Dua Waduk Kering, Ratusan Hektar Sawah Terancam Puso

Ratusan petani di Kecamatan Lengkong dan Jatikalen hanya mengandalkan sumur gali untuk mengairi sawahnya setelah dua waduk mengering. [ristika]

Nganjuk, Bhirawa
Lahan pertanian di Kecamatan Lengkong dan Kecamatan Jatikalen dipastikan akan mengalami kekeringan, setelah Waduk Sumberkepuh dan Waduk Lohgawe mengering sejak dua bulan terakhir. Untuk memenuhi pengairan, petani saat ini hanya mengandalkan sumber air dari sumur gali.
Ratusan petani di Desa Ketandan Kecamatan Lengkong, supaya tanaman jagungnya tidak puso atau gagal panen, mereka harus mengerahkan tenaga ekstra mencari air dengan mengandalkan sumber mata air dari sumur gali. Persediaan air sumber inipun, seperti dikatakan Sutarno petani setempat, tidak akan mencukupi kebutuhan pengairan. ” Petani disini hanya mengandalkan satu-satunya sumur dan harus bergiliran jika ingin mendapat jatah pengairan,” ucap Sutarno dengan logat jawa.
Pemandangan yang memprihatinkan, saat Sutarno yang berusia hampir 70 tahun ini mengairi tanaman jagungnya yang berumur tiga minggu. Dengan menggunakan dua timba plastik untuk tempat air dan bambu untuk pikulannya, si kakek ini berjalan diatas pematang sawah dengan memikul beban dua timba berisi air untuk menyiram tanaman jagung miliknya.
Bisa dibayangkan dengan terik panas seperti ini ,air siraman yang diambilnya dari sumur gali akan cepat mengering. Potret kesengsaraan petani seperti itu akibat Waduk Sumberkepuh dan Waduk Lohgawe mengering. “Karena sudah tua, ya sekuat tenaga saya untuk menyirami tanaman jagung,” tutur Sutarno.
Dua waduk di wilayah Kecamatan Lengkong debet airnya terus mengalami penurunan hingga nyaris kering. Dampaknya, ratusan hektar tanaman pangan dan hortikultura yang biasanya teraliri air kini terancam gagal panen. “Sejak dua bulan terakhir ini atau sejak pergantian musim penghujan ke musim kemarau, dua waduk tersebut sudah tidak ada airnya lagi.Sehingga kebutuhan irigasi sangat sulit dirasakan para petani,” ucap Sasmito salah satu petani asal Desa Sawahan Kecamatan Lengkong.
Upaya darurat untuk tetap bisa mendapatkan pengairan, petani dengan terpaksa membuat sumur pantek. Karena pembuatan sumur pantek memakan biaya cukup besar, sehingga tidak semua petani mampu untuk membuat sumur gali tersebut. Biaya besar karena proses menemukan titik sumber air memakan waktu panjang.
Setiap satu titik sumber air kedalamanya mencapi 50 meter. Bahkan ada juga yang kedalamannya lebih sampai 65 meter baru keluar air. “Setiap satu sumur gali biayanya bisa mencapai Rp 9 juta. Bagi petani yang tidak mampu membuat sumur gali biasanya memilih membeli air dari kelompok tani,” ujar Sasmito.
Tanaman petani di Kecamatan Lengkong dan Kecamatan Jatikalen yang mendekati masa panen yaitu tembakau, brokoli, jagung, cabe rawit dan sebagian padi. Dari berbagai jenis tanaman tersebut ada yang sudah terserang hama ulat yaitu brokoli dan tembakau. Sedangkan untuk tanaman padi dan jagung diserang hama belok dan bule. [ris]

Tags: