Penerapan e-Parking Belum Mendesak di Kota Malang

foto ilustrasi

Kota Malang, Bhirawa
Pemkot Malang memandang penerapan e-Parking masih belum mendesak dilakukan.Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Kusnadi menyampaikan, saat ini Kota Malang belum membutuhkan e-parking. Karena jika benar diterapkan, maka ribuan pengangguran akan dicetak di kota Malang.
“Kalau ada e-parking, ada masalah baru yang dihadapi oleh Pemkot Malang. Karena pasti ada penolakan dari tukang parkir.”Jumlah tukang parkir kita sangat banyak, lantas mau kita di kemanakan. Dua ribu lebih masyarakat  yang berprofesi sebagai tukang parkir,” ujar Kusnadi Senin 11/9 kemarin.
Sebelumnya sejumlah fraksi  di DPRD Kota Malang kembali mengusulkan untuk mengatasi kebocoran parkir,  agar Pemerintah Kota Malang menerapkan e-parking (parkir elektronik). Namun usulan itu tampak sulit direalisasikan.
Namun demikian Kusnadi mengakui, sistem e-parking  memang sangat bagus untuk diterapkan. Di beberpa kota besar, sudah diterapkan dengan sistem yang  rapi. Namun untuk dalam waktu dekat, ia menolak untuk merealisasikannya terlebih dulu.
“Kita lihat perkembangannya dan mulai lakukan langkahnya. Kalau langsung dibuatkan skemanya e-parking, saya tidak setuju. Mungkin kalau memang sudah sangat mendesak baru boleh,”imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji menambahkan, ketika benar akan menerapkan sistem e-parking, maka selain melakukan kajian lebih mendalam, Pemkot juga harus lebih berhati-hati lagi. Salah satunya dengan mengajak bicara para pemilik parkir di Kota Malang.
“Tentunya harus berhati-hati, dan mengajak bicara pengelola parkirnya,” terang pria yang juga seorang uztadz ini.
Sementara itu, persoalan lalu lintas yang dihadapi oleh Pemkot Malang sangat komplek tidak hanya persoalan parkir saja. Seperti kemacetan yang kerap terjadi di kawasan Sawojajar.          Bahkan  Dinas Perhubungan Kota Malang baru saja memasang traffic light atau lampu merah di beberapa titik kawasan Sawojajar. Namun sayangnya, keluhan dari warga dan pengguna jalan masih saja berlanjut.
Di jam-jam tertentu, kawasan Sawojajar memang selalu dipadati oleh banyak kendaraan. Tak hanya di pagi hari dan sore hari, di siang hari dan jam sibuk pun, macet masih saja melanda. Padahal, sepanjang kawasan setelah rampal hingga BTN Sawojajar, setidaknya ada tujuh TL yang terpasang.
Dari arah kota TL terpasang setelah jembatan Sawojajar, di situ terpasang empat TL dari arah yang berbeda. Sekitar 10 meter lagi, ada empat unit lampu merah yang baru saja di pasang. Tak jaih, tepatnya di kawasan perempatan Bank BTN Sawojajar ada tiga lampu merah.
Masalah ini juga ditangapi Kusnadi ia, menyampaikan, TL yang baru saja di pasang di dekat perempatan Ranugrati saat ini masih dalam uji coba. Rencananya, dalam 10 hari, evaluasi akan dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat efektivitasnya.
Meski saat ini proses uji coba masih belum genap satu minggu, namun menurutnya masyarakat sudah banyak yang merasa terbantu. Di mana kemacetan sudah dapat terurai dan tidak separah seperti sebelumnya.
“Sudah banyak yang bilang kalau nggak macet seperti dulu. Belum genp 10 hari, jadi kita lihat terus nanti,” tambah Kusnadi.
Sebelumnya pemasangan TL di kawasan Sawojajar, tepatnya di area Pom Bensin Sawojajar itu memang atas dasar keluhan warga yang merasa selalu terjebak macet. Salah satunya setelah adanya pembangunan Giant Sawojajar yang sebelumnya banyak diprotes oleh warga perumahan sekitar.
Tak hanya di kawasan Sawojajar, problem kemacetan ini pada dasarnya juga banyak dialami di banyak jalan utama Kota Malang. Volume kendaraan yang terus bertambah merupakan salah satu faktor utama. Karena lebar jalan saat ini juga tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. [mut]

Tags: