Sahyoto, Pande Besi Tertua yang Masih Eksis di Situbondo

Salah seorang pande besi di Situbondo, Sahyoto, meski sudah tua masih sanggup membuat samurai dan perkakas lainnya. [sawawi]

Pelanggan Masih Banyak, Kesulitan Mencari Besi Tua
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Sepertinya kejayaan pande besi sekarang sudah meleleh. Usaha pande besi kini jarang ditemui, contohnya di Kabupaten Situbondo yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Hal ini disebabkan mulai maraknya produk impor dan semakin terbatasnya bahan baku karena harganya yang mahal. Kondisi itu dirasakan, Sahyoto, salah satu pande besi yang masih tersisa di Dusun Gayam, Desa Curah Cottok, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo.
Saat ditemui Bhirawa, Sahyoto terlihat sedang menyelesaikan pembuatan arit, milik salah satu pelanggan tetapnya. Saat pertama kali disapa, Sahyoto langsung mengajak ketempat pembuatan celurit, pedang samurai, arit, pisau dapur hingga keris. Meski sudah udzur, ternyata Sahyoto masih tampak kuat memukul alat pande besi dibelakang rumahnya. “Seperti ini (memukuli besi hingga tipis, red) sudah biasa mas,” ujar Sahyoto.
Dengan tangannya yang mulai keriput, Sahyoto tetap tampak lihai membolak-balikkan lonjoran besi, bahan baku pisau dan sejenisnya. Keahlian sebagai pande besi untuk pembuatan perkakas ini, ia tekuni sejak masih remaja. Ilmu itu, ia dapati dari orang tuanya sendiri yang kini telah tiada.
Sahyoto muda kala itu, belum bisa apa-apa, hanya melihat dari dekat dikala orang tuanya membuat pisau dan semacamnya. “Bapak saya juga dikenal luas di Situbondo sebagai pembuat perkakas yang bagus,” ungkapnya.
Kini, disaat usianya yang mulai senja, Sahyoto masih seorang diri membuat perkakas dari bahan besi, dikediamannya. Anak-anaknya, tidak ada satu pun yang ingin meneruskan keahliannya sebagai pande besi andalan di Situbondo.
Sahyoto juga ingat, keahlian tersebut ia tekuni sudah cukup lama hampir 45 tahun lebih lamanya. Dengan memegang teguh prinsip tekun dan displin, Sahyoto, hingga saat ini masih mampu melayani pemesanan yang semakin banyak. “Tiap hari ada saja yang memesan kesini,” terangnya.
Sejak puluhan tahun berkecimpung sebagai pande besi, Sahyoto kini mengaku kesulitan untuk mencari bahan besi tua yang mirip bahan baku keris atau pedang. Sebaliknya yang ada saat ini hanya besi biasa yang dijual oleh pengepul barang rongsokan.
“Ada besi yang sangat berkualitas bagus dan tidak akan karatan meski dipakai dalam waktu lama. Yaitu bahan besi yang ada pada daun pintu rumah kuno. Namun bahan besi seperti itu kini sudah jarang ditemukan,” jelasnya.
Sahyoto, mengaku diantara pemesan perkakas terbanyak hanya berasal dari lokal Situbondo saja. Sementara dari daerah lainnya seperti Banyuwangi, Bondowoso, Jember dan Probolinggo, juga ada meski tak banyak. “Saya kalau membuat kapak atau arit bisa 12 jam selesai. Tetapi kalau membuat pedang samurai dan keris waktunya lebih lama lagi. Tapi kami tetap menjaga model dan kualitas barangnya, sesuai pesanan pelanggan,” pungkasnya.
Hamid, salah satu anak Sahyoto, mengaku angkat topi atas kedisiplinan orang tuanya itu. Ia mengaku, sangat sulit untuk mengikuti keahlian yang dimiliki orang tuanya. Selain faktur kesulitan dalam menguasai ilmunya, Hamid juga kurang berminat untuk menjadi seorang pande besi. “Ya sulit sekali untuk bisa membuat perkakas yang cepat, kualitas bagus dan disenangi oleh pelanggan. Disini sangat banyak yang pesan perkakas sama orang tua saya,” tutur Hamid.
Salah satu pelanggan tetapnya, Ismail, menuturkan, perkakas hasil buatan Sahyoto, selain bagus juga memiliki model yang unik dan berbahan baku orisinil. Ismail, sering memesan perkakas kepada Sahyoto, selain untuk dijual kembali kepada kerabatnya juga dijual kepada sahabatnya sesama petani di Situbondo.
Selain itu, urai Ismail, perkakas buatan Sahyoto memiliki ketajaman yang awet bila dibandingkan dengan tempat pande lainnya. “Saya sudah cukup lama menjadi pelanggan tetap Sahyoto. Perkakas itu ada yang saya jual lagi dan ada sebagian yang memang dijadikan koleksi di rumah,” tandasnya. [sawawi]

Tags: