Empat Bulan Tunggakan Raskin Capai Rp 5,1 Miliar

Sejumlah pekerja dan tumpukan beras di gudang Bulog Sub Divre Bojonegoro. [achmad basir]

Bojonegoro, Bhirawa
Tunggakan beras raskin yang sekarang telah berganti dengan sebutan beras rakyat sejahtera (rastra) pada Bulog Sub Divre Bojonegoro hingga Mei 2017 ini tersisa Rp 5,1 miliar. Kondisi itu dikhawatirkan akan menghambat pendistribusian beras pada tahap berikutnya.  “Kami sedang berusaha agar pemerintah kabupaten yang sampai hari ini masih memiliki tunggakan agar segera melunasi,” ungkap  Kepala Bulog Sub Divre Bojonegoro Irsan Nasution melalui Wakil Bulog Eddy Kusuma dikonfirmasi, Kamis (11/5).
Dia menjelaskan, tunggakan rastra tersebut tersebar di tiga kabupaten. Di antaranya, Kabupaten Tuban, Lamongan dan Bojonegoro. Untuk Bojonegoro mencapai Rp 1,8 miliar kemudian Lamongan sebesar Rp 736 juta dan Tuban sebesar Rp 2,5 miliar.
“Tunggakan itu sifatnya utang berjalan dan lancar sebenarnya,” jelas dia.
Namun, tunggakan yang paling besar yakni Kabupaten Tuban sebesar Rp 2,1 miliar terhitung  sampai  per 9 Mei 2017.
Dia menjelaskan, untuk mengantisipasi adanya tunggakan rastra tersebut, pihaknya bersama pemkab setempat melakukan koordinasi dengan jajaran satuan petugas raskin yang berada di setiap kecamatan.
“Kami dan para satgas ini memetakan dan melakukan pendekatan serta menyiasati pada pihak yang menunggak rastra agar segera melunasi pembayaran raskin,” ujarnya.
Akibat adanya tunggakan rastra yang berada di pemerintahan desa, lanjut dia menyebabkan pengiriman jatah raskin dari Bulog bagi desa yang masih menunggak ditunda.
“Tentunya, pengiriman jatah rastra akan disalurkan lagi setelah desa melunasi tunggakan rasta nya,”  paparnya.
Meski begitu, Eddy  menilai penyaluran rastra di wilayah kerjanya hingga saat ini berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Sementara pagu rastra pada 2017 ini sebanyak 4.932.645 kg. [bas]

Tags: