Menpora Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Ampel

Rektor UINSA Prof Abd A’la (kiri) memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Menpora RI Imam Nahrawi di Gedung Sport Center Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Kamis (14/9) kemarin. [Gegeh Bagus Setiadi]

Lebih Suka Dipanggil Cak Imam Ketimbang Doktor
Surabaya, Bhirawa
“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” pidato Presiden RI Pertama, Ir Soekarno ini ditirukan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi saat orasi ilmiah jihad kebangsaan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Kamis (14/9) kemarin. Orasi ini disampaikan usai menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari UINSA dalam bidang kepemimpinan pemuda berbasis agama.
Imam mengungkapkan anugerah gelar akademik ini diluar ekspektasinya.  Dengan terbata menahan haru, pria yang menuntaskan S1 selama 7 tahun ini mengungkapkan rasa terima kasihnya pada semua pihak yang mendukungnya selama ini. Bapak 7 anak ini merasa  darma bhakti yang harus dipersembahkan kepada negeri ini masih jauh dari apa seharusnya ingin dilakukan.
“Saya tidak menyangkan, tidak menduga, dan tidak membayangkan sebelumnya. Ini sungguh diluar mimpi saya, ini adalah amanah yang harus dijalankan meski berat,” kata Imam yang didampingi sang istri, Shobibah Rohmah.
Alumnus Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah UINSA pada tahun 1997 ini pun enggan dipanggil doktor meski telah menyandang gelar Doktor HC. Sebab, Cak Imam, sapaan akrabnya mengutarakan bahwa gelarnya sungguh sangat berat untuk dilaksanakan.
“Tetap panggil Cak Imam saja jangan doktor. Karena gelar ini sungguh sangat berat untuk saya laksanakan. Tetapi, saya pernah besar di kampus ini dari segala keadaan. Tetapi saya tidak bertemu istri saya disini,” ujarnya seraya melirik istrinya yang mengenakan kebaya warna hijau.
Cak Imam bercerita di kampus UINSA telah banyak menempa kehidupan. Mulai belajar tentang kemandirian, keikhlasan, ketulusan, dan belajar tentang pengabdian. Bahkan, sempat tidur di masjid dan membantu menjadi muadzin hingga menjadi guru ngaji di masjid Ulul Albab UINSA.
“Jadi betul-betul telah menempa diri saya di kampus ini. Menjadi aktivis itu tidak mudah karena harus memilih wisuda tepat waktu. Rupanya saya belum bisa tepat waktu. Tapi semuanya saya syukuri,” paparnya.
Pria kelahiran Bangkalan Jatim ini mengaku hanya bercita-cita menjadi guru. Namun, jalan hidupnya telah menghantarkan menjadi seorang politisi. “Tentunya saya bersyukur bisa lebih belajar pada kehidupan yang lebih kompleks,” terangnya.
Sementara, istri Imam Nahrowi, Shobibah Rohmah mendukung setiap jalan suaminya sudah menjadi kewajibannya. Dengan harapan, gelar doktor tidak menjadikan sebagai sebuah kebanggaan dan kesombongan. “Justru harus menjadi semakin bertambahnya keberkahan ilmu dan juga sebagai pintu kemanfaatan yang lebih luas,” katanya yang terlihat meneteskan air mata sebagai rasa bangga yang dicapai sang suaminya.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UINSA, Prof A’la berharap, melalui penganugerahan doktor HC ini bisa menjadi pemacu UINSA dalam mencetak generasi muda dan calon pemimpin yang unggul. Sehingga ke depan, akan lahir pemimpin-pemimpin masyarakat, bangsa, dan negara yang baik dan unggul demi menjamin terciptanya keadaban publik secara lebih baik.
“Anugerah ini diberikan pada Menpora lantaran terobosan dan inovasinya pada pengembangan karakter pemuda,” katanya.
Prof A’la menanggapi gagasan jihad kebangsaan pemuda yang digagas Imam merupakan sebuah gagasan yang menarik. Dimana gagasan yang dibangun diatas nilai-nilai Islam dan nasionalisme tersebut mengacu pada konsep KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang “Pribumisasi Islam”.
Yakni, Nilai Islam diterjemahkan ke dalam sikap dan praktik toleransi, moderasi, keadilan serta komitmen untuk menjadi harmoni dengan semua pihak.  Sikap dan praktik tersebut lalu diorientasikan kepada penciptaan keadaban publik melalui penguatan peradaban kemanusiaan.
“Semangat jihad kebangsaan, yang menjadi argumen besar orasi ilmiah harus digelorakan untuk memperkuat kemampuan pemuda dalam membayar lunas tanggung jawab dan perannya dalam meneguhkan keadaban publik,” tegasnya.
Prof Husein Aziz, direktur Pasca Sarjana UINSA mengungkapkan Menpora dirasa layak atas Gelar Kehormatan setelah melihat komitmen untuk terus membangun kepemudaan baik dalam bidang keolahragaan, pembangunan karakter, maupun pendidikan.
Selain itu, dari sisi akademis, Tema Kepemimpinan Pemuda Berbasis Agama yang diangkat Imam baginya sangat menarik untuk diangkat sebagai kajian. Mengingat, kepemimpinan pemuda mengacu kepada kekuatan, keilmuan, kecerdasan, militansi dan intelektual. Sementara agama, merujuk kepada integritas dan akhlak yang mulia.
“Integrasi kedua aspek ini dibutuhkan dalam membangun peradaban bangsa. Agama tanpa keilmuan mengakibatkan melemahnya peradaban dan mendatangkan problem sosial dan ekonomi. Sedangkan keilmuan tanpa agama menimbulkan dekadensi  nilai-nilai kemanusiaan,”ungkapnya.[geh]

Tags: