Urban logistics Adalah Isu Masa Depan

Wali Kota Tri Rismaharini ketika menerima cindera mata dalam workshop Manajemen Transportasi dan Logistik Penting untuk Perkembangan Kota Selasa (12/9). [trie diana/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Logistik perkotaan merupakan salah satu pilar penting bagi pertumbuhan Indonesia. Logistik dan e-commerce merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
”Urban logistics adalah isu masa depan yang konkret. Logistik sebagai sektor yang memberikan dukungan esensi terhadap kehidupan urban itu menjadi suatu yang sangat menantang yang kita hadapi sekarang,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawadi dalam acara Urban Logistics and Land Transportation Management Workshop di Ciputra World Surabaya Hotel, Selasa (12/9).
Menurut Edy, e-commerce adalah bagian dari logistik karena logistik bukan hanya berkaitan dengan barang, melainkan juga menyangkut informasi. Sebaliknya, e-commerce adalah salah satu alat untuk mengefisienkan kegiatan logistik.
”Populasi dunia  mulai bergerak menuju urban area. Pada 2050, ada sekitar 199 dari lebih kurang 350 juta penduduk Indonesia akan berada dalam posisi di urban area. Untuk itu, logistik perkotaan merupakan isu konkret yang amat perlu menjadi perhatian,” tuturnya.
Paket Kebijakan Ekonomi ke-1 hingga ke-14 juga banyak menyinggung mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perbaikan logistik. Khususnya dalam Paket Kebijakan Ekonomi ke-14, pemerintah fokus pada peta jalan e-commerce.
”Dalam paket 14, pemerintah menyusun peta jalan logistik. Pemerintah menyusun suatu peta konektivitas, khususnya berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan e-commerce,” imbuh Edy.
Edy menambahkan bahwa di Paket Kebijakan Ekonomi selanjutnya (paket ke-15), pemerintah juga akan fokus pada logistik untuk membuat suatu penyediaan barang dan harga barang lebih stabil.
Sementara itu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ketika menjadi pembicara dalam Workshop Urban Logistics and Land Transportation Management for Leaders berpendapat, seharusnya jalur-jalur ekonomi yang biasa dilalui kendaraan pengangkut logistik mestinya tidak berbayar. Sehingga, biaya pendistribusian barang menjadi lebih murah yang akan berpengaruh juga terhadap harga kebutuhan sehari-hari masyarakat.
”Akses ekonomi harusnya tidak bayar, bahkan harusnya disuplai pemerintah kota. Karena itu akan berpengaruh dengan harga barang,” kata Risma.
Risma mengaku, di Surabaya upaya tersebut tengah dilakukan yakni dengan pembangunan jalan lingkar luar barat dan lingkar luar timur Surabaya. Kedua jalur tersebut nantinya dikonsentrasikan untuk mobil angkutan barang.
Konsep kedua ruas jalan tersebut adalah bukan sebagai jalan tol. Sehingga, mobil pengangkut barang tidak perlu membayar tol, yang artinya biaya distribusi menjadi lebih murah.
”Jadi barang ataupun manusianya harus dihitung efektivitasnya. Karena kalau cost untuk transportasi lebih mahal dibanding untuk makan, malah bahaya,” ucap Risma. [dre]

Rate this article!
Tags: