“Berkaca” pada Champions

Akhir pekan awal bulan Ramadhan, warga muslim sedunia disuguhi tontonan paling diminati se-dunia. Yakni, final liga Champions Eropa. Di arena, terdapat pula bintang muslim yang akan tampil pada kedua klub. Serta coach (muslim) Zinedine Zidane. Di berbagai negara muslim tak mudah mengukir prestasi sepakbola  internasional. Karena kemiskinan, walau banyak potensi. Hal itu dialami oleh pemain, dan klub.
Berbagai upaya dilakukan, sampai harus mendatangkan pemain asing kesohor. Begitu pula pembentukan skuad (klub maupun tim nasional), yang dapat “berbicara” pada even internasional. PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) berkali-kali mengundang pelatih asing berdedikatif. Di seluruh dunia, upaya memajukan sepakbola juga menggunakan orang asing. Tak terkecuali di Eropa, yang telah menjadikan sepakbola sebagai tontonan publik utama.
Ratusan personel dari benua Afrika (dan Amerika Latin) bermain di berbagai liga Eropa. Di Inggris, Spanyol, dan Italia, pemain asing menjadi ikon klub. Bahkan terdapat bursa untuk transfer (jual dan beli) pemain. Nilainya banyak yang lebih dari Rp 1 trilyun. Pemain termahal, bukan berasal dari Eropa. Sehingga liga Champions, bagai pagelaran sepakbola sedunia.
Lebih dari satu milyar masyarakat seluruh dunia akan menyaksikan final Liga Champions Eropa. Akan memperhadapkan, Real Madrid versus Juventus. Puncak liga Champions (Eropa) bakal diselenggarakan di Millennium Stadium, Cardiff (Wales, Inggris). Tidak mudah mem-prediksi klub yang akan keluar sebagai juara. Walau semi final tahun 2014 lalu, Juventus berhasil menumbangkan Real Madrid.
Semuanya (penyelenggara maupun penonton) merasa beruntung, karena final bukan pertandingan el-clasico. Juga bukan monopoli satu negara. Sampai babak perempatan final, liga Champions masih menyisakan tiga klub terbesar dari Spanyol. Tetapi Barcelona FC, tersingkir dengan kekalahan telak oleh Juventus. Serta Athletico Madrid, dikalahkan klub se-kota, pada semi final.
Beberapa kali final Champions di-dominasi satu negara. Tahun (2013) lalu menampilkan All German Final. Pertandingan antara Bayern Muenchen melawan Borussia Dortmund, nampak bagai Bundesliga (Jerman). Stadion Wembley, London (Inggris), tidak melimpah ruah. Rating siar televisi merosot drastis. Penghasilan UEFA (Asosiasi Sepakbola Eropa) berkurang. Setahun berikutnya terjadi lagi. bahkan satu kota. Yakni, antara Real Madrid melawan Atletico Madrid.
Pertandingan sepakbola, harus diakui, bukan sekadar even olahraga, melainkan juga momentum hiburan dengan ketrampilan olahraga. Tidak indah manakala final liga Champions hanya didominasi oleh klub-klub dari satu negara. Walau final el-clasico sekalipun. Beragamnya bintang lapangan sangat berpengaruh pada minat menonton. Semakin banyak bintang dari berbagai negara hadir bermain, maka penonton semakin banyak.
Televisi makin gencar memburu hak tayang, meski harus megeluarkan biaya puluhan milyar rupiah. Harga mahal hak tayang disebabkan hanya kurang dari  0,01% penonton mengikuti jalannya pertandingan on the spot di stadion. Selebihnya, 99,99% mengikuti pertandingan melalui siaran televisi. Nonton di stadion, harga tiket saat ini ditawarkan senilai Rp 35 juta-an sampai Rp 55 juta. Padahal (termurah) hanya 70,- euro (sekitar Rp 1,2 juta).
Semakin banyak bintang sepakbola, semakin banyak penonton, patut menjadi aksioma yang harus diupayakan oleh PSSI. Diantaranya melalui bonus hadiah untuk pemenang liga di Indonesia (dan Divisi Utama). Hadiah besar akan merangsang klub mendatangkan pemain bintang berkelas dunia. Secara stimulan, bintang kelas dunia bisa meningkatkan nilai tawar sponsor. Dus, akan meningkatkan penghasilan klub.
Tetapi kehadiran pemain asing mesti dibatasi. Diharapkan, ketrampilan (dan dedikasi) bintang dunia dapat “mendongkrak” performa per-sepakbola-an Indonesia. Di ujungnya, diharapkan, klub Indonesia mampu berprestasi pada ajang internasional, setidaknya level Asia Tenggara.

                                                                                                ———   000   ———

Rate this article!
Tags: