Bojonegoro Dipromosikan BNBP ke Internasional

Kepala-BNPB-Willem-Rampangilei-saat-kunjungan-kerja-di-Bojonegoro.-[achmad-basir/bhirawa]

(Sukses Kelola Kebencanaan)

Bojonegoro,Bhirawa
Keberhasilan Bojonegoro menangani dan mengelola kebencanaan mendapat apresiasi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei. Saat melakukan kunjungan  ke Bojonegoro, Kamis (14/9) , Willem menyebut  Bojonegoro  layak dipronosikan ke kancah internasional dalam pengelolaan kebencanaan.
Kepala  BNPB Willem Rampangilei mengakui,  bahwa  Kabupaten Bojonegoro termasuk daerah di Indonesia yang telah berhasil  mengelola bencana. ” Karena keberhasilan inilah maka Bojonegoro  sering dipromosikan  oleh BNPB  di Kancah  internasional,” kata Willem Rampangilei dihadapan  Bupati  Bojonegoro , Suyoto yang menyambut langsung kunjungan kerjanya.
Willem menuturkan ada tiga hal yang didapat di Bojonegoro dari sosok Bupati, yakni beliau pribadi yang luar biasa dengan beragam inovasi,  bupati  dalam event apapun selalu memperjuangkan kepentingan rakyatnya.
“Serta apa yang dilakukan di Bojonegoro layak untuk dipromosikan di kancah luar negeri,” ujarnya.
Ditambahkan, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil Bojonegoro, salah satunya kecerdasan mengelola kekeringan dengan embung. Apalagi setelah mengetahui jumlah  embung yang semula dikira 300, ternyata saat ini sudah mencapai 500 buah embung di seluruh wilayah Bojonegoro utamanya wilayah rawan kekeringan.
“Di Indonesia  ada dua wilayah yang mampu mengelola kekeringan yakni Bogor dan Bojonegoro,” jelasnya.
Sementara  itu Bupati Bojonegoro, Kang Yoto menceritakan tentang bagaimana ketahanan bencana yang dibangun di Bojonegoro salah satunya adalah perhitungan waktu dan daerah terdapat akibat banjir luapan sungai Bengawan Solo.
“Pemkab  juga membuat  titik pengungsian yakni Taman Evakuasi Banjir Bahagia yang menjadi titik pengungsi, tak hanya manusia hewan ternak juga dipikirkan untuk mendapatkan lokasi pengungsian,” katanya.
Bupati yang menjabat dua periode itu menyebut, diperhatikannya hewan karena rojokoyo berupa hewan ternak ini mampu  mengurangi dampak kerugian. Selain itu kita juga mengembangkan kawasan langganan banjir sebagai daerah yang memiliki nilai ekonomi.
Dicontohkan, di daerah terdapat banjir ini kini disulap menjadi kawasan agro wisata antaralain kawasan buah jambu kristal dan belimbing. Tanaman keras ini ternyata mampu bertahan di daerah banjir.
Serta penanganan kekeringan yang dilakukan di Kabupaten Bojonegoro yakni dengan sistem embung atau Geo Membran dikawasan rawan kekeringan. Ternyata embung  membawa dampak positif. Embung  memiliki nilai strategis setidaknya ada 3 point penting yakni cadangan saat musim kering  dan panen air atau menangkap air saat musim penghujan, mendukung  produksi  pertanian di kawasan pertanian.
“Salah satunya meningkatkan produksi  tanaman  bawang merah, dan untuk kebutuhan konsumsi  yakni  ternak,” imbuhnya.
Pada acara yang sama. BNPB juga  memberikan bantuan untuk penanggulangan bencana  di beberapa Kecamatan  di Kabupaten  Bojonegoro senilai Rp 10  miliar dan bantuan logistik dan peralatan kepada BPBD  Kabupaten Bojonegoro. Bantuan sebesar Rp 10 miliar untuk Kegiatan  Rehabilitasi dan Rekonsiliasi Bencana.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Kepala BNPB  Willem Rampangilei kepada Bupati  Bojonegoro Kang Yoto.
Willem Rampangilei mengatakan, dana tersebut dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk Kegiatan  Rehabilitasi dan Rekonsiliasi Bencana.
” Bantuan untuk penanggulangan bencana  di beberapa Kecamatan  di Kabupaten  Bojonegoro,” ujar Willem  Rampangilei.
Sementara itu Anggota  Komisi  VIII DPR RI  Kuswiyanto  dari dapil Bojonegoro Tuban mengatakan, bahwa komisinya  telah berhasil  mengalokasikan  anggaran  rehabilitasi dan rekonstruksi  untuk Bojonegoro  mencapai  Rp 10 miliar yang akan dibangun di beberapa titik antara lain Kecamatan Ngasem,  Gondang, Sekar,  Kedungadem serta wilayah  Kecamatan  Balen dan Kanor.
DPR  bersama pemerintah di tahun 2018 nanti akan mulai membahas rencana  pembangunan bencana di seluruh wilayah Indonesia.
Bupati Bojonegoro Kang Yoto menyampaikan, bahwa warga Ngasem selama ini akrab dengan bencana kekeringan dan angin puting beliung. Meski hidup  di daerah  rawan  bencana  namun  semangat  masyarakat luar biasa.
“Tak hanya itu dari kondisi ini menghadirkan kecerdasan  lokal masyarakat,” katanya.
Dalam guyonannya Kang Yoto  menyebutkan, bahwa untuk  memiliki anak lebih cenderung dimusim  penghujan  karena ketersediaan air yang melimpah ruah.Tak hanya itu  kearifan lokal juga banyak  ditemukan  di daerah  yang rawan bencana.
Bupati  berpesan agar kedepan akan ada pemimpin Bojonegoro yang lebih cerdas  dan lebih  baik.
“Jadi jangan salah  pilih  pemimpin  agar bisa membawa Bojonegoro lebih baik,”pesanya. [bas]

Tags: