Sumitro, Satu-satunya Pande Besi di Kecamatan Kota Bojonegoro

Dua empu sedang membuat peralatan pertanian di Bojonegoro. [Ach basir]

Tekuni Usaha Turun Temurun, Eksis di Tengah Himpitan Produk Pabrikan
Kabupaten Bojonegoro, Bhirawa
Bergelut dengan bara api sudah menjadi pekerjaan Sumitro (61). Maklum pria asal Kelurahan Klangon Kecamatan Kota Bojonegoro ini adalah salah satu empu yang biasa membuat berbagai macam peralatan dari besi seperti pisau, parang, golok atau pun perkakas pertanian.Tak banyak profesi itu dapat ditemui di Kecamatan Kota, bahkan Sumitro jadi satu-satunya. Selama hampir 40 tahun, dia bergelut dengan modernitas kota.
Suara besi dipukul-pukul terdengar berirama saat memasuki bengkel pande besi yang berada di samping sebuah rumah. Kita langsung disuguhi pemandangan para pekerja yang sedang menempa besi. Batang besi yang menyala merah dipukul berulang-ulang secara bergantian.
Setelah bentuknya pipih, sang empu kemudian memasukkannya lagi ke bara api.Setelah melalui proses panjang, batang besi akhirnya berubah bentuk menjadi sebuah sabit.
Tak berhenti di situ, sabit yang sudah selesai ditempa masih harus melalui proses penyelarasan, penghalusan dan penajaman. Baru setelah dianggap tajam, sabit karya Sumitro  ini diberi gagang dan dianggap sudah jadi.
Bengkel pande besi Sumitro, terlihat sederhana. Sebuah tungku besar sebagai pemanas besi terletak di ruang utama yang berhadapan dengan jalan. Di sana terlihat berbagai alat seperti, palu godam, mesin gerenda, tang berukuran tanggung berserak di ruang bagian dalam.
Sumitro menceritakan hampir 40 tahun dia menjadi pande besi dan menjadi satu-satunya yang ada di Kecamatan Kota Bojonegoro. Usaha pembuatan perkakas berbahan baku besi ini dijalankan secara turun temurun dari keluarganya.
Pada periode 80-an, Sumitro memiliki keluarga besar yang menjalankan empat usaha pande besi. Tiga di antaranya berlokasi dan saling berdekatan di Jalan Untung Suropati. Sementara Sumitro saat itu mengikuti salah satu saudaranya, Mbah Bakri belajar pande di bengkel yang bertempat di Jalan Kiai Sulaiman. ” Belajar pande dengan Mbah Bakri sejak SD kelas empat,”  jelas Mitro belum lama ini.
Menurutnya, profesi pande tak bisa dilakukan sembarang orang. Pasalnya, berisiko tinggi terhadap kecelakaan kerja. Sedangkan kualitas dan ketahanan produk pande besi bisa menjadi bagus walaupun menggunakan pelat baja bekas. ” Itu dulu, berbeda dengan sekarang,”  jelasnya.
Di zaman sekarang ini memang sudah jarang orang yang menggeluti pekerjaan ini. Akibat kalah bersaing dengan hasil produk pabrik, lambat laun pekerjaan ini ditinggalkan oleh sejumlah empu yang ada di Bojonegoro.
Sejak munculnya berbagai perkakas pertanian dari pabrik, omzet mereka menurun drastis. Para petani sudah tidak banyak menggunakan cangkul karena pengolahan tanah lebih mengandalkan mesin traktor.
“Biasanya, yang datang ke sini untuk ‘nyepuh’ (memperbaiki-red), terutama saat akan memasuki awal musim tanam,” ungkap Sumitro.
Sumitro menilai usaha warisan keluarga harus tetap dijalankan meskipun tak sebanding dengan prospeknya. Keyakinan ini akan tetap dijaga walaupun toh akhirnya tak ada yang menjadi generasi penerusnya.
Kini pesanan untuk membuat pisau, sabit, dan golok tak seramai dulu. Bukan berarti sepinya permintaan membuat perkakas besi terjadi selamanya. Ketenarannya sebagai pande masih menjadi perhatian masyarakat ketika menjelang Hari Raya Kurban. Hal tersebut ditunjang dari kebutuhan pisau untuk penyembelihan hewan kurban yang cukup banyak.
“Kalau jelang Idul Adha biasanya dapat pesanan pisau mulai ukuran sedang hingga besar sejenis parang sampai lima bilah per hari. Proses pembuatan per bilahnya memerlukan waktu satu hari untuk menyelesaikan,” katanya.
Proses pembuatan pisau dan kawan-kawan diawali dengan membuat potongan logam baja dengan ukuran sesuai kebutuhan. Selanjutnya, logam baja yang telah terpotong dipanaskan hingga suhu ratusan derajat di atas tungku pembakaran.
Sumitro biasa menggunakan bahan baku pelat besi per mobil bekas. Dia tak kesulitan mendapatkan bahan baku itu lantaran berlangganan di salah satu bengkel dan pengepul besi bekas. ” Sudah lama menjalin kerjasama dengan mereka,” ujarnya.
Selama ini telah banyak pemesan perkakas besi dari berbagai daerah baik luar Kecamatan Kota serta Kabupaten Bojonegoro. Produk-produk pertanian karya Sumitro ini dihargai mulai Rp 35 ribu hingga Rp 75 ribu per biji. ” Namun, harga tersebut tergantung tingkat kesulitan pembuatan,” imbuhnya. [Achmad Basir]

Tags: