Pengrajin Bulu Ayam Asal Paowan Situbondo

Hj. Massusi saat membingkai hiasan dinding dari bulu ayam, di halaman rumahnya di Dusun Locancang, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Situbondo. [sawawi]

Hj. Massusi saat membingkai hiasan dinding dari bulu ayam, di halaman rumahnya di Dusun Locancang, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Situbondo. [sawawi]

Kesulitan Bahan Baku dan Kewalahan Layani Pesanan dari Bali
Situbondo, Bhirawa
Bulu ayam yang berserakan di tanah bagi sebagian besar masyarakat dianggap barang benda tidak berguna atau sampah yang mengotori lingkungan. Tapi ditangan orang kreatif bulu ayam itu bisa disulap menjadi kerajinan yang bisa menjadi sumber mata pencaharian.
Wanita paruh baya itu terlihat sibuk mengumpulkan bulu ayam yang ada di bakul besar, dengan telaten ia merangkai bulu yang sudah diberi warna pink itu menjadi hiasan dinding yang sangat cantik yang memiliki daya jual.
Itulah aktifitas sehari-hari Hj Massusi, warga Paowan Situbondo itu setiap hari berkutat dengan ribuan bulu ayam dengan beraneka warna. Bersama puluhan warga sekitar mereka harus kerja keras untuk memenuhi pesanan dari pembeli.
Pekerjaan ini sudah dilakoni Hj Massusi bersama para pekerja selama 16 tahun terakhir, persisnya awal tahun 2000 silam. Tiap-hari, Massusi harus menghadapi pekerjaan yang butuh ketelitian merangkai bulu ayam. Bahkan siang itu, dia bekerja di halaman rumahnya dengan tiga orang karyawannya.
Ia mengaku, hiasan dari bulu ayam terinspirasi dari pengalaman saat ia jalan-jalan ke Bali tahun 2000 lalu. Saat itu tidak sengaja dia melihat ada sebuah rumah yang dihiasi dengan aneka bulu ayam. Nah Sepulang dari Bali itulah, dia mulai berencana membuka usaha hiasan dari bulu ayam. “Niat saya semakin kuat saat berpapasan dengan perempuan yang menggunakan asesoris bulu di Situbondo,” ujar Massusi.
Dengan modal nekat Massusi akhirnya memutuskan untuk mencari literatur tentang hiasan bulu ayam diberbagai lokasi. Karena masih sedikit, dia harus memutar otak untuk membuat hiasan ala kadarnya sesuai dengan imajinasi Hj Massusi. “Dulu waktu pertama saya sangat lama membuat sebuah hiasan. Karena saat itu harus mencari model hiasan apa yang akan saya buat. Sebaliknya saat ini sudah lumayan cepat kerjanya, tetapi harus dengan teliti,” papar Hj massusi.
Ia mengkisahkan, awal mula dia membuat kerajinan bulu ayam terbuat dari bahan dasar menggunakan kemucing. Bahkan, Massusi harus banting tulang untuk keliling menjual hasil produksi home industrinya. Dari upayanya itu, akhirnya Massusi mulai merasakan hasil dari buah karya hiasan bulu ayam tersebut. Seiring berjalannya waktu, Massusi harus mencari hubungan bisnis yang bisa menyediakan bulu ayam. Dengan penuh semangat, dia kemudian menemukan teman bisnis yang tepat. “Setelah ada beberapa langganan, saya mulai memproduksi dan tidak berjualan keliling lagi. Pembelinya sementara ini terbanyak dari Bali. Tapi ada beberapa Kota lain yang ikut juga memesan,” akunya.
Banyaknya orderan hiasan bulu ayam membuat Massusi belakangan ini cukup kewalahan. Dia akhirnya mempekerjakan sejumlah warga sekitar untuk ikut merangkai hiasan bulu tersebut. Sejak ada pelanggan tetap, kata Massusi, ia mulai mempekerjakan beberapa warga sekitar untuk membuat hiasan dan kemucing. “Saat ini stok bulu ayamnya agak susah. Makanya kami mencari partner pemasok buu ayam,” jelasnya.
Massusi menambahkan, agar tetap eksis mempertahankan pembeli hiasan bulu ayam, ia semakin memanjakan pembeli yaitu menerima pemesanan hiasan dengan model-model tertentu. Bahkan, dia juga menerima pesanan hiasan dengan model apapun sepanjang ada sampelnya. “Untuk namanya tetap hiasan bulu ayam. Cuma modelnya banyak. Kalau yang saya pegang ini model laba-laba. Ada hiasan yang untuk dinding rumah, ada juga yang untuk pakaian. Khusus untuk pakaian ordernya masih belum bisa melayani sistem borongan,” ungkapnya.
Massusi menandaskan, menggeluti bisnis bulu ayam kini sudah menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Sebab, pekerjaan itu tidak hanya bisa dilakukan oleh perempuan. akan tetapi beberapa kaum lelaki juga ada yang ikut bekerja merangkai hiasan bulu ayam. “Warga disini sudah banyak yang ikut membuat kerajinan hiasan dari bulu ayambikin. Pekerjaannya memang rumit karena harus memasang asesoris dan mengikat ujung bulu. Tapi buktinya ada banyak warga yang ikut bekerja,” pungkas Massusi. [awi]

Tags: