Berhasil Temukan Struktur Situs Batu Bata Kuno di Tengah Hutan Baluran

Irwan Rakhday bersama Teguh, aktivis pecinta cagar budaya Situbondo saat meninjau penemuan struktur batu bata di kawasan tengah hutan Baluran baru-baru ini. [sawawi]

Irwan Rakhday bersama Teguh, aktivis pecinta cagar budaya Situbondo saat meninjau penemuan struktur batu bata di kawasan tengah hutan Baluran baru-baru ini. [sawawi]

Mengikuti Ekspedisi Aktivis Pecinta Cagar Budaya di Situbondo
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Kiprah aktivis pecinta cagar budaya Situbondo pimpinan Irwan Rakhday sudah banyak mengungkap temuan barang kuno yang ada di berbagai titik pedalaman Kota Santri. Yang terbaru, para pecinta cagar budaya itu berhasil menemukan tumpukan batu bata kuno di tengah Hutan Baluran Situbondo, di mana terdapat struktur batu-bata yang berukuran jumbo. Tatanannya tampak tersusun rapi hingga berbentuk sebuah kuburan kuno. Ini terungkap saat tim aktivis cagar budaya Situbondo melakukan ekspedisi baru-baru ini. Hasilnya mereka bersama masyarakat setempat meyakini temuan baru tersebut sebagai sebuah tempat kuburan kuno.
Pagi itu tim yang terdiri dari 5 orang menyelusuri sebuah kawasan yang penuh semak belukar menjulang tinggi di tengah Hutan Baluran Situbondo. Semak-semak itu bahkan menutupi pandangan mata para aktivis yang notabene berusia muda. Maklum jejeran batang-batang pohon yang menjulang tingginya setara pria dewasa harus disingkap agar perjalanan bisa lancar. Belum lagi pepohonan yang menjulang tinggi tersebut juga ikut mengganggu pemandangan tim tersebut.
Setelah perjalanan sekitar satu jam, mulai masuk ke kawasan semak-semak berukuran lebih pendek. Makanya, perjalanan bisa dilanjutkan dengan lebih mudah. Apalagi di depan terdapat tanah lapang mirip sebuah lapangan sepak bola. Hingga akhirnya sampai pada kawasan penemuan situs kuburan kuno yang ada di tengah Hutan Baluran. Setelah menapaki perjalanan ekspedisi, tim sempat beristirahat sejenak guna melepas penat setelah berjalan berjam-jam lamanya.
Itulah secuil potret aktivis cagar budaya Situbondo saat melakukan ekspedisi menjelajahi bagian tengah Hutan Baluran belum lama ini. Pada saat matahari sangat terik, perjalanan tim ekspedisi sudah ditempuh sekitar tiga kilometer dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Pada jarak ini, ada hal menarik yang membuat tim harus berhenti. “Kami menemukan sebuah struktur batu-bata berukuran jumbo. Yang lebih menarik, bata-bata tersebut disusun menyerupai kuburan dengan memanjang dari utara ke selatan,” aku Irwan Rakhday kepada Harian Bhirawa belum lama ini.
Irwan Rakhday, salah satu tim ekspedisi mengatakan, setelah ditelaah lebih mendalam, situs itu adalah struktur batu bata kuno. Hal itu bisa dilihat dari ciri-ciri dan bentuknya yang agak besar jika dibandingkan ukuran batu bata pada umumnya. “Ukurannya berdiameter sekitar 22 cm. Makanya ini beda ya,” papar pria asal Desa Bantal Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo itu.
Masih kata Irwan, penduduk setempat menyebut temuan tersebut dengan nama Makam Kinamli. Bahkan warga sekitar juga meyakini pada tatanan struktur batu-bata tersebut ada orang yang dikuburkan. “Keyakinan warga ini diakui sudah turun temurun beberapa tahun silam,” jelas Irwan.
Dia mengatakan, tim belum bisa memastikan apakah itu sebuah makam atau bukan meski ciri-cirinya tidak jauh berbeda. Ia mengaku masih membutuhkan pengkajian lebih mendalam untuk membuktikan temuan barunya tersebut. Kata Irwan, dirinya merasa aneh atas temuan struktur batu bata karena berada di tengah- tengah hutan dan sudah ditata sangat rapi. “Ini menjadi sebuah PR buat tim aktivis pecinta cagar budaya Situbondo untuk terus melakukan penelusuran secara mendalam,” papar Irwan.
Kolega Irwan, Teguh juga memiliki pengakuan yang sama perihal tumpukan batu bata kuno di tengah hutan Baluran Situbondo kemarin. Lelaki dengan paras kalem itu menuturkan bahwa informasi yang didapat dari beberapa sumber, struktur batu bata dengan bentuk yang sama ternyata tidak hanya ada di satu tempat saja. Melainkan, ujar Teguh, juga ada di beberapa lokasi di sekitar tengah Hutan Baluran Situbondo.  “Menurut informasi yang saya terima, katanya batu bata itu sudah ada yang rusak karena ditabrak banteng. Kami akan mengecek kembali kebenaran kabar itu dalam ekspedisi yang kedua kalinya dalam waktu dekat ini,” imbuh Teguh.
Teguh mengaku terus terang upaya pencarian serta perburuan benda-benda peninggalan sejarah itu memang menjadi salah satu agenda rutin para aktivis cagar budaya Situbondo. Tujuannya, papar Teguh, untuk mengamankan situs tersebut agar tidak dirusak oknum warga yang tidak bertanggung jawab. “Yang jelas, kami  akan intens menginventarisir temuan situs kuno agar bisa lestari sebagai cagar budaya Situbondo,” pungkas Teguh.[Sawawi]

Tags: