Menggambarkan Pesona Jatim, Perlu Dibangun Miniatur Jembatan Suramadu

Kepala Badan Penghubung Daerah di Jakarta, Dwi Suyanto foto bersama pengunjung Anjungan Jawa Timur di TMII dengan latar belakang rumah adat khas Jatim.

Melihat Lebih Dekat Anjungan Jawa Timur di TMII (2-habis)
Pemprov Jatim, Bhirawa
Masyarakat Indonesia sudah seharusnya berterima kasih kepada penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Siti Hartinah Soeharto, atau akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto. Sebab berkat TMII, provinsi-provinsi di Indonesia bisa lebih mudah dikenal dunia tanpa harus keliling Nusantara. Salah satunya Anjungan Jawa Timur yang memiliki manfaat besar untuk memperkenalkan Jatim di mata wisatawan lokal dan dunia.
Di TMII, Ajungan Jawa Timur dibangun diera Gubernur Jatim M Noer. Dalam proses pembangunanya, hanya membutuhkan waktu 39 hari. Anjungan Jawa Timur merupakan satu di antara 33 anjungan daerah yang terdapat di TMII yang luasnya mencapai satu hektare, sama dengan anjungan-anjungan daerah lainnya.
Berdasarkan catatan dari situs resmi TMII, anjungan daerah adalah bangunan-bangunan rumah adat yang bercirikan arsitektur tradisional khas daerah Indonesia. Terdapat 33 anjungan daerah yang dibangun berderet mengelilingi danau Miniatur Arsipel Indonesia, melambangkan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Tiap provinsi menampilkan sekurangnya tiga bentuk rumah adat khas daerah, berada di satu kawasan yang disediakan untuk provinsi bersangkutan. Bentuk rumah adat dibuat sesuai dengan bangunan asli, baik ukuran, bentuk atap, ragam hias, susunan ruangan, bentuk jendela, tangga, dan detil lainnya.
Anjungan daerah dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai rumah adat berbagai suku bangsa di Indonesia kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang mungkin tidak sempat lagi melihat rumah adat di daerah asalnya.
Bangunan dan rumah adat sekaligus digunakan sebagai temapat pameran dan peragaan berbagai benda sejarah, pakaian adat, peralatan kesenian, hasil kerajinan, dan benda-benda budaya lain yang merupakan warisan bangsa yang tak ternilai harganya.
Di Anjungan Jawa Timur, pengunjung diperkenalkan dengan beragam budayanya. Di mulai dari depan, atau di bagian awal, halaman ditandai dengan dua buah patung, Kotbuto dan Angkobuto, yang mengapit jalan masuk anjungan.
Menurut cerita, patung tersebut merupakan gambaran patih kembar dari Blambangan, selagi diperintah oleh Menak Jinggo. Di halaman ini juga dibangun kompleks percandian Penataran di Blitar dalam ukuran yang sebenarnya, dilengkapi dengan sebuah patung Ganesya di dalamnya. “Ukuran yang dibangun di sini, sama dengan ukuran Candi Penataran sebenarnya di Blitar,” kata State Manajer Anjungan Jawa Timur di TMII, Munarno.
Kemudian, di sana juga diperlihatkan keagungan kerajaan Majapahit yang digambarkan dalam bentuk relief “Penobatan Raden Wijaya” sebagai raja Majapahit Pertama. Diperagakan pula adegan “Sumpah Palapa”, yang mana patih Majapahit, Gadjah Mada, bersumpah akan menyatukan Nusantara. Sedangkan di sisi kiri, patung kerapan sapi dengan latar belakang perbukitan kapur utara menggambarkan permainan dan tontonan dari pulau Madura yang sangat populer.
Beralih ke halaman berikutnya, digambarkan alam perjuangan, termasuk tegaknya berdiri sebuah tugu tinggi meruncing yang bersegi 10 dan mempunyai 11 keratan, yaitu tiruan Tugu Pahlawan yang sebenarnya berada di Kota Surabaya atau dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Di depannya nampak patung patriot bambu runcing yang mengingatkan gigihnya para pahlawan melawan dan mengusir penjajah, dan betapa banyaknya yang gugur sebagai kusuma bangsa pada saat itu.
Perjuangan “Arek-arek Suroboyo” itu tergambar pada relief pertempuran 10 November 1945, kemudian ada juga relief menceritakan peristiwa penyobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, sampai dengan penghancuran markas kompeitei, tepat di depan kantor Gubernur Surabaya.
Di halam ini juga terlihat bangunan tiruan menara Masjid Ampel yang pada sejarah mencatat bahwa di antara sembilan tokoh penyebar agama Islam di Jawa timur yang terkenal dengan sebutan “Wali Songo”, terdapat beberapa di antaranya berada di Jawa timur, yaitu Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat.
Halaman berikutnya menggambarkan alam pedesaan, terlihat beberapa rumah adat, sebuah rumah kepala desa, lengkap dengan pendopo dan kenthongannya, merupakan bangunan induk anjungan ini. “Aslinya berasal dari Ponorogo. Kemudian ada juga rumah dalem yang menyatu dengan pendopo yang merupakan asal dari Pacitan. Rumah itu sengaja diboyong ke TMII untuk menggambarkan bentuk arsitektur tradisionalnya secara asli dan utuh,” kata Narno menambahkan.
Bangunan lain yang terdapat di sana, memperagakan bentuk rumah yang berasal dari Madura. Diwakili oleh Kabupaten Sumenep, Pamekasan, bangkalan dan rumah Situbondo, yang merupakan model Jawa-Madura.
Terdapat pula langgar (tempat ibadah), pir (alat transportasi dari bangkalan), perahu-perahu nelayan dan pagupon (tempat memelihara burung Merpati) dalam penampilan yang khas. Di tempat-tempat tertentu juga ditanam pohon-pohon yang ditemukan di Jatim, antara lain Maja, Srikaya, Kelapa gading, Sawo Kecik, Mangga, Kayu Jati dan lain-lain.
Satu lagi tempat yang menjadi ruang pamer hasil produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) asal 38 kabupaten/kota, yang menampilkan antara lain batik, kerajinan tangan, cendera mata dan lainnya.
Meski Anjungan Jawa Timur di TMII sudah bisa menggambarkan Jatim, tapi ada satu ikon yang kurang lengkap jika tidak dibangun di anjungan. Yakni Jembatan Suramadu, ikon baru Jatim. Mendapat masukan agar ada Jembatan Suramadu, Kepala Badan Penghubung Daerah di Jakarta, Dwi Suyanto menyambut baik ide tersebut.
“Terima kasih masukannya. Nanti akan kita pertimbangkan untuk membangun miniatur Jembatan Suramadu. Jatim saat ini memang tidak bisa lepas dari ikon baru Jembatan Suramadu. Setiap ada acara pasti ada gambar Jembatan Suramadu. Mungkin nanti akan kita buat di anjungan,” katanya. [Zainal Ibad]

Tags: