Berburu Kebuasan Manusia

Judul : Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Judul asli : Un viejo que leia historias de amor
Penulis : Luis Sepulveda
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Margin Kiri
Edisi : Agustus 2017
Tebal : 133 hlm, 12 x 19 cm
ISBN : 978-979-1260-71-8
Peresensi : Muhammad Khambali.
Pengelola buletin Oceh Buku dan Editordi Pustaka Kaji, Jakarta.

Seorang pembaca berperasaan dangkal yang mengharapkan sebuah cerita cinta dari buku ini jelas akan gampang merasa tertipu setelah membaca novel tipis berjudul amat romantis, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta(2017).Meskipun judul novelnya gampang mengecoh, Luis Sepulveda sebenarnya tidak benar-benar membual. Novel yang secara apik diterjemahkan oleh Ronny Agustinus ini memang berbicara banyak tentang cinta, tetapi dalam arti yang amat ideologis: alam, orang lain (liyan), maupun kemungkinan cinta yang hadir dalam kebuasan seekor macan kumbang.Lewat ceritanya,Sepulveda menawarkan sebuah bacaan sastra-ekologisyang menjungkirbalikkan pandangan antroposentrisme sekaligus memperlihatkan sisi gelap kebuasan dalam diri manusia.
Novel ini berlatar sebuah perkampungan di pedalamanEkuador bernama El Idilio, rumah bagi orang-orang indian Shuar. Sepulveda mengajak kita berpetualang menerobos belantara Amazon, keudikan orang-orang yang menyatu dengan alam, serta merasa memiliki kebebasan dapat”mengucilkan diri” dari peradaban modern yang mereka cela setengah mati.Semenjak awal kita telah disodori ocehan mengenai kebencian terhadap pemerintah, kedatangan para pendulang emas di hutan Amazon yang menimbulkan keresahan. Orang Shuar menyebut mereka sebagai bule-bule yang membawa senapan, merambah hutan, menembak dan berburu di hutan seenaknya.
Sementara Antonio Jose Bolivar, tokoh pak tua dalam novel ini, adalah seorang pembaca novel-novel cinta picisan. Buku-buku didapat dari temannya seorang dokter gigi bernama dr. Rubicundo Loachamin. Pak tua itu memintanya membawakan buku-buku bacaan, sambil menegaskan bahwa ia suka yang ada sedihnya, cinta tanpa harapan, dan akhir yang bahagia (hlm. 17).Bayangkan saja, umur pak tua hampir tujuh puluh dan tak ada yang melebihi kebahagiaan sewaktu membaca kisah cinta. Diceritakan pak tua membaca dengan perlahan, mengeja tiap silabel dan mengumamkannya lamat-lamat seakan luar biasa nikmat (hlm. 20).
Pak tua membaca dan tinggal di gubuknya sendiri. Telah lama ia ditinggal istrinya yang mati terbunuh malaria. Di El Idilio, Antonio Jose Bolivar datang sebagai seorang pendatang. Antonio Jose Bolivar belajar berburu, memancing, membangun pondok, dan cara hidup harmonis dengan hutan. Pak Tuahidup bersama orang Shuar, mengikuti ritus-ritus orang Shuar, dan menjelma sebagai pemburu paling disegani. Namun seperti yang dikatakan orang Shuar kepadanya, “Baik baginya untuk tidak jadi satu dengan mereka”. Pada bagian ini kita akan mendapati pemikiran ideologis perihal wacana identitas yang Sepulveda ajukkan dalam novel ini melalui apa yang dirasakan oleh pak tua bahwa,”Ia seperti mereka, namun bukan bagian dari mereka” (hlm.31).
Pak tua memutuskan ingin menetap di El Idilio. Namunsi walikota, tokoh antagonis dalam novel ini selalu dimakan cemburudan bersikap sinis terhadapnya. Di mata orang Shuar, pamor pak tua lebih tenar ketimbang walikota mereka.Dan penemuan sebuah mayat bule yang hanyut di sungai kemudian dijadikan sebagai alat mengancam oleh walikota untuk mengusik ihwal keberadaan pak tua sebagai pendatang di El Idilio. Dari bekas luka-luka di tubuh si bule, diketahui mayat itu terbunuh oleh seekor macan kumbang. Seisi kampung merasa terancam, dan pak tua tahu tak ada yang sanggup menghadapi hewan itu selain dirinya.
Novelnya yang berjudul asli Un viejo que leia novelas de amor ini Sepulveda tulis pada tahun 1989. Sepulveda adalah seorang novelis sekaligus aktivis politik yang dikenal sebagai pembela kebebasan dan lingkungan hidup yang telah mengalami getirnya penjara dan pengasingan.Pandangan dirinya mengenai sastra dapat kita simak dalam wawancaranya dengan jurnalis Perancis, Bernard Magnier (1998). Sastra bagi Sepulveda dapat memberi pembaca bahan renungan melalui tokoh-tokoh dalam novelnya, bahwa mereka harus mencermati apa yang terjadi pada dirinya dan berpikir.
Novelnya ini menandaskan pandangan Sepulveda tersebut melalui tokoh Antonio Jose Bolivaryang menyadari bentuk-bentuk keangkuhan manusia pada alam. Manusia dapat lebih buas ketimbang binatang.Kita dapat membandingkan tokoh pak tua dalam novel Sepulveda ini misalnya dengantokoh Santiago dalam The Old Man and the Sea(1952), Ernest Hemingway. Kedua novel tersebut sama-sama berbicara tentangpertarungan psikologis, yakni manusiamenghadapi kebinatangan dirinya sendiri; satu pertarungan hebat menaklukkan ikan marlin raksasa di lautan, dan satu lagi pertarungan sengit melawan macan kumbang di belantara hutan. Apabila dalam The Old Man and the Sea kita membayangkan sebuah perasaan menang dalam kekalahan Santiago yang hanya membawa pulang bangkai tulang ikan. Maka sebaliknya, dalam Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta kita mendapati perasaan kalah dalam kemenangan sebuah pertarungan penuh sesal. Di akhir kisah perburuannya, Antonio Jose Bolivar menyumpahi bule yang tewas itu, walikota, para pendulung emas, dan semua kebiadaban umat manusia.Tak pelak lagi, novel ini mengajak kita menyelami binatangisme dalam diri manusia.

———- *** ———–

Rate this article!
Berburu Kebuasan Manusia,5 / 5 ( 1votes )
Tags: