Dinas Kesehatan Sidoarjo Ingatkan Bahaya Limbah Medis

dr Ika Harnasti. [alikus/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Pemilik dan pengelolah fasilitas kesehatan yang berada di Kab Sidoarjo, seperti rumah sakit, klinik dan Puskesmas , diingatkan supaya tidak membuang begitu saja limbah medis yang mereka hasilkan. Karena limbah medis tersebut tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3), yang bisa menularkan penyakit pada masyarakat.
”Limbah medis sekecil apapun yang dihasilkan oleh Faskes ini harus diperhatikan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kab Sidoarjo, dr Ika Harnasti MM, dihadapan pemilik dan pengelolah Faskes di Sidoarjo dalam kegiatan pembinaan pengelolahan limbah medis, Selasa (22/11) kemarin, di ruang rapat delta graha Setda Sidoarjo.
Disampaikan dr Ika, pihaknya bertanggung jawab dalam masalah ini. Sebab pihaknya sebagai pembina. Ia mengakui, sering didatangi para pemilik Faskes ini, karena sedang ada kasus.
”Makanya masalah pengelolahan limbah yang baik, yang sesuai dengan ketentuan, terus kami ingatkan, kalau tidak mereka akan bisa berurusan dengan aparat hukum,” katanya.
Di Kab Sidoarjo, jumlah Faskesnya sangat banyak. Untuk RSU saja, dari kategori kecil, sedang dan besar ada sebanyak 28. Tentunya menghasilkan limbah medis yang cukup banyak.
Data yang ia terima, untuk limbah medis di RSU bisa sampai 1,2 kg per hari dan Puskesmas bisa 270 gram per hari. Kalau tidak diolah dengan baik, maka akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Ia menyebut, sesuai data yang dikeluarkan WHO, meski limbah medis yang dihasilkan Faskes hanya sebesar 10 % sampai 20 % saja, tapi akan tetap bisa menularkan penyakit.
Ia menyebut contoh dulu alat suntik atau injeksi, dulu menjadi mainnan anak-anak. Setelah tahu bahayanya, maka limbah-limbah medis berupa alat-alat kesehatan tersebut, harus dilarang digunakan sebagai mainan anak-anak.
”Limbah medis itu rentan menularkan penyakit pada masyarakat, maka harus dikelolah dengan baik,” katanya.
Dr Ika mengatakan, pihak Faskes bisa menyerahkan pengolahan limbah medis ini pada pihak ketiga. Tapi tentunya, pihak ketiga tersebut harus punya izin. Ia juga mengatakan, pernah melihat IPAL limbah medis yang dimiliki sebuah rumah sakit, tapi menurutnya masih belum berfungsi dengan baik.
”Bagi pelanggar terhadap pembuangan limbah medis ini, bisa kena hukuman pidana maupun denda,” katanya. (kus)

Tags: