Ekspedisi Puncak Denali, Pendaki Ingin Tetap Berpuasa Ramadan

Tiga atlet Wanala Unair yang akan mengikuti ekspedisi ke puncang Gunung MC Kinley, Denali Amerika Utara dilepas secara resmi oleh Rektor Unair kemarin, Senin (8/5). [adit hananta utama]

Surabaya, Bhirawa
Ekspedisi menujuk puncak Gunung Mc Kinley, Denali siap dimulai para mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) Universitas Airlangga (Unair). Ada tiga atlet yang akan berangkat menuju puncak di gunung yang terletak di Amerika Utara itu.
Ketiga atlet tersebut ialah Muhammad Faishal Tamimi (Fakultas Vokasi), Mochammad Roby Yahya (Fakultas Perikanan dan Kelautan), dan Yasak (alumnus). Pendakian ke puncak Denali ini merupakan bagian dari ekspedisi kelima seven summit. Ekspedisi ini merupakan serangkaian pendakian ke tujuh puncak gunung tertinggi masing-masing benua.
Ketua ekspedisi Faishal mengungkapkan, tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) akan mendaki selama 18 sampai 22 hari. Berangkat dari Surabaya ke Jakarta dijadwalkan pada 10 Mei dan berangkat ke Amerika Serikat pada 16 Mei. Sedangkan, pendakian di Denali akan dimulai pada 21 Mei sampai 9 Juni.
Pendakian yang dilakukan selama bulan Ramadan ini, mereka berusaha untuk tetap menjalankan ibadah puasa. “Rencananya sih pas aklimatisasi atau rest day. Pada saat rest day kan aktivitasnya hanya berdiam diri atau berjalan-jalan di sekitar tenda. Itu memungkinkan untuk puasa meskipun tidak full,” ungkap Faishal di sela pelepasan tim AIDeX oleh Rektor Unair kemarin, Senin (8/5).
Sebelum melakukan perjalanan panjangnya, Faishal mengaku telah banyak berlatih menggunakan peralatan-peralatan yang digunakan di gunung es seperti crampon (sepatu berpaku untuk mendaki gunung es), hingga sepatu bertapak lebar. Latihan juga rutin dilakukan di area pegunungan seperti di Gunung Bromo dan Argopuro. Dalam latihan tersebut, mereka berlatih untuk menyeret beban seberat 20 kilogram, serta teknik penyelamatan diri.
“Idealnya mendaki di sana empat sampai lima orang. Semua pendaki terhubung dengan satu tali, kalau ada satu yang terjatuh maka masih ada empat orang yang menahan. Makanya latihan kemarin di Bromo kita lebih fokus dengan teknik rescue,” imbuh mahasiswa D-3 Otomasi Sistem Instrumentasi itu.
Ditanya soal tujuan dan harapan pendakian, Faishal mengungkapkan ekspedisi seven summits adalah wujud kecintaan mereka kepada alam dan Tanah Air. “Sebagai organisasi mahasiswa pecinta alam, seven summits adalah wujud kecintaan kami pada alam dan Tanah Air. Sebagai organisasi mahasiswa pecinta alam, ini adalah cara kami menunjukkan harga diri sebagai sebuah organisasi,” pungkasnya.
Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota UKM Wanala. Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah digapai adalah Puncak Cartens, Gunung Jaya Wijaya, Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013). Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits mereka.
Dalam upacara pelepasan tersebut, Rektor Unair Prof Dr Mochammad Nasih, memberikan apresiasi sekaligus motivasi kepada para atlet. Menurutnya, pendakian puncak-puncak tertinggi di dunia adalah bagian dari upaya untuk memperkenalkan Unair kepada masyarakat luar negeri. “Dengan berkibarnya bendera Unair di puncak Denali, tentu kita akan menjadi lebih dikenal lagi,” tutur Nasih.
Nasih berharap, ketiga atlet benar-benar mempertimbangkan aspek pendakian seperti faktor fisik dan keadaan alam. Hal terpenting lainnya yang patut diperhatikan adalah keselamatan para atlet. “Sampai di Puncak Denali adalah keinginan kita, tapi kembali dalam keadaan selamat adalah cita-cita bersama. Saudara harus kembali ke Tanah Air dengan selamat karena bapak, ibu, dan saudara menunggu kalian di rumah,” pesan Nasih. [tam]

Tags: