Perlukah Sertifikasi Penceramah Agama?

Oleh :
Moh. Mahrus Hasan
Guru MAN Bondowoso dan Pengurus PP. Nurul Ma’rifah Poncogati Bondowoso

Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau lebih dikenal Din Syamsudin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, saat wawancara TVOne, 3 Pebruari 2017, menyatakan tidak setuju terhadap rencana sertifikasi penceramah agama (khatib) dan menyarankan agar rencana tersebut dikaji lebih mendalam lagi.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sertifikasi penceramah agama itu akan berimplikasi pada:Pertama, negara akan memanfaatkannya untuk bertindak represif. Kedua, dapat memecah belah penceramah agama (sertifikasi dan nonsertifikasi). Dan ketiga, menimbulkan kecurigaan masyarakat.Karena menurutnya, watak dankarakteristik masyarakat Indonesia berbeda dengan negara-negara lain, semisal Malaysia, yang mengharuskan penceramah agama mendukung kebijakan kerajaan.
Berceramah adalah Berkomunikasi
Ditinjau dari perspektif ilmu komunikasi, berceramah sama halnya dengan kegiatan komunikasi lainnya. Ada komunikator (penceramah), komunikan (jamaah), ada message (pesan) yang disampaikan dengan lisan atau media teknologi komunikasi dan informasi, dan pasti ada feedback (timbal balik).
Jalaluddin Rakhmat, pakar ilmu komunikasi, mengatakan bahwa 70 persen waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan, kita belajar menjadi manusia melalui komunikasi. Komunikasi menjadi menjadi penting untuk pertumbuhan pribadi kita. Melalui komunikasi, kita menemukan diri kita, mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan kita dengan dunia di sekitar kita.
Komunikasi-secara lisan atau melalui media-juga ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. (Jalaluddin Rakhmat: 1999). Komunikasi positif bisa menciptakan suasana yang harmonis, bahkan bisa mendamaikan dua pihak yang bertikai. Sebaliknya, komunikasi negatif bisa juga menyulut pertentangan dan permusuhan.
Berceramah adalah Komunikasi Persuasif
Menurut Aristoteles-seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat-ada tiga syarat minimal berkomunikasi persuasif, yakni ethos, logos dan pathos(etika, ilmu dan emosi). Pertama, ethos (etika/akhlak). Jika ditinjau dari perspektif komunikasi Islami, maka komunikator (subyek/pelaku komunikasi) harus menjunjung tinggi etika (akhlakul karimah) dalam menyampaikan pesan. Ia tidak boleh menggunakan simbol-simbol atau kata-kata yang kasar, yang menyinggung perasaan komunikan (obyek/sasaran komunikasi) atau khalayak. (Abdul Muis: 2001).
Al-Qur’an memerintahkan kita “Ucapkanlah yang baik kepada sesama manusia.” (QS. al-Baqarah: 83). Rasulullah Muhammad juga memperingatkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam saja.”dan “Muslim-yangsebenarnya-adalah jika muslim yang lain merasa tenteram dari perkataan dan perbuatannya.”
Selain itu, dalam menghadapi beragam segmen komunikan, komunikator harus memperhitungkan-maaf-sikontolpanjang (situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauannya), agar tidak termasuk pada kategori-meminjam istilah M.H. Said Abdullah-ahlul fitnah waljamaah.
Kedua, diperlukan logos (ilmu) yang memadai karena berkomunikasi membutuhkan ilmu dan strategi yang tepat. Dalam Islam, ada dua kata kunci yang mengarah kepada komunikasi; al-bayan dan al-qawl. Melalui keduanya itu-terutama al-qawl-terdapat cara atau etika berkomunikasi yang bermacam-macam bentuknya.
Komunikator harus mengetahui dan mengamalkan al-bayan dan al-qawl secara cermat. Al-bayan di dalam Al-Qur’an terdapat dalam tiga ayat, yaitu Ali Imron: 138, al-Rahman: 4, dan al-Qiyamah: 19. Seperti “Dia (Allah) mengajarkan manusia pandai berbicara/berkomunikasi.” (QS. al-Rahman: 4).
Sementara kata al-qawl bergandengan dengan kata lain yang menyifatinya, seperti qawlan sadidan (perkataan yang benar; QS. al-Nisa’: 9), qawlan maysuran (perkataan yang pantas; QS. al-Isra’: 28), qawlan ma’rufan (perkataan yang baik; QS. al-Nisa’: 5), qawlan layyinan (perkataan yang lemah lembut; QS. Thaha: 44), dan qawlan kariman (perkataan yang mulia; QS. al-Isra’: 23). (Mujamil Qomar: 2007). Komunikasi yang dilandasi al-bayan dan al-qawl secara benar pasti faktual (bukan hoax), beretika, dan menghindari penyebab disharmoni.
Dan ketiga, dibutuhkan pathos karena berkomunikasi dengan pihak lain melibatkan emosi. Komunikator harus pandai mengontrol emosinya. Emosi negatif yang tak terkendali akan dilampiaskan dengan ujaran kebencian(hate speech), tulisan dan lain sebagainya yang egoistisdan sarkastis. Terlebih jika menyangkut suku, adat, ras dan agama (SARA).
Visi Profetik Dakwah Islam
Dakwah Islam harus berprinsip pada-sebagaimana yang digagas oleh Kuntowijoyo-visi profetik (visi kenabian), yakni humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (pembebasan), dan transendental (membawa manusia kepada Tuhan). Selayaknya, para da’i menjadikan ketiganya sebagai pesan utama yang disampaikan kepada jamaahnya.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia karena Allah memuliakannya. (QS. Al-Isro’: 80). Maka, dengan alasan apakah kita-selaku sesama makhluk-Nya-merendahkan harkat dan martabat manusia lainnya? Islam mengajarkan akan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia serta menoleransi kemajemukan. Karena merupakan sunnatullah dan “keputusan Ilahi” bahwa manusia diciptakan berbeda; Laki-Perempuan (gender), suku dan bangsa dengan tujuan agar saling mengenal (ta’aruf).Dan merupakan sebagian tanda kebesaran Allah adalah perbedaan bahasa dan warna kulit (QS. Ar-Rum: 22), bahkan agama dan kepercayaan. (QS. Al-Kafirun: 6). Hanya tingkat transendensi (ketaqwaan)nya semata yang menentukan ranking manusia di hadapan Allah (QS. Al-Hujurat:13).
Islam hadir untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan yang acapkali berkelindan sebagai sebab akibat. Kebodohan penyebab kemiskinan atau karena miskin menjadi bodoh. Kemiskinan yang berdaulat di atas kebodohan ibarat “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Bahkan, kemiskinan cenderung kuat merobohkan keimanan seseorang. “Kefakiran bisa mendekatkan kepada kekufuran”.
Jika penceramah agama sudah memenuhi hal-hal tersebut, masihkah diperlukan sertifikasi.

                                                                                                    ————- *** ————–

Tags: