Tunjuk Enam Unmuh Lakukan Pembinaan Sekolah Tinggi

Universitas Muhammadiyah Malang

Dikti Muhammadiyah Sikapi Desakan Merger Kemenristek dan Dikti
Surabaya, Bhirawa
Desakan merger Kementerian Ristek dan Dikti membuat pengelola Perguruan Tinggi Swasta semakin berhati-hati. Khususnya bagi PTS yang memiliki mahasiswa kurang dari seribu orang. Di sisi lain, Kemenristek dan Dikti  juga menargetkan adanya pengurangan dari 4 ribu menjadi seribu perguruan tinggi di Indonesia.
Anggota Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah Prof Achmad Jainuri menerangkan, di Jatim pembinaan terhadap Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sedang digalakkan. Ada enam Universitas Muhammadiyah (Unmuh) yang ditunjuk untuk melakukan pembinaan terhadap 21 sekolah tinggi Muhammadiyah se Jatim.
“Kita tanggapi statement-statement pemerintah (Kemenristek dan Dikti) itu dengan kerja keras. Meski pemerintah sendiri sekarang dengan mudahnya mengeluarkan ratusan doktor yang justru jadi pembicaraan di masyarakat akademik,” tutur Prof Jainuri dikonfirmasi kemarin, Senin (18/9).
Ancaman-ancaman dari pemerintah, lanjut Jainuri, meski hingga kini tidak jelas kepastiannya akan tetap menjadi perhatian. Namun, pilihan merger tidak akan dengan mudah diambil oleh Muhammadiyah lantaran PTM umumnya dirintis dari masyarakat di bawah.
“Kita lakukan pembinaan untuk memperbaiki mutu sesuai standar BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi),” tutur dia.
Jainuri mencontohkan, STIE Ahmad Dahlan di Lamongan, kendati hanya memiliki sekitar 600 mahasiswa, pihaknya yakin masih berpotensi untuk dikembangkan. “Sudah kita panggil dan kita berikan pembinaan,” tutur mantan Rektor Unmuh Sidoarjo (Umsida) tersebut.
Untuk wilayah Lamongan, Tuban dan Bojonegoro, pembinaan akan dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Sementara untuk wilayah Pasuruan dan Mojokerto akan dibina oleh Umsida. Pembinaan meliputi SDM di PTM sekaligus pembenahan sarana pra sarana. “Untuk penguatan sarana pra sarana dalam bentuk fisik ini, kita sudah bekerjasama dengan Bank Jatim. Pihak bank telah mengalokasikan pinjaman lunak hingga Rp1 triliun,” tutur Jainuri.
Sementara itu, Koordinator Kopertis 7 Jawa Timur Prof Suprapto mengatakan, Kemenristek Dikti mengimbau agar perguruan tinggi meningkatkan kualitas. Salah satunya melalui merger. Perguruan tinggi yang kurang kuat dan berada dalam satu yayasan, bisa bergabung. Suprapto memisalkan, di Madiun, terdapat IKIP dan Stikes yang bisa bergabung menjadi universitas.
Menurut dia, pengajuan untuk merger terus bertambah. Pekan ini, jelas dia, setidaknya akan ada lagi pertemuan dengan perguruan tinggi yang akan melakukan merger. Suprapto menyebut, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari melakukan merger.
Salah satunya adakah efisiensi. Dari segi kepemimpinan, misalnya. Dari semula dua pemimpin, maka setelah merger akan menjadi satu pimpinan. Terutama lembaga yang berasal dari satu yayasan. Praktis, manajemen juga akan menjadi lebih efisien. “Karena satu komandan, satu manajer,” tuturnya.
Adapun lembaga yang berbeda yayasan, juga bisa bergabung. Biasanya ini dilatarbelakangi dengan visi yang sama. Selain itu, merger juga bisa dilakukan ketika jumlah mahasiswa minim. Biasanya, jelas dia, satu prodi setidaknya ada 20 mahasiswa. Sebanyak 20 mahasiswa itu ideal untuk bagi sebuah prodi untuk break event point (BEP) alias tidak untung dan tidak rugi. “Tapi kan BEP, belum dapat untung,” terangnya. Karena itu, dengan merger, jumlah mahasiswa bisa bertambah dan memberikan keuntungan lebih kepada lembaga. Saat ini, di Jawa Timur, ada 330 perguruan tinggi swasta. Dari 330 lembaga itu bisa berkurang sedikit demi sedikit karena merger. Namun, kualitasnya tentu akan semakin meningkat. “Mudah-mudahan bisa lebih berguna lagi. Karena kemajuan wilayah bergantung juga pada perguruan tingginya,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Ristek Dikti M Nasir mengatakan, jumlah perguruan tinggi mengalami pertumbuhan setiap hari. Karena itu, PTS yang akreditasi C harus didorong untuk meningkatkan kualitas. Perguruan tinggi yang kecil dalam satu yayasan bisa saling bergabung. Demikian pula yang berbeda yayasan. “Supaya lebih kuat, akreditasi juga naik,” pungkasnya. [tam]

Tags: