Potensi Zakat Jatim Rp 30 Triliun

Wagub Jatim Drs H Saifullah Yusuf menandatangani piagam kesepahaman saat acara Rakernas Konferensi Zakat Nasional dan Forum Amil Zakat di Hotel Oval Surabaya, Rabu (8/2).

Pemprov, Bhirawa
Wakil Gubernur Jatim Drs H Saifullah Yusuf meminta Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk bekerja secara profesional dan modern. Sebab potensi zakat di Jatim jumlahnya mencapai puluhan triliun rupiah.
“Pengelolaan LAZ yang professional itu sangat penting untuk memfasilitasi para wajib zakat yang jumlahnya terus meningkat,” kata Saifullah Yusuf saat membuka  Konferensi Zakat Nasional di Hotel Oval Surabaya, Rabu (8/2).
Menurut dia, manajemen zakat harus meneladani sifat Rosulullah. Yakni shiddiq (kredible/terpercaya), amanah (accountable/bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan komunikatif) dan fathonah (cerdas) dalam membaca situasi.
Dicontohkannya, promosi agar masyarakat aktif berzakat bisa dilakukan melalui aplikasi smartphone. Ini perlu dilakukan mengingat orang kaya waktunya sangat sempit, maka kalau bisa bayar zakat melalui telepon mungkin bisa efektif.
Berdasar data yang diperoleh Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, potensi zakat sangat besar. Di Jatim saja, potensinya bisa Rp 30 triliun, namun penghimpunan yang dilakukan lembaga zakat tergolong masih rendah. Pada 2015 lalu baru terkumpul Rp 3,7 triliun.
“Oleh karena itu, kita harus melakukan motivasi dengan melakukan usaha-usaha lebih nyata, sehingga diharapkan potensi zakat lebih baik. Seiring dengan kesejahteraan umat Islam, saya percaya potensi zakat akan lebih besar, karena  tujuan pengelolaan zakat untuk mengentas kemiskinan,” ujarnya.
Gus Ipul mengatakan, semua organisasi pengelola zakat, baik LAZ maupun BAZ (Badan Amil Zakat) sudah mencoba terus memperbaiki manajemen organisasi. Apalagi SDM yang terlibat kebanyakan masih berusia muda, berpenampilan bagus dan beretika. Semua itu membuat masyarakat lebih percaya. Apalagi bila hal itu ditunjang oleh penguasaan yang baik terhadap sarana dan prasarana teknologi informasi.
“Ke depan saya minta ditingkatkan. Oleh karena itu saya menyambut baik gagasan forum zakat untuk mensertifikasi SDM yang ada dan membuat Standar Operasional (SOP) supaya bisa berstandar internasional,” harapnya.
Karena itu dirinya sangat mendukung upaya Kementerian Agama yang menetapkan target paling lambat 2018 semua Badan Amil Zakat sudah memiliki sasaran yang jelas, by name by address. “Meski 10 tidak apa-apa tapi jelas sasarannya dari pada 100 sasaran tapi datanya tidak konkrit. Sehingga penanganannya tidak tumpang tindih antara LAZ satu dengan yang lain,” tandasnya. [iib]

Rate this article!
Tags: