IbM Umsida Bantu Produksi UKM Krupuk Ikan

Emy Rosna Wati mendampingi mahasiswanya saat membantu proses pengemasan yang bisa tahan lama.

Sidoarjo, Bhirawa
Para pelaku Usah Kecil Menengah (UKM) di wilayah Sidoarjo, kondisinya sebagian masih kurang maksimal hasil produksinya. Di antaranya mulai pengolahan, pengemasan bahkan untuk masalah legalitas, atau perizinannya juga masih ada yang belum lengkap bahkan ada yang belum  memiliki.
Dilandasi keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat, Tim IbM (Iptek bagi Masyarakat) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang Ketuai oleh Emy Rosna Wati, SH MH dengan anggota Mochamad Tanzil Multazam, SH. M.Kn dan Athika Sidhi Cahyana, ST MT telah melakukan kajian, pembinaan dan pemberian solusi bantuan sarana untuk percepatan porses produksi terhadap mitra kerja/mitra programnya.
Di sela-sela prosesi pembinaan kepada mitra programnya, Emy Rosna Wati mengatakan kalau IbM telah menerapkan program tersebut kepada pelaku pengrajin krupuk ikan, yakni Hj. Ismawati dan Hj. Latifatul Usriyah warga Desa Sawohan Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Dalam realisasinya, kami juga dibantu oleh lima mahasiswa dari Umsida.
Adapun permasalahan atau keluhan yang mereka dihadapi adalah kualitas produksi masih sangat rendah, sehingga sering kali menolak pesanan konsumen. Belum ada ijin yang memadahi, belum adanya proses pengemasan yang baik, hingga menyebabkan produksi krupuk tidak bisa tahan lama. “Belum juga mempunyai ijin yang memadahi, serta minimnya pengetahuan akan menejemen keuangan dan produksi,” jelas Emy Rosna Wati, kemarin(12/10) kemarin.  Oleh karena itu, program IbM Umsida telah menawarkan/membantu mintra untuk menguraikan pemecahan masalah/solusinya, diantaranya meningkatkan pengetahuan serta menyadarkan mereka terhadap perijinan, BPOM dan LPPOM MUI dan Merk/Haki. Kami juga akan melakukan pendampingan dalam pengurusannya sampai tuntas. Juga akan membantu meningkatkan mitra terhadap tehnik produksi krupuk, manajemen  produksi dan tata kelola keuangan.
Hasil produksi yang cukup rendah, berkisar 7 hingga 10 kg per hari, akan memberikan solusi/memfasilitasi dengan mesin pemotong, mesin pengemas (Vacuum Seal), alat penanak daging ikan dan kompor yang memadai.
“Capaian yang diharapkan produksi meningkat di atas 50 %, pemahaman keterampilan dan manajemen keuangan hingga 75 % serta penuntasan perijinan. Semunya ini sudah berjalan dengan baik, sampil menunggu perkembangan hingga dilakukan monev,” pungkas Emy Rosna Wati. [ach]

Tags: