Mendidik Anak di Tengah Kepungan Medsos

Oleh:
Susanto, M. Pd
Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Anak, Guru SMAN 3 Bojonegoro

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan kehidupan pertama dan utama. Artinya pendidikan apapun harus diawali dari keluarga. Mengapa harus keluarga?. Keluarga merupakan aspek dan organisasi yang paling dasar. Ketika lahir. pasti berada di lingkup keluarga yang mana kita diajarkan dan dicontohkan tentang nilai religi, sosaial, moral, budaya dan pendidikan yang baik.
Faktanya banyak orang tua yang tidak mempunyai waktu untuk memberi pendidikan dan contoh yang baik dan berkarakter. Ada pula anak atau remaja yang dibesarkan dalam keadaan keluarga yang tidak utuh. Ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah, hubungan interpersonal antara keluarga yang tidak baik. Hal ini membawa konsekuensi logis adanya risiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi kepribadian antisosial. Dengan demikian, anak tak jarang berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak atau remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat dan harmonis.
Pertanyaan kritis adalah bagaimana dan apa yang harus dilakukan oleh keluarga dalam pendidikan anak di era medsos seperti saat ini? Orang tua  sebaiknya harus menjadi panutan dan menjadikan suri tauladan yang baik agar anak dapat merespon dengan baikDunia anak adalah dunia bermain, tumbuh dan belajar. Pada masa tersebut, anak-anak sedang dalam proses sosialisasi nilai-nilai dan pembelajaran untuk menjadi manusia dewasa. Dalam masa anak-anak, kedekatan dengan orang tua masih tinggi. Artinya pendidikan perlu adanya penguatan dari orang tua atau keluarga.
Jika orang tua menghendaki anak-anaknya berpendidikan baik, penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi, serta imajinatif dan serius dalam berpikir, peran mereka sangatlah penting. Sebab, anak-anak mudah dipengaruhi lingkungan, termasuk apa yang mereka tonton di televisi dan juga media sosial.
Peran Keluarga
Lantas bagaimana agar pendidikan anak-anak kita selalu mendapatkan penguatan dari keluarga? Pertama,  perlu ada sikap dan komitmen dari keluarga. Artinya, peran keluargalah semua berawal. Bapak dan yang biasa di sebut orang tua harus selalu menjadi sosok sentral dalam mengedukasi karakter sejak dini. Bila itu terlaksana tentunya harus didukung  kepedulian lingkungan dan juga di lembaga pendidikan. Dengan kata lain, sudah saatnya orang tua untuk memberikan pengawasan dan perlindungan kepada anak-anak kita dari bagai macam ancaman baik secara fisik maupun verbal.
Ahli Psikologi Slamet Iman Santoso, dalam (Sumarno, 2008: 23) menegaskan bahwa jangan sampai ada tudingan bahwa pendidikan kita hanya mampu menghasilkan dan menampilkan banyak orang pandai tetapi bermasalah dengan nuraninya.
Kedua, melakukan pengawasan terhadap perilaku tindak kekerasan dari tehnologi baik TV maupun media sosial. Sebab tayangan yang berbau kekerasan di TV  pemicu tindak kekerasaan bagi psikologi anak. Hal ini mengandung pemahaman bahwa tanggung jawab pendidikan anak adalah milik bersama seluruh komponen dalam keluarga. Disamping itu, komunitas pertelevisian, pemerintah, maupun masyarakat harus paham akan tanggung jawab sosial untuk turun menyajikan tayangan-tayangan positif dan edukatif.
Dalam konteks ini, peran orang tua sangat vital. Mengapa demikian? Karena orang tualah pembimbing sejati anak-anak di rumah. Kalau anak-anak tidak dibimbing langsung oleh orang tua saat melihat tayangan TV, film  dan bahaya media sosial. Tayangan yang tidak edukatif niscaya anak-anak akan menelan secara mentah-mentah apa yang mereka tonton. Kalau sudah demikian? Siapa yang harus disalahkan?  Tentunya orang tua harus arif. Menyalahkan tehnologi informasi.
Komitmen Bersama
Sebuah hal yang sangat mendesak apabila keluarga perperan dalam mengawal pendidikan anak  yang berkarakter. Pendidikan karakter yang harus dilaksanakan adalah yang  bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan.
Skala yang luas para orang tua (keluarga) harus selalu menampilkan sosok yang berkarakter meski tehnologi informasi semakin sulit dibendung.  Artinya, kalau semua keluarga memainkan peran yang penuh keteladanan tentunya ke depan anak-anak  menjadi sosok pribadi yang kuat pendirian, teguh terhadap segala macam cobaan terlebih lagi menjadi bangsa yang bermartabat dalam sisi kehidupan yang multikultur dan multi tehnologi.
Tak kalah pentingnya juga anak-anak harus bisa menjadi dirinya sendiri menjadi pribadi yang berkarakter. Artinya, anak-anak harus membangun komitmen dengan orang tua (keluarga)  bahwa mereka bisa menjadi bagian keluarga yang inspiratif. Anak-anak yang selalu menampilkan pribadi berbudi pekerti luhur bukan menjadi beban keluarga, masyarakat dan bangsa.
Nah, optimalisasi peran keluarga dalam mendidikan anak di tengah medsos harus menjadi ikon pendidikan berkelanjutan. Medsos  harus dapat dimanfaatkan untuk  menebar kebaikan bukan larut dalam pusaran hoax yang negatif. Sudah saatnya medsos dengan berita-berita hoax harus dijadikan musuh bersama. Harapannya menjadi bangsa yang beretika dengan selalu berbuat dengan ikhlas tidak mudah menghujat dan menghakimi orang lain. Dalam konteks yang demikian, peran keluarga tetap dominan dalam menumbuhkembang budaya yang berkarakter meski arus globalisasi informasi  berkembang pesat. Dengan demikian, anak-anak akan selalu menjadi generasi emas yang berkarakter karena keluarga menjadi garda terdepan dalam penguatan pendidikan karakter.

                                                                                                                      ———– *** ———–

Tags: