Wajib Belajar 9 Tahun Kab Probolinggo Terganjal

Anak-anak desa Sapikerep Bromo jalan kaki ke sekolah:

Kab.Probolinggo, Bhirawa
Program wajib belajar sembilan tahun di Kabupaten Probolinggo sejauh ini masih terkendala. Di sejumlah kawasan, terutama di daerah pegunungan, masih banyak bocah-bocah hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar.
Akses yang sulit jadi salah satu kendala utama. Kondisi itu seperti yang terlihat di Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang, yang masuk dalam wilayah Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Di dua dusun itu, jumlah remaja yang meneruskan pendidikan ke SMP maupun SMA, masih bisa dihitung dengan jari.
Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, memiliki tiga dusun. Satu dusun paling bawah atau dekat dengan jalan raya Sukapura yaitu Dusun Krajan. Sedangkan dua dusun lainnya, berada di puncak pegunungan. Yaitu, Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang. Akses jalan menuju kedua dusun itu, sangat sulit. Di dua dusun itu, hanya bisa dilewati kendaraan roda empat jenis hartop maupun kendaraan roda dua.
Di sepanjang jalan, sisi kiri ada tebing yang rawan longsor. Sementara di sisi kanan, terdapat jurang yang cukup dalam. Dari catatan desa setempat, dua dusun itu dihuni sekitar 1.000 jiwa. Ungkap Sarnadi, 73, salah satu tokoh masyarakat setempat. Ia jadi guru sejak 1959 lalu. Ia pensiun pada 2003 lalu, Rabu (1/2).
Dari pengalamannya itu, dirinya mengetahui soal kondisi pendidikan di tengah masyarakat Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang. “Kalau Dusun Krajan ada di bawah dan tidak sulit akses jalannya. Jadi, pendidikan masyarakat di sana masih bagus dan tinggi,” katanya.
Sarnadi menjelaskan, dari sekian banyak penduduk di dua dusun tersebut, siswa yang sampai melanjutkan ke jenjang SMP danSMA, bisa dihitung dengan jari. Bahkan, dirinya mengetahui betul siswa yang dulu pernah diajar di SDN Sapikerep 3 dan melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA, hanya satu orang. Orang itu disebutkan bernama Bambang yang lulus SMA pada 2010 silam.
“Kalau yang melanjutkan sekolah ke SMP sedikit juga, bisa dihitung dengan jari,” ungkapnya dalam bahasa Jawa-Tengger. Disebutkannya, akses jalan yang cukup sulit jadi kendala utama warga. Di Desa Sapikerep sejatinya ada SMP, cuma terletak di Dusun Krajan yang letaknya seketar 1 kilometer dengan medan berat.
Sementara SMA, jaraknya lebih jauh lagi, di dekat Kecamatan Sukapura. Dengan kondisi akses yang sulit, para orang tua pun, kerap khawatir. Bisa- bisa anaknya baru pulang sekolah sore hari sampai di rumah. Sebab, rata-rata siswa jalan kaki.
“Kalau sudah musim hujan, juga sangat bahaya kondisi jalannya. Baik jalan kaki maupun naik motor. Sebenarnya, orang tua di sini ingin anaknya sekolah. Tapi, karena masalah akses jalan sulit, membuat anak mereka malas dan orang tua takut. Kalau soal perekonomian, sebenarnya warga sini sudah cukup,” jelasnya.
Wage Hariatna, 31. Ibu dari siswa kelas 6, Dina Oktavia Ragil itu mengungkapkan, akses jalan sulit menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua. Sebab, anak-anaknya yang masih kecil tidak bisa ke sekolah naik motor karena berbahaya. Sedangkan jarak tempuh dari rumahnya ke SMP atau SMA sangat jauh. “Kalau ada SMP satu atap di sini, juga lebih baik. Pasti kami sekolahkan anak kami di SMP satu atap itu,” akunya.
Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengaku beberapa waktu lalu berkunjung ke SDN Sapikerep 3, akses di jalan desa setempat memang masih tak layak. Pihaknya berjanji infrastruktur di wilayah setempat akan segera diperbaiki dalam waktu dekat ini. Ia menargetkan, pembangunan jalan itu bisa direalisasikan tahun 2017 ini. Dengan kondisi akses yang baik, ia optimistis pendidikan sekolah setempat bakal meningkat ke depannya.
“Tanpa diminta pun, terkait infrastruktur jalan akan segera ditindaklanjuti. Keterangan kepala desa kurang lebih jalan sepanjang 4-5 kilometer (yang rusak parah). Meski tidak semua, nanti dicicil, bagian tertentu diutamakan,” janjinya. [wap]

Tags: