Bupati Tuban Imbau Kader NU Jaga Keutuhan NKRI

Bupati Tuban, H Fathul Huda didampingi Wakil Bupati Ir H Noor Nahar Hussain, M.Si, Ketua DPRD HM Miyadi, S.Ag, MM dan Ketua PC Fatayat NU Hj. Umi Kulsum, S.Ag, M.PdI saat memotong pita saat pelepasan balon peringatan Harlah Fatayat ke-67 di Alon-Alon Kabupaten Tuban. (Khoirul Huda/bhirawa)

Kab.Tuban, Bhirawa
Bupati Tuban, H. Fathul Huda meminta kader Fatayat Nadhatul Ulama (NU) mempertahankan brand Bumi Wali dan ikut menyukseskan program pemerintah kabupaten (Pemkab) Tuban, dalam puncak Hari Ulang Tahun (Harlah) Fatayat Nadhatul Ulama (NU) ke 67 yang digelar di Alon-alon Kabupaten setempat.
“Menjaga brand Bumi Wali, sampai nafas terakhir serta terus untuk menguatkan persatuan masyarakat Tuban yang mayoritas warga nadliyin, itu pesan untuk fatayat di usianya ke 67,” kata Bupati H Fathul Huda saat dikonfirmasi Bhirawa usai menghadiri puncak Harlah Fatayat NU di Alon-alon Tuban (24/4).
Bagaimana mengawal brand Bumi Wali, Fathul Huda meminta apa yang diajarkan oleh para wali adalah islam yang moderat bukan radikal. Sekaligus mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan membantu warga miskin di Tuban.
Setelah melakukan survey ke lapangan, ternyata warga NU yang miskin jumlahnya minim sekali. Hal ini sebagai barokah untuk warga NU, dan temuan di lapangan  99 persen orang miskin tidak mengenal Bupati. “Kalau warga NU 1 persen yang miskin, itu hidupnya memang penuh dengan qonaah dan kesabaran,” imbuhnya.
Selain itu, kenapa Bupati meminta mempertahankan brand Bumi Wali di Tuban? karena tanpa menjaga ukhuwah/persatuan, perjalanan hidup di dalam maupun di luar organisasi pasti bakal terjadi gesekan. Disinilah perlu adanya kiat-kiat supaya gesekan itu berkurang. Bupati Huda juga bersyukur, bangga dan haru melihat antusias ribuan kader Fatayat NU yang hadir. Hal ini karena semua berangkat dengan biaya sendiri, di tempat yang panas dan silau yakni Alun-alun Tuban.
Diyakini kehadiran ribuan kader fatayat kali ini, pasti ingin diakui sebagai santri mbah KH Hasyim Asy’ari. Mengutip statmentnya “Barang siapa yang berjuang untuk NU maka dianggap santriku, dan barang siapa santriku matinya bakal khusnul khotimah,” terang Bupati yang juga salah satu Ketua Tanfidz PWNu Jawa Timur ini.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Tuban, Hj. Umi Kulsum,S.Ag, M.PdI sangat berterimakasih atas dukungan semua pihak yang berpartisipasi menyukseskan acara puncak Harlah Fatayat NU ke-67. Di usia ke-67 ini, diharapkan fatayat NU yang mayoritas perempuan produktif harus selalu menjalankan tiga peran. Yakni sebagai istri, ibu rumah tangga, dan anggota masyarakat.
“Sebagai kader Fatayat juga harus menjaga hubungan rumah tangganya jangan sampai terjadi perceraian, dan saya yakin sabat-sahabati kesini (Alon-alon.red) sudah mendapat izin suami masing-masing,” sambung Umi yang juga Kasi Pendiaikan Agama Islam (Pais) Kementerian Agama (Kemenag) Tuban.
Ke depan Fatayat NU dan Pemerintah Kabupaten Tuban diharapkan dapat bersinergi lebih baik. Dalam hal pendidikan, sosial, dan mengurangi angka kemiskinan di Bumi Wali. Sementara itu, wakil ketua panitia Harlah Fatayat NU ke-67, Wahyuni Widayati, menjelaskan sebelum puncak acara, telah dilakukan beberapa kegiatan sejak tanggal 28 Marer 2017 diantaranya lomba pidato bahasa Jawa, cerdas cermat, PHBN, dan mengolah menu makanan dari bahan singkong.
Sedangkan di puncak acara sejak pagi, mulai khotmil Qur’an Kubro, senam Massal (3.145 Fatayat), Ngaji Kebangsaan oleh pengasuh Ponpes Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Zaim Ahmad Ma’sum dan terakhir pengumuman pemenang hadiah lomba. [hud]

Tags: