Polda Jatim Bekuk Pengepul Bibit Baby Lobster Ilegal

Kapolda-Jatim-Irjen-pol-Machfud-Arifin-merilis-tersangka-pengepul-baby-lobster-yang-menyalahi-aturan-ilegal-fishing-Selasa-[18/4].-[abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Ditreskrimsus Polda Jatim kembali mengungkap kasus illegal fishing terkait penjualan baby lobster illegal. Satu tersangka berhasil diamankan, yakni Didin (35) berperan sebagai pengepul baby lobster atau benur untuk dijual ke luar negeri.
Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin mengatakan, tersangka Didin ini merupakan hasil pengembangan ungkap kasus perdagangan baby lobster illegal beberapa waktu lalu. Bahkan, Machfud mengaku, tersangka ini merupakan TO (target operasi) Ditreskrimsus Polda Jatim. Dan anggoya akan mengembangkan ke tersangka lainnya.
“Tersangka yang kami TO ini merupakan pengepul benur dari para nelayan yang diambil dari beberapa daerah seperti Banyuwangi, Jember, dan Situbondo untuk dikirim ke Jakarta dan ke luar negeri seperti Cina, Vietnam dan Sigapura,” kata Irjen Pol Machfud Arifin, Selasa (18/4).
Dijelaskan Machfud, tersangka mengaku sudah melakukan perdagangan benur hampir satu setengah tahun ini ditangkap di Jakarta dan berencana akan kabur ke Timor Leste. “Di Timor Leste lebih mudah untuk melancarkan aksi illegal fishing. Namun kami berhasil menangkap sebelum tersangka kabur,” jelasnya.
Dari illegal fishing tersebut, sambung Kapolda, tersangka bisa menjual benur dengan harga mahal ke luar negeri. Dan benur ini jenisnya benur mutiara dan pasir. Harganya dijual ke Vietnam dan Singapura bisa mencapai Rp 200 ribu per ekor.
“Jumlahnya ada 24 ribu ekor, kalau dihitung, kalkulator gak cukup,” ucapnya.
Alhasil dari bisnis nakal ini, tersangka sudah bisa berinvestasi berupa kapal-kapal kecil yang cukup banyak untuk memfasilitasi para nelayan yang mengumpulkan hasil tangkapan ke dirinya. Tapi, hasil ungkap ini bukan dilinai dari besaran harga dari setiap baby lobster, tapi larangan aturan yang melarang perdaganggan benur inilah yang ditegakkan.
“Tentunya ini melanggar aturan, sanksinya sangat berat dengan ancaman pidana 10 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar,” tegas Kapolda.
Dari tangan tersangka, petugas mengamankan barang bukti berupa 2 ribu ekor benur, empat unit mesin kapal merek Kama, satu unit genset, sebuah paspor, dan sebuah handphone. Selain itu, turut diamankan sebuah kartu ATM Bank Mandiri, dua buah kartu ATM Bank BCA, sebuah kartu kredit Bank Mandiri, sebuah kartu kredit Bank BCA, dan sebuah kartu ATM prioritas Bank BCA.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 86 Ayat 1 jo Pasal 12 Ayat 1 atau Pasal 92 jo Pasal 26 Ayat 1 UU RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman pidana paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 2 miliar. [bed]

Tags: