Menjadi Guru Pembelajar Otentik

Judul Buku   : Inspiring Classroom Stories
Penulis   : Niken Purwani
Penerbit   : Bhuana Ilmu Populer
Edisi     :  2017
Tebal     : 302 Halaman
ISBN     : 978-602-394-718-8
Peresensi   : Khoirun Nisak,
Penikmat Buku

Menjadi seorang guru adalah sebuah realita yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh guru bahasa Inggris SMAN 1 Cilacap ini. Dalam stereotipenya, “guru adalah sosok yang memelas. Berdiri di depan kelas dengan mulut berbuih, mencoba berbagi ilmu kepada pemburu ilmu belia yang tak pernah peduli”.
Menjalani profesi ini diawali dengan satu kata, “Terpaksa” tak ayal telah mengubah hidupnya 180 derajat. Kesulitan, rintangan, dan hambatan silih berganti dihadapinya, namun justru di sinilah awal munculnya ide-ide kreatif untuk menjadikan kelasnya lebih hidup. Dia pun berjanji dalam hati untuk menjadi seorang guru yang minati dan dinanti oleh siswanya.
Sejatinya dalam diri seorang guru melekat empat kompetensi, yang di antaranya: Kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Tinggal bagaimana guru mengembangkan empat kompetensi tersebut agar bermanfaat bagi siswanya.
Guru bisa memilih untuk menjadi seorang guru yang mengajar dan mendidik sepenuh hati atau setengah-setengah. Inilah yang  seringkali menghantui perasaan perempuan kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini kala berhadapan dengan siswanya. Mengajar setengah-setengah bukanlah hal yang dia inginkan.
Berangkat dari sinilah kemudian tanpa hentinya guru penulis yang akrab dipanggil dengan sebutan Keke ini selalu memutar otak agar tidak ada penyesalan ketika dirinya masuk ke kelas dan mengajar siswa. Setiap hari dia berpikir untuk menciptakan inovasi-inovasi dalam pembelajarannya.
Niken merasakan bahwa pembelajaran itu harus variatif, sehingga siswa pun tidak mengalami kebosanan. Berbagai cara dipikirkan, bahkan terkadang inspirasi tersebut muncul secara tiba-tiba sesaat sebelum memasuki kelasnya. Berbagai kreativitas dimunculkannya dalam mengajar, termasuk pembelajaran bernuansa game.
Menurutnya, game spontan sederhana yang dirancang seorang guru dalam waktu singkat, justru akan mendapat respons luar biasa dari penghuni kelas. “So, be creative and the class is all yours”. (hal 49).
Sebagai pengajar bahasa, Niken tak ragu mempergunakan game-game dalam pembelajarannya. Dengan beberapa dasar, di antaranya dikutip dari pernyataan Lee Su Kim, (1995) yang menyebutkan beberapa alasan pentingnya mempergunakan permainan dalam kelas, di antaranya: supaya siswa istirahat sejenak dari rutinitas kelas bahasa, menantang siswa dalam belajar bahasa, membuat siswa berusaha secara terus-menerus, dan mempraktikkan empat kompetensi dalam belajar bahasa, seperti keterampilan berbicara, menulis, mendengar, dan membaca.
Penyajian pembelajaran dengan konsep yang menyenangkan itu harus. Meskipun bukan hal yang mudah ketika harus berhadapan dengan berbagai karakter siswa. Terkadang sikap tegas juga perlu diambil jika seorang siswa sudah melanggar batasannya. Ini pula yang dilakukan oleh bu Keke. ” Selanjutnya bersikap elegan dan tetap kuasai emosi akan menunjukkan otoritas kuat Anda sebagai penguasa kelas”. (hal. 85).
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Di sinilah seorang guru diharapkan mampu mewadahi berbagai macam gaya belajar siswanya agar pembelajaran tersebut menjadi kondusif. Dikutip dari Bobbi Deporter, (2015) Rita Dunn seorang pelopor bidang gaya belajar menemukan banyak variable yang memengaruhi cara belajar orang, mencakup faktor fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan.
Berdasarkan konsep tersebut, bu Keke berupaya menyuguhkan pembelajaran yang memperhatikan kondisi ketiga faktor. Dengan acuan pertama bahwa sesungguhnya belajar haruslah dilakukan dengan penuh kegembiraan.
Menjadi guru bukan saja seputar mentransfer pengetahuan kepada siswanya, melainkan sepenuhnya bisa saling memahami sebagai bagian dari sebuah keluarga. Termasuk bilamana seorang guru harus memberikan perlakuan berbeda bagi siswa yang membutuhkan pelayanan khusus. ” Seorang guru mungkin hanya memberikan bantuan kecil, namun hal itu bisa jadi sangat berarti bagi siswa sehingga bisa mengubah dunianya”.(hal. 105).
Buku ini berisi berbagai tips dan trik untuk menjadi guru yang otentik. Sebagai pendidik, pengajar, sekaligus pembelajar bagi dirinya sendiri melalui kehadiran siswa yang beranekaragam. Pembelajaran hidup acapkali diperolehnya dari pengalaman mengajarnya.
Melalui bahasa tutur yang sederhana dan mudah dicerna, pembaca akan mampu memahami berbagai inspirasi yang hendak dibagikan penulisnya. Berbagai gaya mengajar yang dipergunakan dalam kelas pun bisa diadaptasi untuk guru yang kesulitan menghadapi siswa dengan karakter tertentu.
Membaca buku ini akan mengubah mindset pembaca khususnya guru. Bahwa sejatinya menjadi guru yang dinanti dan diminati tidaklah sesulit yang dibayangkan. Selamat menikmati.

                                                                                                              ———– *** ————

Rate this article!
Tags: