Hitam Putih Islam Nusantara

rizka-alifahOleh :
Rizka Alifah
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Sejenak ketika menyelami sejarah peradaban islam, maka tentu tak akan luput dari kejayaan ummat islam. Kemajuan di bidang keilmuan, perekonomian, dan bahkan kebudayaan di masa lalu, telah mengantarkan islam ke depan pintu gerbang keemasan. Berbagai prestasi yang telah ditorehkan, sedikit banyak telah menyita perhatian ummat-ummat sekarang hingga mencapai romantisme yang berkelindan.
Lepas dari gegap gempita peradaban islam tersebut, setidaknya perkembangan islam di dunia telah berkembang sangat signifikan. Sehingga secara kuantitas, ummat islam telah mampu menempati posisi kedua setelah ummat kristiani. Namun banyaknya kuantitas ummat islam tersebut, tidak membuat masyarakat muslim hengkang dari berbagai permasalahan. Akan tetapi, karena tidak diimbangi dengan kualitas yang memadai, realitas demikian mengakibatkan perpecahan umat yang tak bisa dihindari.
Romantisme Masa Lalu
Islam adalah agama samawi terakhir yang turun kepada nabi Muhamad SAW, dengan pedoman kitab al-Qur’an, pada tahun 622 di Jazirah Arab. Meskipun begitu, tidak dipungkiri dalam hadist nabawi disinyalir bahwa islam kelak akan terbagi menjadi 73 golongan, dan yang selamat hanyalah satu golongan, yaitu ahlu as-sunnah wa al-jamaah.
Perkembangan kuantitas golongan islam atau perpecahan ummat islam, telah berlangsung setelah Rasululloh SAW wafat. Tepatnya saat berkobar perang syiffin (perang antara sahabat Ali bin Abi Thalib melawan Muawiyah bin Abu Sofyan). Saat itu, ummat islam pecah menjadi 3 golongan, yaitu: syiah, khowarij, dan golongan murjiah.
Kemudian setelah berakhirnya perang syiffin-masih pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib-terjadi pula perang saudara antara Ali bin Abi Thalib melawan Aisyah RA, yang lebih dikenal dengan perang Jamal. Serangkaian peperangan tersebut, pada akhirnya membagi islam menjadi beberapa golongan. Hingga kini islam terus bercabang bahkan dari tiap cabangnya tumbuh lagi lebih banyak ranting. Terlepas dari konteks demikian, kembali merujuk kepada hadist nabawi bahwa islam akan terbagi menjadi banyak golongan dan yang selamat hanya ahlu as-sunnah wa-aljamaah.
Taqlid versus Ijtihad
Ahlu as-sunnah wa al-jamaah adalah golongan yang selalu mengikuti perilaku (sunah) nabi dan para sahabatnya. Hal ini dibenarkan karena islam adalah agama mutawatir. Namun paham ini juga tak bisa ditelan mentah-mentah. Keadaan ummat terus mengalami perkembangan. Perdebatan masalah yang muncul tidak semuanya terjawab secara eksplisit dalam dalil naqli (Al-Qur’an dan hadist). Perlu adanya menggali hukum langsung dari Al-Qur’an dan sunnah (Ijtihad). Namun para pembaharu pencetus paham ini sering disebut sebagai ahli bid’ah dan sesat.
Karena ketakutan akan label tersebut maka dalam prakteknya, kebanyakan masyarakat hanya melaksanakan taqlid buta yaitu mengikuti orang lain tanpa mencari dalil yang digunakan. , baik secara ijmali (global) maupun tafsili (terperinci). Nah, inilah yang harus ditelaah lebih dalam. Sebab, Imam Sanusi dan Ibnu Arabi di dalam kitab Khifayatul Awam menyebutkan bawa imannya orang yang hanya taqlid itu ditolak. Jumhurul ulama pun menyatakan bahwa iman seseorang dapat diterima, jika mereka mengetahui dalil secara ijmali saja.
Beragamnya madzhab, ideologi, serta aliran yang berkembang di seluruh dunia menyebabkan banyaknya perbedaan pendapat dalam ritual ibadah mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Para ulama bersepakat mengamalkan salah satu pendapat dari berbagai pendapat yang ada sama sekali tidak mengurangi nilai sahnya ibadah.
Misal di Indonesia ada dzibaan, sekaten, tahlilan, sedekah bumi, larangan memotong sapi dan lain-lain. Sehingga muncul kecaman terhadap saudara seiman dengan tuduhan sesat, kafir, ahli bid’ah, syirik dan lain sebagainya. Tidak dibenarkan menuduh saudaranya kafir. Seorang hamba tetap muslim selama masih ada iman dalam dirinya. Praktek ibadah di Indonesia tadi hanyalah hasil diskusi antara adat dan syariat. Hal ini diperbolehkan selama tidak ada unsur menyekutukan-Nya.
Kebersamaan Toleransi dan Fanatisme
Toleransi (KBBI) dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh. Kata yang selalu digembor-gemborkan sebagai dasar pergaulan antar ummat muslim. Namun dalam pelaksanaannya tidak bisa dijalankan bersamaan dengan fanatisme (kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran politik, agama , budaya dan lain-lain).
Kedua hal tersebut sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, selama tidak berlebihan. Namun fakta membuktikan sebaliknya, yang terjadi adalah multi-Islam yang kita temui sekarang ini. Toleransi yang berlebihan, akan menciptakan aliran islam yang tidak islami bahkan cenderung sesat. Seperti yang kita kenal di Jawa ada abangan. Sementara, intoleransi dalam islam membawa islam menjadi agama Radikalisme.
Ada jalan lebih baik daripada fanatisme dan toleransi yang berlebihan, yaitu keterbukaan yang berdasar. Keberagaman bukanlah sesuatu yang selamanya buruk jika seorang hamba mampu memandang segala sesuatu melalui kaca mata hitam putih. Akan lebih baik jika kita menjadikan keberagaman itu sebagai sesuatu yang memperkokoh ummat islam dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dengan kata lain, sebuah golongan telah sungguh-sungguh mengamalkan toleransi dan fanatisme saat mereka meyakini bahwa”Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafii. Karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik-Nya. Sebagai hamba kita tidak akan mungkin menjadi benar 100%. Kita hanya mampu berusaha menjadi limit mendekati kebenaran (Imam Ghozali).
Wallahu a’lam bi al-showab.

                                                                                                            ———– *** ———–

Rate this article!
Tags: