Melihat Kesibukan Kampung Telur Asin di Gunung Anyar Gang 1

Ibu-ibu Gunung Anyar Tengah Gang 1 RT 5 RW 2 menunjukkan hasil produksi telur asin. [gegeh bagus setiadi]

Ancang-ancang Penuhi Kebutuhan Restoran Khas Indonesia di Arab Saudi
Kota Surabaya, Bhirawa
Berawal dari keinginan para ibu rumah tangga mendapatkan penghasilan tambahan memang harus memiliki keahlian dan kemauan. Seperti yang dilakukan Ibu-ibu Gunung Anyar Tengah Gang 1 RT 5 RW 2 Kecamatan Gunung Anyar Surabaya. Mereka disibukkan membuat telur asin semata-mata untuk mengangkat perekonomian keluarga.
Ketika Harian Bhirawa berkunjung ke kampung yang berjuluk Kampung Telur Asin, terlihat sepi di ujung gangnya kemarin. Rupanya, ibu-ibu yang mengenakan daster tengah asyik beraktivitas di salah satu rumah yang dijadikan tempat produksi telur asin. Ada sebanyak 15 ibu tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang mencuci telur, menumbuk batu bata, menyiapkan tempat styrofoam untuk pengasinan, perebusan, dan proses packagingnya.
Pengambilan nama Telur Asin Ceria ini dimaksudkan agar para pembuat selalu ceria dalam setiap proses produksi. Sebab, awal-awal dulu telur sempat rusak lantaran terbawa masalah internal keluarga. Oleh karenanya dengan pembawaan dan bersikap ceria itulah telur asin kini mulai diburu konsumen, bahkan mulai ancang-ancang didistribusikan ke Arab Saudi.
Meski masih dalam hitungan bulan, produksi telur asin sudah banjir pesanan. Bermodal uang Rp 500 ribu yang diambil dari kas PKK dan mendapatkan pelatihan dari Kelurahan Gunung Anyar, rata-rata per minggunya memproduksi 500-600 butir telur.
“Membuat telur asin memang harus ceria. Kalau ada masalah dalam keluarga bisa berimbas dalam pembuatan telur. Bahkan, dulu awalnya sampai ada salah satu ibu yang memegang telur sampai pecah saat produksi,” kata Pembina UKM Telur Asin Ceria, Indah Masruroh.
Indah yang juga Ketua PKK RT 5 RW 2 ini menjelaskan telur ini dari peternak yang ada di Surabaya awalnya dicuci dan diamplas sampai bersih. Setelah itu dibikin adonan untuk diasinkan dari batu bata hasil tumbukan halus seberat 3 kg dan dikasih garam seperempat untuk 200 butir telur. Lalu disimpan di styrofoam selama 12 hari. “Jadi kualitas telur asin ini kuningnya sudah berminyak atau masir, itu yang dicari para konsumen,” ujar ibu berkerudung ini.
Pemilihan produksi telur asin ini dinilai lebih menguntungkan dan prospek ke depan lebih bagus. Sebab, menurut Indah, berbagai upaya yang dilakukan ibu-ibu untuk menambah penghasilan sudah pernah dicoba. Seperti daur ulang limbah namun dirasa kurang.
“Pemilihan ini karena bernilai ekonomis yang bisa berbuah manis buat ibu-ibu. Sebelumnya, memang ada pelatihan membuat kerajinan dari limbah. Namun, untuk telur asin kami nilai memiliki peluang bisnis yang cukup besar,” jelasnya.
Berkembangnya penjualan telur asin tak lepas dari pemasaran yang intens. Meski pemasaran biasanya menjadi kendala bagi UMKM untuk berkembang. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Telur Asin Ceria.
Ketua Pemasaran yang juga Ketua RT RT 5, RW 3 Kemas A Chalim berhasil menembus pasar hingga Arab Saudi. Hal itu tidak terlepas dari banyaknya rekan dan teman yang dibangun pria yang kini berusia 52 tahun.

Tags: