Kepastian Kritis Vulkanologi

Foto Ilustrasi

Bandara Ngurah Rai, Bali (dan beberapa bandarasekitar terdekat) harus melakukan “jeda” operasional, terkait erupsi gunung Agung. Ini bagai penantian panjang “letusan” gunung berapiyang dikahawatirkan berdampak kerugian besar. Menghindari korban jiwa, harta, dan aset budaya. Ilmuwan (vulkanologi) perlu bekerja lebih keras, memastikan prakiraan pergerakan magma. Sebab penantian letusan gunung Agung, bagai menyandera pelaksanaan hidup orang banyak.
Vulkanologi, niscaya memiliki parameter kerja magma. Selain gempa tremor, dan tektonik, juga kandungan material dalam dan suhu dalam magma. Potensi ancaman letusan, diperlukan untuk memastikan waktu pengungsian yang tepat. Karena tiada masyarakat yang suka dengan kondisi pengungsian. Penantian di pengungsian selama ini, telah menyebabkan kerugian moril dan material sangat besar. Diantaranya, penjualan obral (harga sangat murah) hewan ternak.
Waktu pengungsian yang tidak tepat, juga menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap prakiraan vulkanologi. Letusan gunung Merapi, dan Kelud, dapat dijadikan pelajaran dalam hal pengungsian. Toh vulkanologi berbeda dengan gempa bumi (tektonik) yang bisa berpotensi gelombang tsunami. Vulkanologi dapat diprediksi dengan tingkat presisi (ketepatan) lebih baik. Seyogianya, pengungsian tidak terlalu lama.
Secara lex specialist, terdapat UU Nomor UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Di dalamnya terdapat amanat pencegahan bencana, termasuk mitigasi. Pada pasal 38 huruf a, diwajibkan adanya “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.”Terdapat frasa “pengenalan secara pasti,” yang mengatur mitigasi bencana dilakukan secara tepat. Terutama warning keselamatan penerbangan.
Pada pasal yang sama huruf b, diwajibkan adanya “kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana.”Pada pasal ini, yang dimaksud dengan “pengelolaan sumber daya alam,” termasuk gunung berapi, dan kawasan pantai.
Sejak pekan akhir September lalu, PusatVulkanologiMitigasiBencanaGeologi (PVMBG) menetapkan status “awas”gunungAgung. Karenadalamsehari rata-rata dalamenam jam, terjadi 71 kali gempavulkanikdalam, 20 kali vulkanikdangkal, dan 20 tektonik. Artinya, situasigunungAgungjugamenyebabkangempa (kecil) magnitude rata-rata sekitar 3 Skala Richter, pada area sekitar. Pada sore hari (pukul 12.00 sampai 18.00) gempavulkanikdantektonikmakinterasa.
Mitigasi menjadi kewaspadaan bersama. KarenagunungAgungpernah meletus pada tahun 1963. Abunya sampai menutup udara Surabaya, hingga gelap bagai malam hari.Berdasarsejaraherupsinyaitu, patutdiwaspadaikeluarandariperut magma-nya. Biasanyaberupalontaran piroklastik (awanpanas), hujan abu, aliran lava, banjir laharhinggairing-iringanawanpanas.Iring-iringanpiroklastik, setidaknyaakanberjatuhanpada areal seluas (radius) 9 kilometer.
PuraBesakih, ditutupkarena status “awas” gunung Agung. PusatVulkanologi MBG, merekomendasikanpenutupanpuraterbesar di Bali itu, untukperibadatan (umat Hindu) maupunrekreasiwisata. Sampai awal Oktober, gunungAgungmenunjukkanaktifitaslebihbesardanlebihkerapmenyemburkanabuvulkanik. Evakuasiwargadansaranapengungsiantelahdilakukandenganbaik. Termasukevakuasiwisatawan.
Berdasarkan UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, telah diamanatkan hak dan kewajiban pemerintah. Pada pasal 26 ayat (1) huruf b, dituliskan bahwa setiap orang berhak: “mendapatkanpendidikan, pelatihan, danketrampilandalampenyelenggaraanpenanggulanganbencana.”Masyarakat Indonesia yang bertabur (gunung) vulkanik, lazimnyaterbiasamenghadapierupsigunungberapi.
Sehingga tak perlu berlama-lama bersedih meratap di pengungsian.Tetapi adat lokalmeyakini, setiap bencana selaluadapahala. Walaubanyak sawah dan kebun gagal panen karena tertutup debu vulkanik.

——— 000 ———

Rate this article!
Tags: