Dampak Kemarau Panjang, Rawan Kebakaran dan Air Bersih Makin Sulit

Truk tangki PDAM Kab Malang saat droping air bersih pada pelanggan yang suply airnya berkurang akibat sistem pada mesin pompa air rusak, di Desa Sidodadi, Kec Lawang, Kab Malang.

Pasuruan, Bhirawa
Pemkot Pasuruan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap bencana kebakaran.  Dampak kekeringan ini membuat  delapan desa yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Bojonegoro mulai kesulitan air bersih.
Berdasarkan surat edaran dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau akan mencapai puncaknya pada September-Oktober 2017.
Kepala BPBD Kota Pasuruan, Yanuar Afriansyah menyampaikan karena puncak kemarau masih dalam bulan September-Oktober, sehingga diperkirakan bencana kebakaran semakin rawan terjadi, termasuk pula di Kota Pasuruan “Dalam dua bulan ini masih rawan terjadi kebakaran. BMKG memperkirakan hujan baru turun pada November,” ujar Yanuar Afriansyah, Minggu (17/9).
Data BPBD Kota Pasuruan, sepanjang tahun ini sudah menangani 31 kebakaran. Baik di Kota dan Kabupaten Pasuruan. Tingginya bencana kebakaran sepanjang 2017 ini, disebabkan cuaca yang panas serta angin yang begitu kencang.
Ada dua faktor utama sebagai penyebab kebakaran. Yakni faktor alam berupa panas dan faktor human error atau kelalaian manusia. Ke depan, BPBD mengimbau warga Kota Pasuruan menggunakan listrik atau kompor secara efentif.
“Kami terus melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang pencegahan kebakaran sejak dini. Yang perlu diwaspadai yakni tanah yang banyak ditumbuhi rumput. Karena itu akan menjadi titip api yang dalam hal ini membuat kebakaran rawan terjadi,” kata Yanuar Afriansyah.
Sementara itu, amukan sijago merah yang melalap pasar Bukir, Kota Pasuruan menelan kerugian hingga sekitar Rp 1,5 miliar.
Besaran kerugian itu meliputi pendataan kepada 24 pedagang pemilik bangunan kios yang terdampak kebakaran. Besaran kerugian yang dialami oleh para pedagang juga tidak sama, yakni mulai Rp 50 juta sampai Rp 600 juta.
Rinciannya adalah sebanyak 31 bangunan kios permanen yang terbakar. Dengan sejumlah 24 bangunan kios permanen, sedangkan 7 di antaranya bangunan kios semi permanen.
“Hanya kerugian milik pedagang saja. Besaran kerugian itu belum termasuk kerugian bangunan yang terbakar,” kata Sutarto, Kepala UPT Pasar Mebel Bukir sembari merampungkan inventarisasi kerugian akibat kebakaran pasar Mebel Bukir di Kota Pasuruan.
Sementara itu  delapan desa yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Bojonegoro mulai kesulitan air bersih.Pasalnya, ketersediaan air tampungan hujan saat ini sudah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Seperti di Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo.
Kepala BPBD Bojonegoro Andik Sudjarwo mengatakan, untuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih, BPBD Bojonegoro telah melakukan pengiriman (droping) bantuan air bersih.
“Untuk membantu warga, BPBD Bojonegoro mulai Sabtu kemarin, telah melakukan pengiriman bantuan air bersih ke Desa Pejok, salah satu desa di Kecamatan Kepohbaru yang rawan kekeringan di musim kemarau,” katanya.
Daerah rawan kekeringan di Bojonegoro ada 8 desa di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kecamatan Tambakrejo, Kepohbaru, Ngraho dan Purwosari. Warga yang kesulitan air sebanyak 2.488 KK dengan perkiraan sekitar 9.000 jiwa. ” Tidak semua pengajuan permintaan air bersih dilengkapi dengan jumlah warga yang kesulitan air bersih,” jelasnya.

Tags: