Pelaku Industri di Sidoarjo Diminta Peduli Lingkungan

Bahrul Amig

Sidoarjo, Bhirawa
Pelaku industri di Kab Sidoarjo diminta serius dan peduli pada lingkungan perusahaanya. Sedikitnya 200 pelaku industri di Kab Sidoarjo, diundang Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (KLH) Kab Sidoarjo, diberi pemahaman agar mereka bisa mengelolah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dengan benar.
”Kami ingin agar pelaku industri di Sidoarjo supaya mengolah limbahnya dengan benar, dan terus menjaga lingkungan disekitarnya, maka kami mendorong mereka supaya selalu peduli lingkungan. Diantaranya dengan mengolah limbahnya secara maksimal,” kata Kepala Dinas KLH Kab Sidoarjo, Bahrul Amiq, dalam kegiatan bimbingan teknis pengelolaan limbah industri di Kab Sidoarjo, Selasa (14/11) kemarin, di Sun City Hotel Sidoarjo.
Bagi pelaku industri yang telah memberikan atensi pada kepedulian dan kelestarian lingkungan di Kab Sidoarjo, Dinas KLH memberikan apresiasi. Apresiasi yang mereka berikan diantaranya, menyumbang beberapa jenis pohon, maupun menyumbang motor gerobak untuk angkutan sampah.
Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, yang membuka kegiatan Bintek ini, mengajak para pelaku industri untuk peduli dengan kelestarian lingkungan. Jangan sembarangan membuang limbah B3. ”Karena yang kena dampaknya adalah masyarakat, mereka akan menderita,” kata Wabup Nur Achamd.
Menurut Wakil Bupati Nur Ahmad, dengan Bimtek yang diberikan, pelaku industri bisa mendapatkan tambahan pengetahuan dalam mengolah limbahnya. Karena kepedulian terhadap kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab semua stake holder, termasuk juga kalangan industri.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kab Sidoarjo harus tegas dengan pencemaran lingkungan yang terjadi. Misalnya pada Sungai Bader, yang melintasi Dusun Ketintang, Desa Jimbaran Wetan, Kec Wonoayu. Karena bertahun-tahun warga desa yang tinggal di pinggir sungai, menghirup limbah yang dibuang ke sungai.
Menurut warga sekitar yang terganggu bau limbah di sungai itu sangat menusuk hidung sampai terasa sampai dalam dada. Dikawatirkan, dalam jangka yang panjang bisa-bisa akan bisa kena penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
”Mungkin saja kini sudah ada warga yang terkena penyakit ISPA, hanya saja belum pernah ada pemeriksaan dari Pemerintah,” kata Basirin, salah satu warga yang tinggal di pinggir Sungai Bader, saat ditemui beberapa waktu lalu. [kus]

Tags: