penyuuhan, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Arif Firmanto mengatakan, pihaknya telah mengusulkan kebutuhan pupuk bersubsidi pada tahun 2018. Tinggal bagaimana penetapan dari pemerintah pusat.
“Pupuk bersubsidi bagi petani di kabupaten Sumenep untuk tahun 2018, kami usulkan sama dengan tahun 2017 ini,” kata Kabid Sarpras dan Penyuuhan, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Arif Firmanto, Rabu (6/12).
Dikatakan, usulkan pupuk bersubsidi tersebut merupakan hasil pendataan petugas dibawah terkait kebutuhan petani secara keseluruhan selama satu tahun 2018. Kalau usulan itu disetujui, kebutuhan petani dipastikan tetap terpenuhi, baik dimusim tanam jagung maupun padi dan tanaman yang lainnya. “Usulan itu sudah sesuai dengan kebutuhan para petani. Semoga usulan itu disetujui karena kalau sampai dikurangi dari jumlah usulan itu akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan petani di Sumenep,” ujarnya. [awi,sul]

Tags: