Polsek Dau Kota Batu Bongkar Pembuat Upal

Kapolsek Dau, Kompol Endro Sujiat, menunjukkan upal yang disita dari tangan tersangka.

Kota Batu, Bhirawa
Warga Malang Raya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya harus lebih waspada saat menerima pembayaran dengan menggunakan uang pecahan seratus ribu Rupiah. Hal ini menyusul terungkapnya pembuatan uang palsu (upal) yang dilakukan di salah satu rumah di Perumahan Landungsari Asri. Atas terungkapnya kasus ini, seorang mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Malang, diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka.
Diidentifikasi tersangka bernama Revangga Brama Eka Putra, 22 th, warga Kabupaten Tuban. Ia ditangkap di kamar kosnya yang ada di kompleks Perumahan Landungsari Asri. Saat digeledah, petugas menemukan uang palsu pecahan Rp100 ribu sebanyak 154 lembar atau Rp15,4 juta. “Sebagian uang ditaruh di lemari, laci, dan dompet milik tersangka,”ujar Kapolsek Dau, Kompol Endro Sujiat, Selasa (24/1).
Sebanyak dua lembar upal atau sebesar Rp200 ribu telah digunakan tersangka untuk membeli HP Iphone 5 seharga Rp1,75 juta. Tersangka melakukan transaksi melalui online yang dilanjutkan dengan bertemu di daerah Landungsari. Dalam pembayaran hanya 2 lembar upal yang digunakan, sedangkan selebihnya uang asli.
Korban yang merasa dibayar uang palsu kemudian melapor ke Polsek Dau. Setelah dilakukan penyelidikan tersangka berhasil ditangkap di kamar kosnya.
Pengakuan ke petugas, tersangka mengawali aksinya dengn mendownload gambar uang pecahan Rp100 ribu dari internet. Kemudian dicetak melalui printer di kamar kosnya menggunakan bahan dari kertas HVS. Setelah di print cetakan uang dipotong sesuai ukuran uang asli.
Lantaran dirasa mirip dengan uang asli, tersangka yang juga mahasiswa semester 4 ini menggunakan uangnya untuk tambahan beli HP.
“Uang hasil cetakan tersangka sekilas terlihat seperti asli, tapi setelah dipegang sangat berbeda dan mencolok. Kalau uang asli sedikit kasar, ini malah halus. Nomor serinya sama, tetapi tidak ada gambar yang timbul,” jelas Endro.
Tersangka mengaku awalnya sekadar coba-coba. Ia pun ditangkap sehari setelah membeli HP dari korban.
“Hanya coba-coba. Juga karena butuh tambahan uang untuk beli HP,” akunya dengan wajah ditutupi. Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal UU nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman 10 tahun kurungan penjara dan denda sebesar Rp10 miliar. [nas]

Tags: