Filmkan Eksotisme Taman Nasional Baluran dalam Little Africa in Java

Mahasiswi DIV Komputer Multimedia Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya Azarine Nur Firdauzqi saat memamerkan karya tugas akhirnya berupa film features ‘Little Africa in Java’ di Gedung Siola, Minggu (6/8) kemarin.

Kota Surabaya, Bhirawa
Keindahan Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo-Banyuwangi, Jawa Timur rupanya belum diketahui banyak orang. Padahal Taman Nasional seluas 25 ribu Hektar ini dikenal dengan Afrika-nya Jawa Timur. Mahasiswi DIV Komputer Multimedia Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya Azarine Nur Firdauzqi  mendokumentasikannya dalam bentuk film dan menyabet juara dua lomba video kreatif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Hari Konservasi Alam Nasional 2017.
Ukik demikian sapaan akrab Azarine Nur Firdauzqi membuat film features Taman Nasional Baluran berjudul ‘Little Africa in Java’. Dalam film berdurasi 9 menit 42 detik ini, Ukik sengaja menceritakan seluk-beluk obyek wisata Taman Nasional tertua di Jawa. Ia mengaku bahwa Taman Nasional terlengkap tersebut tingkat pengunjungnya paling sedikit dibandingkan tempat wisata yang ada di Jawa Timur.
Dengan kondisi itulah, Ukik bersama ketujuh crew menggarap eksotisme Taman Baluran berupa karya film. Sebelum memulai produksi, Ukik melakukan survey yang menelan waktu selama tiga minggu. Setelah survei dilakukan, ia pun memantapkan niat dalam membuat karya film demi meningkatkan kunjungan wisatawan dengan menghabiskan waktu satu minggu proses produksi.
“Taman Nasional Baluran ini kan paling tua dari lokasi wisata-wisata yang lainnya di Jawa Timur. Tapi, tingkat pengunjungnya paling sedikit. Dengan film Little Africa in Java ini kami ingin mengenalkan Baluran kepada masyarakat secara luas,” kata Ukik saat ditemui Bhirawa dalam pameran karya tugas akhir (TA) Mahasiswa DIV Komputer Multimedia di Gedung Siola Surabaya, Minggu (6/8) kemarin.
Menurut Ukik yang juga sibuk sebagai Designer, photographer, dan videographer ini, Taman Nasional Baluran adalah obyek dan daya tarik wisata alam yang lengkap dan beragam. Terdiri dari kombinasi berbagai bentang alam mulai dari ekosistem laut hingga pegunungan, savana, dan keanekaragaman jenis satwa maupun tumbuhan. “Sebenarnya wisatawan kalau ke sini (Taman Nasinal Baluran, red) loh tidak ada ruginya. Tidak perlu jauh-jauh ke Afrika, di Jatim sudah ada,” ungkapnya.
Namun, Ukik menyayangkan akses menuju Taman Baluran dari gerbang masuk ke lokasi dirasa cukup jauh dengan medan yang belum tertata apik. Ia pun kembali teringat saat produksi filmnya pada Mei 2017 lalu menemui beberapa kendala. Mulai dari kehabisan logistik, sering terjatuh di semak belukar, hingga cuaca yang tidak menentu.
“Saat produksi pun kami mengalami kendala cuaca yang tidak tentu, apalagi peralatan produksi kami sangat rentan juga terkena hujan. Dan keperluan logistik jika kehabisan memerlukan waktu 2 jam untuk membeli ke luar. Saya sampai nyungsep di semak-semak,” ceritanya. Selain itu, lanjut Ukik, kesulitan lainnya adalah pada saat pengambilan gambar satwa dirasa membutuhkan kesabaran ekstra. Sebab, dirinya bersama crew tidak mengetahui jam-jam satwa keluar dari persembunyiannya. “Untuk mendapatkan gambar rusa melihat kamera itu sampai 3 jam. Kuncinya, kita mau lihat rusa asal tidak kontak mata agar tidak lari. Kita memang sengaja ambil momennya,” pungkasnya.
Tidak hanya itu, kata Ukik, seluruh crew menghindari kontak mata langsung dengan satwa-satwa agar tidak lari. “Jadi ya kita harus pandai-pandai menipu satwa-satwa itu dengan pandangan kita agar mendapatkan momen yang pas,” kelakarnya.
Menurut dia, film yang menceritakan Taman Nasional Baluran karyanya dirasa mampu menyumbang pundi-pundi wisata dalam meningkatkan daya jual Jawa Timur. Pasalnya, Ukik beranggapan bahwa masyarakat dalam negeri maupun luar negeri lebih mengenal Bromo. Padahal, dari keempat taman nasional yakni Bromo, Alas Purwo, Merubetiri, Baluran tidak kalah akan keindahan alamnya.
“Karena beberapa kali saya mengunjungi Baluran dan saya posting banyak yang tanya Baluran itu dimana. Atas dasar itulah saya akhirnya mengangkat Baluran sebagai tugas akhir kuliah. Saya lombakan di Hari Konservasi Alam Nasional 2017, dan menang,” tambahnya.
Ukik menjelaskan, proses produksi film tersebut dilakukan pada awal mei 2017. Dan diikutkan lomba Hari Konservasi Alam Nasional 2017, pada 2 Agustus lalu mendapatkan kabar bahwa dirinya mendapatkan juara II. “Bersyukur sekali dan tidak menyangka sekali bisa juara 2 tingkat nasional,” ucapnya.
Tidak berhenti sampai disini, kata Ukik, dirinya akan kembali memperbaiki karya filmnya mulai dari voice over yang dirasa kurang jelas melalui proses editing ulang. Selain itu, teks film akan dirubah menjadi versi bahasa Inggris untuk kembali diikutkan lomba dalam tingkat Internasional. “Masih perlu diperbaiki memang dari segi suaranya. Dan akan diedit lagi yang versi bahasa Inggrisnya buat diikutkan festival secara Internasional, saya yakin Baluran semakin dikenal nantinya,” harapnya.
Perlu diketahui, karya film Little Africa in Java ini satu karya dari 10 yang dipamerkan di Gedung Siola Surabaya, Minggu (6/8) kemarin. Pameran bertema Daydream  ini dimaknai sebagai impian-impian menciptakan sesuatu yang sebelumnya hanya mimpi-mimpi di siang bolong semata. Kemudian akhirnya dapat direalisasikan dalam berbagai karya-karya ilmiah.
Dengan tagline a masterpiece reflects ourself diartikan bahwa dengan karya-karya tugas akhir para mahasiswa menciptakan karya-karya terbaiknya yang mencerminkan diri masing-masing.
Melalui pameran yang digelar nantinya dapat membangkitkan semangat generasi penerus agar dapat membuat karya-karya yang lebih berkembang di industri kreatif. Dan diharapkan program studi Komputer Multimedia Stikom semakin mampu mendekatkan diri dengan masyarakat/ [geh]

Tags: