Harga LPG 3 Kg Lampaui HET di Kabupaten Situbondo

Pejabat Pemkab bersama sejumlah anggota DPRD Situbondo saat sidak di SPE Desa/Kecamatan Kapongan, baru baru ini. [sawawi/bhirawa].

(Distribusi Amburadul, DPRD Gelar Sidak)
Situbondo, Bhirawa
Melambungnya harga elpiji khusus 3 kg hingga melebihi HET (haga eceran tertinggI) memantik Komisi II DPRD Situbondo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah agen dan Stasiun Pengisian Elpiji (SPE) di Kecamatan Kapongan, kemarin. Sidak itu dilakukan  menyusul terjadinya kelangkaan LPG 3 kg ditingkat pengecer sepekan terakhir ini. Pejabat dari Pemkab Situbondo ikut serta mendampingi sidak tersebut, diantaranya Asisten II Setkab (bidang ekonomi pembangunan) Sofwan hadi dan Kabag Ekonomi Sentot Sugiyono.
Pengamatan Bhirawa, Komisi II DPRD Situbondo melakukan sidak tidak sendirian melainkan bersama Tim Pengedali Inflasi Daerah (TPID) dan aparat kepolisian. Dari hasil pemantauan dilapangan, Komisi II menemukan  pendistribusian LPG 3 kg amburadul. Disana juga tidak ada sistem pengawasan sehingga menyebabkan distribusi LPG dari agen ke pangkalan dan pengecer rawan terjadinya penyimpangan. “Kelangkaan LPG 3 kg ditingkat pengecer ini mengakibatkan harganya melambung melebihi ketentuan HET,” tegas Ketua Komisi II DPRD Situbondo, Hadi Prianto.
Menurut politisi Partai Demokrat ini, sesuai Peraturan Bupati bahwa HET LPG 3 kg dijual seharga Rp 14 ribu dari SPE ke agen. Selanjutnya dari agen ke pengecer dijual seharga Rp 15 ribu dan dari pengecer ke konsumen seharga 16 ribu. Hadi mengaku menerima laporan, selain LPG 3 kg mulai langka dibeberapa daerah Situbondo, harganya juga melambung mencapai Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu/unit. “Saya meminta Pemkab Situbondo turun ke lapangan melakukan pengawasan. Pemkab harus menindak tegas jika menemukan penyimpangan penggunaan LPG 3 kg ini,” pinta Hadi Prianto.
Tidak hanya itu, politisi yang sudah dua periode menjabat itu juga mendesak aparat kepolisian, ikut mengawasi pendistribusian LPG, mengingat LPG 3 kg merupakan barang yang disubsidi oleh Pemerintah. Masih kata Hadi Prianto, saat ini pendistribusian LPG 3 kg belum bisa terpantau dengan baik, karena tidak menggunakan sistem kewilayahan. “Ini karena agen di Kecamatan Kota misalnya, ada yang mendistribusikan ke pangkalan dan pengecer di Kecamatan lain,” tutur Hadi.
Disisi lain, Pemilik SPE Situbondo, Winoto mengaku pendistribusian LPG 3 kg berjalan dengan normal dan membantah jika amburadul. Sesuai ketentuan Pertamina, ujar Winoto, SPE miliknya harus mendistribusikan 16.800 tabung LPG setiap harinya. Pengusaha yang akrab dipanggil Alin itu menandaskan, tabung LPG sebanyak itu didistribusikan ke enam agen yang ada di Kabupaten Situbondo. “Selanjutnya, agen agen itulah yang mendistribusikan ke pangkalan dan pengecer di Situbondo,” pungkas Winoto. [awi]

Tags: