4 Desa Sangat Tertinggal Ditetapkan di Sidoarjo

Bappeda Sidoarjo, kemarin, mengundang para Kepala desa di Kab Sidoarjo, yang desanya ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai Desa sangat tertinggal. [alikus/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Pemkab Sidoarjo akan melakukan klarifikasi kepada Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, terkait penetapan adanya empat desa sangat tertinggal di kabupaten ini. Empat desa itu diantaranya Desa Besuki, Kec Jabon, Desa Plumbon, Kec Porong, Desa Penatar Sewu, Kec Tanggulangin dan Desa Kendal Pecabean, Kec Candi.
Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Sidoarjo, Drs Imam Mukri Affandi, mengatakan penetapan status desa itu sangat diluar dugaan Pemkab Sidoarjo. Sebab secara ekonomi pertumbuhan ekonomi Kab Sidoarjo masih diatas rata-rata Nasional.
”Kalau ini betul, maka masih ada kesenjangan yang sangat luar biasa di tempat kita, sehingga ini harus menjadi perhatian, dan tanggung jawab kita untuk mengatasi bersama-sama,” kata Imam, saat memimpin rapat koordinasi ditetapkannya ada empat desa sangat tertinggal oleh Pemerintah Pusat ini, Selasa (18/4) kemarin, di Bappeda Kab Sidoarjo.
Imam menambahkan, klarifikasi memang diperlukan untuk mendapat penjelasan yang sebenarnya. Jangan-jangan data-datanya keliru. Agar tidak seperti kata peribahasa, karena nila setetes akan merusak susu sebelangga.
Ditambahkan Kasi Bina Desa, Dinas Pemberdyaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Kab Sidoarjo, Drs Machmud, pihaknya bingung variabel apa yang dipakai oleh Pemerintah Pusat menetapkan status desa sangat tertinggal itu.
Kepala Desa Kendal Pecabean, Lusari, yang sempat hadir dalam rapat koordinasi itu mengaku sangat terkejut sekali dengan penetapan status desanya sebagai desa sangat tertinggal. Dari sisi pendidikan, warganya sekitar 70% adalah lulusan SMP, sekitar 20% lulusan SMA dan 5% lulusan perguruan tinggi.
Disampaikan Kades yang sudah tiga tahun memimpin desa itu, mayoritas mata pencaharian warganya adalah petani. Karena sekitar 70% wilayah desa itu adalah sawah dan 30% telah dibeli investor untuk dibangun perumahan.
”Warga menjual tanahnya sebab gagal panen, tahun 2015 dan 2016 lalu karena hujan sawah ditempat kami banjir, sehingga gagal panen,” kata Kades yang mengaku lulusan SMP itu.
Sedangkan disampaikan Herianto, Sekdes Penatar Sewu Kec Tanggulangin, yang hadir dalam rapat koordinasi itu, ia juga mengaku sangat terkejut dengan status desa sangat tertinggal pada desanya. Karena sejumlah fasilitas pendidikan mulai SD dan SMP ada, juga fasilitas listrik terpenuhi di desanya. Pendidikan warganya rata-rata SMP, tapi meski demikian warga yang menyandang pendidikan S3 juga ada di desa itu.
”Desa kami ini termasuk Swasembada di bidang pertanian, kok masuk desa sangat tertinggal, kalau mau cross cek silakan datang melihat langsung,” katanya.
Sementara itu, staf BPS Sidoarjo yang hadir dalam kesempatan itu hanya memberikan penjelasan kalau pada tahun 2014 lalu sempat melakukan survei potensi desa. Yang ditanyakan seperti adanya fasilitas pendidikan, kesehatan, pekerjaan warga dan sebagainya. Hasil survei diserahkan kepada Kementrian Desa. ”Yang menetapkan status desa sangat tertinggal itu Kementrian Desa, kami masalah ini baru tahu,” katanya. [kus]